NAVIGASI

Showing posts with label OPINI. Show all posts
Showing posts with label OPINI. Show all posts

Saturday, 21 April 2012

Mimpiku Bertemu R.A.Kartini


Malam tadi aku bermimpi bertemu dengan KARTINI, ia tiba-tiba mendatangi aku yang sedang duduk menghadapi meja kerja, di depan laptop yang sedang menyala. Wajahnya ayu Ajhari (Ayu sekali). Baju kebaya putih dan kain batik khas jepara membungkus tubuhnya yang tinggi semampai. Melangkah melenggok dengan gaya kewanitaan yang ketal sekali. Justru gaya berjalan yang seperti itu sekarang jarang aku lihat di kalangan wanita-wanita modern yang konon sangat memuji kiprah sang KARTINI.
1.       KARTINI : “Benda apa itu….?” (sambil jarinya yang lentik menunjuk ke laptop)
2.       AKU          : “Ini laptop. Jamanmu, benda seperti ini pasti belum ada, kan..?”
3.       KARTINI : “Apa gunanya?”
4.       AKU          : “Banyak kegunaanya. Salah satunya, yah untuk menulis.”
5.       KARTINI : “O…. ini toch yang membuat tulisan tangan orang-orang modern tidak  sebagus tulisan tangan orang-orang doeloe.”
6.       AKU          : (Terdiam, ingat tulisan tanganku yang mirip cakar ayam.) “Tapi isi tulisannya lebih canggih dibanding isi tulisan jaman ibu kan ?”
7.       KARTINI : “Tidak juga tuh. Buktinya tulisanku yang hanya sekedar kumpulan surat saja masih jadi kebanggaan bangsa sebesar Indonesia. Iya toch..? Terus isi surat wanita jaman sekarang kemana saja tuh…?”
8.       AKU          : “Wanita jaman sekarang tidak pernah menulis surat, mereka lebih aktip menulis status di facebook dan tweet di dejejaring sosial yang sangat mendunia.”
9.       KARTINI : “Dan isinya hanya sekedar curahan hati tentang cinta, rindu, dan keluh kesah yang merendahkan kaum wanita itu sendiri. Atau cuman ajang memsang wajah hasil jepretan kamera HP. Norak…”
10.    AKU          : “Kok ibu Kita Kartini ini faham juga soal facebook dan twitter…? Punya akun facebook dan twitter juga yah…?”
11.    KARTINI : “Sebagai wanita pejuang kesetaraan hak. Perlu juga dong mengikuti jaman, japi manfaatkan kemajuan jaman itu dengan hal-hal yang bermanfaat.”
12.    AKU          : “Iya deh, sang pahlawan wanita yang selalu diperingati meriah setiap tahun oleh para wanita di negara Indonesia.”
13.    KARTINI : “Apa kamu piker aku bangga diperingati seperti itu…?”
14.    AKU          : “Memangnya Ibu tidak suka yah diperingati seperti itu…?”
15.    KARTINI : “Itu seremonial yang menurut saya kurang paham akan esensi perjuangan saya.”
16.    AKU          : “Maksud Ibu…?”
17.    KARTINI : “Mereka hanya sibuk memakai kebaya saat memperingati hari Kartini saja. Sementara aku setiap hari harus pakai kebaya.”
18.    AKU          : “Oohhh…”
19.    KARTINI : “Cara berpakaian kabayanya pun seenake dewe, berantakan tidak karuan. Itu pun boleh nyewa di salon dengan harga yang termurah. Seharusnyakalau bangga akan perjuangan saya, mereka harus mempunyai kebayaala Kartini dong di rumahnya.”
20.    AKU          : (Hanya manggut-manggut sambil tersenyum kecil mengingat peringatanhari Kartini kemarin pagi) “Tapi ibu bangga kan melihat kaum wanita sekarang..?”
21.    KARTINI : “Nda juga tuh.”
22.    AKU          : “Kenapa…?”
23.    KARTINI : “Masih banyak kaum wanita yang kebablasan.”
24.    AKU          : “Kebablasan bagaiamana…?
