NAVIGASI

Wednesday, 14 March 2012

Trik - Trik Sekitar Listrik..”Klik..!!!”

Listrik adalah kondisi dari partikel subatomik tertentu, seperti elektron dan proton yang sangat berbeda dengan sinetron dan merecon. Partikel listrik dapat menyebabkan penarikan dan penolakan gaya, seperti gaya bebas, gaya dada, gaya punggung dan gaya katak. Listrik juga dapat diartikan sebagai sumber energi yang disalurkan melalui kabel, bukan melalui sms ataupun email. Arus listrik timbul karena muatan listrik mengalir dari saluran positif ke saluran negatif. Sehingga positif kali positif sama dengan positif, positif dikali negative sama dengan negative dan negative dikali negative sama dengan positif. Begitu menurut rumus operasi hitung bilangan bulat.

Listrik merupakan saudara kembar tapi beda bapak dan ibu dengan magnetisme atau energi magnet. Listrik membentuk interaksi fundamental yang dikenal sebagai elektromagnetisme. Listrik memungkinkan terjadinya banyak fenomena fisika yang dikenal luas, seperti petir, arus listrik, medan listrik, medan merdeka barat, medan tempur dan durian medan. Listrik digunakan dengan luas di dalam aplikasi-aplikasi industri seperti elektronik dan tenaga listrik, tenaga dalam, dan tenaga kerja luar negeri yang sering dianiaya majikannya pakai gosokan listrik.

Seperti juga teman sebayanya si BBM, si Gas, dan  si Batu Bara yang mempunyai nama kembar berjenis energi, listrik mempunyai keterbatasan kapasitas yang dalam pemakaiannya harus dihemat, yaitu disarankan sehari satu malam cukup satu sendok makan.

Arus listrik secara ilmiah dibedakan dalam dua jenis, yaitu arus listrik statis dan arus listrik dinamis. Kalau menurut Mak Inah ada dua juga yaitu arus listrik gratis dan arus listrik tidak gratis. Arus listrik gratis yang sumbernya diambil secara illegal di tiang listrik, tanpa KWH. kalau arus yang tidak geratis tentunya yang memasang resmi dari PLN.

Banyak potensi negative yang bisa mengancam keselamatan manusia, akibat dari arus listrik. Yang konon lebih membahayakan ketimbang ancaman penomena blog-blog jasa pembunuh bayaran yang sangat meresahkan masyarakat itu. Secara umum ada dua hal yang dapat mengancam keselamatan dan sangat merugikan manusia akibat dari arus listrik diantaranya ;
1.      Kebocoran arus.
Yaitu kabel-kabel litrik yang terlanjang (maaf bukan photo yah) alias bagian dalam kabelnya terbuka akibat dari unsur kelalaian saat menyambung, isolasi sambungannya lepas, digigit tikus, atau mungkin dibuka sendiri oleh kabel itu karena gerah akibat ruangannya tidak ber-AC.

Ancaman buruk karena kebocoran arus listrik ini adalah jika bagian arus positifnya tersentuh oleh kita, maka akibatnya akan patal, bahkan bisa mengakibatkan kematian mendadak dan mengenaskan. Selain itu, kebocoran arus dapat membengkakan biaya pembayaran rekening bulanan. Karena kabel yang telanjang akan selalu aktip mengalirkan listrik walaupun bolam dalam keadaan mati dan sudah disemayamkan di rumah duka.

Kebocoran arus sunggu sangat membahayakan, banyak kejadian orang sedang mandi di kamar mandi dalam rumah tiba-tiba meninggal gara-gara terdapat kabel telanjang dan arusnya masuk ke dalam air dalam bak, sehingga saat orang itu menyendok air dari bak mandi ia tersengat arus listrik dan meninggal.

Atau mungkin juga adanya penyebab lain, misalnya ketika masuk ke kamar mandi lalu membuka pakaiannya, ia terkejut melihat badannya sendiri yang sudah berubah begkak segede gajah.

2.      Konsleting arus pendek
Ini disebabkan oleh adanya pertemuan arus secara tidak nomal akibat sambungan yang longgar atau karat. Kondisi ini dapat menimbulkan percikan api, sehingga bisa mengakibatkan kebakaran. Mengapa kebakaran sangat merugikan ? Karena kebakaran ongkosnya lebih mahal  dibanding ke Bogor atau Ke Bandung.