25.    KARTINI  : “Perjuanganku kan ingin agar wanita dihargai keberadaannya oleh Kaum pria, dapat menentukan nasib, mempunyai kesempatan bersekolah, dan ide pendapatnya bisa diterima secara sama seperti kaum pria.”
26.    AKU          : “Sekarang menurt ibu sudah tercapai kan…?”
27.    KARTINI  : “Kebablasan..!!” (Diam Sebentar) “ Sekarang kesannya wanita ingin menyamai segala-galanya dengan kaum pria. Mereka bersaing agar dipersamakan segala-galanya dengan kaum pria.”
28.    AKU          : “Tapi memang itu kan esensi perjuangan ibu…?”
29.    KARTINI : “Bukan…!! Sama sekali bukan..!!”
30.    AKU          : “Terus apa dong esensi perjuangan ibu sebenarnya…?”
31.    KARTINI  : “Wanita tetap menjadi wanita secara kodrat dan tanggung jawabnya. Ia tidak boleh berubah menjadi laki-laki. Tidak boleh menjadi imam bagi laki-laki. Saya hanya menginginkan agar wanita tidak lagi dipaksa kawin dengan lelaki bukan pilihannya. Mendabakan adanya kesempatan wanita untuk berwawasan luas. Menginginkan adanya keleluasaan wanita itukut andil dalam menentukan nasib dirinya sendiri, keluarganya, bangsa dan negaranya. Tapi harus tetap sadar akan kodrat kewanitaanya.”
32.    AKU          : “Saya kurang pahambu. Dan saya yakin wanita Indonesia juga kurang paham keinginan ibu.”
33.    KARTINI : “Misal. Di rumah tangga. Wanita harus tetap menjadi ibu rumah tangga, mengurus semua kewajibannya sebagai seorang ibu dari anak-anaknya dan istri dari suaminya. Sedangkan suaminya, tetap menjadi kepala rumah tangga yang berkewajiban mencari nafkah, untuk menghidupi istri dan anaknya.”
34.    AKU          : “Terus letak emansipasinya dimana…?”
35.    KARTINI  : “Waktu memilih calon suami, wanita harus memiliki kebebasan untuk menentukan pilihannya. Saat menjadi istri, wanita diberi kebebsan menyampaikan ide dan pendapatnya, bagaimana caranya agar rumah tangga berjalan dengan baik, dapat mendidik anak dengan baik. Dapat menerapkan segala ilmu dan pengetahuannya untuk mendidik anak agar menjadi anak yang sholeh dan sholehah.”
36.    AKU          : “Ooo…!! Terus bagi wanita karier..!!”
37.    KARTINI  : “ Wanita tidak diberi kewajiban menafkahi keluarga. Karena itu semuasudah menjadi tugas dan kewajiban suami. Selama suaminya bisa memenuhi semua kewajibannya, mengapa istri harus ikut bekerja..? Dunia hanya sementara. Walau sekaya apapun kita, pasti akan ditinggalkan saat kita kembali ke pada-Nya.”
38.    AKU          : “Berarti kalau suaminya, tidak bekerja, baru dia boleh menjadi wanita Karier, demi mencari nafkah untuk keluarganya.”
39.    KARTINI  : “Itu yang saya bilang kebablasan.”
40.    AKU          : “Maksudnya…?”
41.    KARTINI  : “Saat suami terpaksa menganggur karena suatu kendala tertentu, istri berperan mencarikan jalan, memotivasi, membantu moril dan material agar suaminya bisa bangkit kembali. Bukan malah mengantikan poisi suaminya. Istri bekerja, dan suaminya di rumah mengantikan perannya sebagai ibu rumah tangga. Itu salah besar, toch…!”
42.    AKU          : “Kecuali, suaminya sakit yang tidak kunjung sembuh, yah..?”
43.    KARTINI : “Itu pun bukan berarti otomatis harus ditinggal di rumah sementara istrinya bekerja di luar. Ciptakan wirausaha yang bisa dikerjakan di rumah, buat warung misalnya, buat kerjianan misalnya, agar istri tetap bisa melaksanakan kewajibannya.”.
44.    AKU         :Tapi apakah para wanita Indonesia paham akan semua itu….” 

Aku terus merenung, saking serisunya merenung, tampa sadar Ibu Kita Kartini yang menemui aku itu telah pergi entah kemana. Aku memanggil-manggilnya dengan suara keras, dan yang datang malah istriku dengan wajah cemburu. Dibenaknya tertanam curiga, jangan-jangan aku sedang bermimpi dengan pacar lamaku yang juga bernama Kartini.

Aku pun segera bangun dari tidur. Sebenarnya masih banyak yang ingin aku tanyakan pada Pahlawan Wanita R.A. Kartini yang hadir dalam mimpiku itu. Tapi mimpi tetaplah mimpi. Tak bisa disambung lagi.

Thursday, 15 March 2012

Pilsafat Lilin Untuk Pemimpin Masa Depan

Dalam hidup banyak penomena yang terkdang tanpa kita sadari ternyata mengandung makna mendalam yang tercermin dari sebuah benda. Makna mendalam yang jika dengan cermat, arif  dan seksama kita terjemahkan, bisa saja menjelma menjadi sebuah kandungan makna pilosofi hidup yang dapat dijadikan cermin untuk kehidupan manusia. Baik itu kehidupan secara individu maupun kehidupan sebagai mahluk sosial.

Coba saja sekarang kita cermati bersama-sama mengenai kehadiran sebuah lilin di tengah-tengah kehidupan kita. Benda yang dibuat dengan model, bentuk dan ukuran disesuaikan dengan kebutuhan dan peruntukkannya itu sungguh sangat khas, unik dan mempunyai kegunaan yang bisa jadi sangat dibutuhkan oleh manusia disaat-saat tertentu.

Menilik pada warnanya, lilin tidak pernah luntur walau terkena air dan sinar matahari. Ia tidak penah merubah warnanya menjadi warna sesuka hatinya atau demi beradaptasi dengan lingkungannya.Jika warnanya putih, kemarin, hari ini, esok dan lusa ia tetap berwarna putih. Beda dengan pemimpin-pemimpin di negara kita. Seperti binatang mimikri, ia selalu berubah-ubah warna demi menyesuaikan diri dengan kualisinya, kepentingan partainya, kepentingan koleganya, dan kepentingan-kepentingan lainnya diluar kepetingan tugas kepemimpinannya itu sendiri. Jika saja pemimpin masa depan negara kita mau sedikit memaknai pilosifi lilin tersebut maka ia akan mempunyai keteguhan pendirian yang kuat, tidak mudah berubah walau berada dalam lingkungan apa pun. Laksana Lilin yang senantiasa fokus dan konsisiten terhadap warna pribadinya atau karakter dirinya sendiri, tidak plinplan dan tidak mudah terpengaruh oleh kondisi-kondisi yang bisa menodai kepemimpinannya.
.
Lilin hadir saat situasi sangat dibutuhkan oleh manusia. Kehadirannya dapat mengubah gelap menjadi terang saat mati lampu atau saat hendak ke tempat gelap tapi alat penerangan lainnya tidak ada. Artinya kehadiran lilin di tengah-tengah lingkungannya selalu dalam situasi yang sangat dibutuhkan. Karena besarnya kebutuhan saat itu maka lilin senantiasa dapat memenuhi kebutuhan yang diharapkan oleh lingkungannya meski tidak mempunyai kesempurnaan, karena hanya Allah sajalah yang memiliki kesempurnaan itu.Jikaualau pemimpin masa depan kita mampu hadir dan dapat memenuhi kenginan dan kebutuhan rakyatnya dalam menyelesaikan  segala permasalahan di tengah-tengah masyarakat, tentunya negara ini akan semakin membaik dan tujuan kesejahteran masayarakat yang adil makmur bukan hanya diperdengarkan saat upacara bendera hari senin di sekolah-sekolah atau upacara-upacara hari besar nasional saja. Namun kenyataannya masih jauh panggang dari pada api.

Meskipun kecil, Lilin berani berkorban demi kepentingan orang banyak. Hanya demi seberkas cahaya, lilin rela tubuhnya meleleh bahkan lebur tak berbetuk dengan tanpa menuntut balas jasa pada siapapun. Ia ikhlas berkorban demi menerangi lingkungan sekitarnya tanpa membeda-bedakan usia, status ekomomi dan budaya, juga agama, selama dibutuhkan maka ia akan membantunya dengan tanpa pambrih sedikit pun. Pilsafat ini yang paling penting untuk dimiliki sang pemipin masa depan. Bukan pemimpin yang hanya terbar pesona seolah-olah perduli pada kepentingan masyarakat bawah, namun hanya demi pencitraan saja agar mendapatkan simpati dari masyarakat.

Sang Lilin, kehadirannya dapat mengubah gelap menjadi terang, walau tidak seterang bolam listrik, namun lingkungan sekitarnya sangat merasa tertolong dengan pancaran sinarnya. Pemimpin masa depan hendaknya mampu hadir untuk mengubah gelap gulita negara ini dengan secercah cahaya perubahan. Mampu benar-benar memberikan harapan bagi rakyatnya dengan kebijakan-kebijakan yang benar-benar nyata (bukan sekedar janji) mengutamakan kepentingan kesejahteraan, kemakmuran, keamanan, perlindungan hak, pada segenap rakyatnya.

Lilin hadir sesuai dengan kehendak pembuatnya, tidak penah berkeinginan lain di luar tugasnya sebagai lilin. Ini yang tidak dimiliki para pemimpin kita. Saat kampanye, entah berapa janji palsu yang meluncur dari mulutnya demi mendapatkan simpati masyarakat untuk kemudian sudi memilihnya sebagai pemimpin. Namun setelah rakyat menjadikkannya seorang pemimpin, janji-janji itu pun pudar entah kemana? Kepemimpinannya jauh melenceng dari kemauan rakyat sebagai pembuatnya menjadi pemimpin. Baru saja ditahun-tahun pertama, yang menjadi agenda kepemimpinannya adalah memperkuat kualisi dengan partai lain dan merumuskan bagiaman caranya agar tidak dijatuhkan oleh lawan politiknya, di tengah perjalanan, kemudian merencanakan semaksimal mungkin kembali terpilih saat pemilu berikutnya. Sementara kepentingan rakyat hanya sekedar menjadi angenda saja.

Setelah menyelesaikan tugasnya, ia rela digantikan oleh lilin lain. Tidak pernah sedikitpun berkeinginan kembali bangkit berdiri dan berebut posisi dengan lilin yang menggantikkannya. Sifat ini adalah sifat yang sangat berbeda jauh dengan pemimpinan kita. Siapa pun pemimpinnya, kalau perlu seumur hidupnya ia ingin mempertahankan posisi kepemimpinannya. Hanya kematian saja yang ia harap dapat mengakhiri masa jabatannya. Atau minimal tetap mempertahankan posisi teratas partainya. Sehingga dengan segala cara para ponggawa partainya akan menebar pencitraan kepada rakyat, walaupun untuk hal tersebut terkadang justru melukai hati rakyat.Karena yang diperjuangkannya bukan rakyat secara umum, tapi hanya rakyat yang mendukung partainya dan kantong-kantong suara yang telah memilihnya menjadi pemimpin.

Dalam melakasanakan tugasnya menerangi kegelapan, lilin sungguh sangat konsisten dan memiliki dedikasi tinggi. Konsisten artinya dapat melaksanakan tugas sesuai dengan fungsi dan tugasnya sendiri. Berdedikasi artinya, ia melaksanakan tugas dengan sungguh-sungguh sesuai dengan fungsinya sebagai lilin. Meskipun sekitar nyala lilin itu, orang-orang sudah tertidur lelap, lilin tetap saja melaksanakan tugasnya dengan jujur sampai pada batas akhir tugasnya. Diawasi atau tidak oleh orang yang menyalakannya, lilin tetap mampu melaksanakan tugas sampai akhir tanpa pengingkaran terhadap tugas pokoknya menerangi lingkungan. Tanpa penyelewengan-penyelewengan kinerjanya saat melaksanakan tugas. Tanpa pengaruh-pengaruh lain yang dapat mengotori tugasnya.

Lilin tidak mengotori lingkungannya, bakhan bekas lelehannya pun akan sangat mudah dibersihkan dan tidak meluas ke segala arah. Lilin tidak menimbulkan polusi udara yang berlebih yang bisa membahayakan lingkungannya. Kita butuh seorang pemimpin yang memiliki karakter seperti ini. Ia tidak mengotori jabatatannya dengan hal-hal buruk. Tidak mencemari dengan polusi janji-janji, atau ketegasan semu yang lain di mulut lain kenyataanya.Rakyat jenuh dengan dramatisai kepemimpinan yang hanyalah seperti persaingan berebut kursi bagi para pemimpin partai dengan memanfaatkan propaganda pro rakyat. Atau sebuah perjanjian besar antar partai untuk mempertahankan hajat hidup partai masing-masing, dengan berbagi jabatan, poisi dan kedudukan. Sementara bagai api di dalam sekam, baranya sesekali dapat berkobar menghanguskan lawan politiknya. Terus bagaimana nasib rakyatnya kalau pemimpin masa depan masih juga sama seperti itu…?


Friday, 9 March 2012

Kegagalan Garuda, Bukan Titik Akhir Persepakbolaan Indonesia

Lama sudah segenap rakyat Indonesia berharap-harap cemas akan keperkasaan Garuda Indoensia. Setiap ajang pertandingan dinanti dan minati para pecandu jenis olah raga mendunia ini. Garuda senior, U23, U21, tidak dibeda-bedakan oleh para penggemarnya. Asalkan Garuda pasti mendapat dukungan penuh dari rakyat Indonesia dari Sabang sampai Merauke.

Keberhasilan dan kegagalan pada setiap pertandingan, tetap timbulkan motivasi dan rasa optimis yang berkadar sama, seraya menitipkan harap semoga dapat memperbaiki kualitas sang Garuda. Meskipun akhirnya semua rakyat pecinta sang Garuda tetap harus menutupi kekecewaan akan segala pengharapan terjadinya perolehan prestasi maksimal dari perjuangan gigih sang Garuda dengan kalimat “yah…apapun hasilnya, kita tetap harus bangga dengan Garuda.”

Bangga saja rasanya tidak cukup, serentetan kegagalan yang dialami Garuda kebanggaan kita itu semestinya menjadi bahan evaluasi bersama antara pemerintah, PSSI, dan segenap rakyat Indonesia. Potensi pemain baik senior, U23, maupun U21, sudah cukup membanggakan dan berpotensi untuk ditingkatkan semaksimal mungkin, tinggal sitem dan keberanian menentukan tata cara, anggaran, dan kejujuran arah kebijakan yang harus ditetapkan secara konsisten dan konsekuan.

Langkah-langkah tersebut dapat dimulai dengan pembenahan dibeberapa lini kelemahan yang sebenarnya sudah sejak lama disadari oleh semua pihak, baik pemerintah, Organisasi PSSI, maupun segenap masyarakat. Namun secara sederhana, pembenahan tahap awal, saya piker harus dimulai dari titik-titik kebocoran sitem yang saat ini menganggu arah kebijakan persepakbolaan Indonesia, yaitu :
  1. Pembenahan Oraganisasi PSSI. Ini sangat penting dan mendesak sekali. Bagaimana sebuah bidang olahraga dapat berhasil jika induk organisasinya saja carut marut, dan berkutat sekitar memperebutkan legalitas kepemimpinan, perebutan tahta kekuasaan dan merasa paling memiliki suara untuk menentukan arah organisasi.
  2. Terselenggaranya Liga yang bersih dari tujuan-tujuan lain selain demi meningkatkan kualitas persepakbolaan nasional. Belakangan ini insdikasi mulai masuknya politik dalam dunia sepak bola, persaingan bisnis dalam liga, justru mengotori persepakbolaan. Intrik-intrik kepentingan pribadi, golongan, partai dan kekuasaan dibalik liga dan penyelenggaraan kompetisi, menodai harapan masyarakat untuk menyaksikan para pemain terbaik bangsa merajai kompetisi yang mampu mengangkat nama baik Bangsa Indonesia.
  3. Keberanian pemerintah untuk menjadi medioator yang netral, objektif, professional sekaligus mendukung penuh melalui kebijakan-kebijakan sentral ke arah terang benderang kemajuan persepakbolaan. Kelemahan selama ini pemerintah hanya menjadi pendengar setia teriakan masyarakat mengenai idea-idea cemerlang tentang rumusan upaya meningkatkan kualitas persepakbolaan kita. Tapi tidak pernah memdiasi keinginan-keinginan itu menjadi sebuah rembuk nasional demi menemukan formula solusi terbaik demi meningkatkan prestasi persepakbolaan Indonesia.
  4. Menyadari akan kelemahan sekaligus mau memperbaikannya. Selama ini pemerintah, PSSI dan kita semua semua menyadari akan banyaknya kelemahan mengenai persepakbolaan kita, namun hal itu hanya menjadi ajang diskusi terbuka yang menguap tertiup angin kemudian hialang ditelan waktu. Sementara kelemahan tetap saja belum terselesaikan. Ibaran rumah yang atapnya bocor. Kita tahu betul atap rumah kita bocor, tapi setiap hari hanya dikritik dan perbincangkan penyebab dan solusi mengatasi bocor itu tanpa tindakan nyata memperbaiki kebocorannya, maka hasilnya,lama kelamaan justru rumah itu akan semakin rusak, bahkan bisa ambruk rata dengan tanah.
Renungan singkat ini mungkin juga akan sekedar menjadi renungan, namun setidaknya, sebagai
anak bangsa yang mendambakan melihat dunia persepakbolaan Indonesia menjadi lebih baik, tulisan ini dapat mewakili hati nurani saya salaku pecinta Garuda.

Majulah terus Garuda, kepakkan sayapmu dengan gagah perkasa, meski awan dan badai kerap halangi persada. Cinta kami atas keperkasaanmu adalah kesucian harap akan keberhasilanmu mengukir nama dan prestasi. Kasih kami adalah rangkuman do’a semoga kau mampu terbang semakin tinggi dan tinggi lagi, hingga dapat mengejar ketertinggalmu selama ini. Rindu kami kau dapat membawa merah putih seharum bulang melati di setiap tempat hinggapmu, seraya dikumandangkannya lagu kebangsaan Indonesia Raya, sebagai bukti keberhasilanmu. Dan kegagalanmu selama ini duhai Garudaku bukanlah titik akhir persebakbolaan Indonesia.

Wednesday, 7 March 2012

Balada Guru PNS dan SK Pertamanya

Alkisah di daerah-daerah sekitar Bogor. Mungkin juga di daerah-daerah lain di wilayah NKRI yang konon ceritanya terkenal sebagai sebuah negeri yang subur makmur, toto tentrem, gemah ripah loh jinawi ini, ternyata masih banyak terdapat cerita balada memilukan yang cenderung malah mendekati kisah memalukan.

Kisah Balada memilukan tersebut bisa dialami oleh siapa saja, tidak terkecuali dialami juga oleh para Guru PNS di daerah-daerah yang jika menilik janji-janji pemerintah akan ditingkatkan kesejahteraannya.

Mungkin juga benar pemerintah sudah mengupakayan kesejahteraan itu melalui kenaikan gajih setiap tahun, atau dengan pemberian tunjungan profesi guru melalui sertifikasi yang juga penuh lika-liku penuh luka di kalbu para guru. Tapi kesejahteraan itu tidak juga kunjung menghentikan balada para guru di daerah ini.

Saya pernah iseng mengadakan survey kecil-kecilan terhadap 100 orang guru PNS di sekitar wilayah tempat saya bertugas, dan 100% dari 100 orang guru itu, SK CPN dan SK pengangkatan PNS-nya sudah pergi mondok di pesantren Al-BRI, Al-BPD, dan pesantren-pesatren lainnya. Saya sempat pula bertanya alasannya SK-SK itu sampai dibiarkan pergi dari rumah, jawabannya berpariasi, ada yang sekedar berseronok, ada juga yang serius menjawabnya.

“Di sana kan lebih aman, tidak akan dimakan rayap dan terhindar dari musih banjir, kebakaran atau musibah lain yang bisa mengancam keselamatannya.” Itu salah satu jawaban seronoknya.

“Kalau tidak seperti itu, mana mungkin kita bisa punya rumah, kendaraan bermotor, atau barang-barang lain yang kita butuhkan di rumah tangga.” Dan ini jawaban serius dari sebagian mereka.

“Kita kan juga harus meningkatkan profesionalitas kita, pak. Melanjutkan kuliah pasti butuh baiaya, tanah tidak punya yah SK kita itulah sumber penghasilan yang paling menjajikan. Belum lagi untuk anak sekolah dan kuliah. Iya kan..?” Ini jawaban lebih serius lagi sampai mereka melempar kembali pertanyaannya pada saya, karena mereka juga yakin SK Pertama saya sudah tidak ada di rumah.

Kisah balada memilukan ini memang sangat ironis dan kontradiksi dengan gembar-gembor bahwa guru PNS sekarang sudah sejahtera. Namun kenyataannya, kesejahteraan itu hanya gembar dan gembor saja. Masih banyak guru PNS di daerah yang gajihnya, karena harus membayar ke pesantren Al-BRI, Al-BPD dan lainnya itu tidak dapat memenuhi kebutuhannya sehari-hari selama satu bulan. Kemudian solusi termudah ada mencari pinjaman lain di Koperasi Guru demi menutupi lubang-lubang yang menganga yang sering muncul tiba-tiba dan insidentil. Padahal jalan yang sepintas dapat menolong itu kenyataanya malah menambah permasalahan bagi keluarganya. Karena gajih pas-pasan yang sudah dipangkas untuk pesantren malah dicukur habis lagi oleh potongan lain.

Bagi tempat-tempat yang dijadikan lahan mondoknya para SK-SK Pertama para PNS itu tentunya sangat menguntungkan. Setoran perbulan yang dipotong langsung tanpa kompromi itu membuat para pemilik pesantrennya semakin gemuk dan sejahtera. Tentunya akan sangat jauh kesejahteraanya disbanding para Guru PNS yang katanya sudah sejahtera itu. Perjanjian kontraknya pun sangat panjang, kisaran 3 sampai 10 tahun, dengan jumlah setoran bisa mencapai lebih dari 50% dari gajih yang tertera di slip gajih bulanannya.

Dalam kondisi yang memilukan seperti itu, para guru dituntut memiliki kinerja yang maksimal. Rasanya mimpi besar, bagiaman bisa konsentrasi pada kerjaannya, jika sejumlah masalah pemenuhan kebutuhan hidup di keluarganya masih belum tercukupi. Bagiaman mungkin dapat mendidikan anak orang lain dengan maksimal, jika untuk pendidikan anaknya sendiri masih menyisakan persoalan.

Balada memilukan ini terus berjalnjut seperti sebuah jebakan yang menahan para Guru PNS di daerah tidak bisa menemukan jalan ke luar. Kungkungan permasalahan tidak dapat terpenuhinya kebutuhan-kebutuhan hidup itu kemudian membuatnya selalu berfikir untuk membiarkan berlama-lama SK Pertamanya itu tidak kembali ke rumah. Yang ada di rumah hanyalah duplikat hasil kecanggihan mesin poto copy, dan itupun warnanya sudah tidak jelas karena hasil copy yang berulang-ulang.

Kemudian siapa yang bisa mengakhiri balada ini…? Jawabnya pasti diserahkan pada diri sendiri. Atau tunggu jawaan dari rumput yang bergoyang. Dan kita hanya dapat berdo’a, semoga SK-SK pertama para Guru PNS yang pergi ke pesantren itu cepat pulang ke rumahnya masing-masing. Sebab kalau SK-SK itu sudah pulang, tandanya kesejahteraan mulai datang.