Ada beberapa Trik-trik bagiaman menolong orang yang terlanjur dengan sengaja  atau pun tidak sengaja tersetrum arus listrik, yaitu,”Klik !!!” :
1.      Jangan sekali-kali korban disentuh oleh anggota badan kita. Apalagi disentuh oleh anggota gerakan pramuka dan anggota-anggota lainnya. Lebih baik ambil lah sebilah bambu atau kayu kemudian pukul kabelnya (maaf jangan orangnya) hingga terlepas dari badan korban. Setelah terlepas segara berikan pertolongan medis sebagai upaya P3K, jika sakit berlanjut hubungi dokter.
2.      Apabila TKP dekat dengan KWH atau sikring, klik !! matikan arus listrik di bok KWH setelah yakin mati, bawa ke rumah duka dan siap dimakamkan di pemakaman umum.
3.      Apabila tidak ada kayu atau jauh dari bok KWH atau sikring, ambil lah kain, bantal asal jangan kasur terlalu berat mengangkatnya, pukul kabelnya hingga lepas.

Karena arus listrik sangat membahayakan manusia, maka ada beberapa Trik-trik agar kita tidak mendapatkan musibah dari arus listri, yaitu “klik…!!” :
  1. Jangan menggunakan listrik di rumah, cukup pakai lilin, obor atau api unggun dari kayu bakar.
  2. Kalau terlanjur memasang listrik, jauhkan stop kontak dan colokan listrik dari jangkauan anak kecil, khawatir anak kesayangan kita iseng-iseng mencolokkan jari telunjuknya yang mungil ke colokkan listrik. Karena dikira lubang hidungnya sendiri yang suka dikorek-korek membersihkan upil.
  3. Yakinkan saat menyambung  kabel terbungkus dengan rapat, tinggal dicari siapa yang mimpin rapat-nya nanti. Terus undangan rapat-nya juga harus segera disebar. Dan sisakan konsumsinya buat saya.

Friday, 9 March 2012

Kegagalan Garuda, Bukan Titik Akhir Persepakbolaan Indonesia

Lama sudah segenap rakyat Indonesia berharap-harap cemas akan keperkasaan Garuda Indoensia. Setiap ajang pertandingan dinanti dan minati para pecandu jenis olah raga mendunia ini. Garuda senior, U23, U21, tidak dibeda-bedakan oleh para penggemarnya. Asalkan Garuda pasti mendapat dukungan penuh dari rakyat Indonesia dari Sabang sampai Merauke.

Keberhasilan dan kegagalan pada setiap pertandingan, tetap timbulkan motivasi dan rasa optimis yang berkadar sama, seraya menitipkan harap semoga dapat memperbaiki kualitas sang Garuda. Meskipun akhirnya semua rakyat pecinta sang Garuda tetap harus menutupi kekecewaan akan segala pengharapan terjadinya perolehan prestasi maksimal dari perjuangan gigih sang Garuda dengan kalimat “yah…apapun hasilnya, kita tetap harus bangga dengan Garuda.”

Bangga saja rasanya tidak cukup, serentetan kegagalan yang dialami Garuda kebanggaan kita itu semestinya menjadi bahan evaluasi bersama antara pemerintah, PSSI, dan segenap rakyat Indonesia. Potensi pemain baik senior, U23, maupun U21, sudah cukup membanggakan dan berpotensi untuk ditingkatkan semaksimal mungkin, tinggal sitem dan keberanian menentukan tata cara, anggaran, dan kejujuran arah kebijakan yang harus ditetapkan secara konsisten dan konsekuan.

Langkah-langkah tersebut dapat dimulai dengan pembenahan dibeberapa lini kelemahan yang sebenarnya sudah sejak lama disadari oleh semua pihak, baik pemerintah, Organisasi PSSI, maupun segenap masyarakat. Namun secara sederhana, pembenahan tahap awal, saya piker harus dimulai dari titik-titik kebocoran sitem yang saat ini menganggu arah kebijakan persepakbolaan Indonesia, yaitu :
  1. Pembenahan Oraganisasi PSSI. Ini sangat penting dan mendesak sekali. Bagaimana sebuah bidang olahraga dapat berhasil jika induk organisasinya saja carut marut, dan berkutat sekitar memperebutkan legalitas kepemimpinan, perebutan tahta kekuasaan dan merasa paling memiliki suara untuk menentukan arah organisasi.
  2. Terselenggaranya Liga yang bersih dari tujuan-tujuan lain selain demi meningkatkan kualitas persepakbolaan nasional. Belakangan ini insdikasi mulai masuknya politik dalam dunia sepak bola, persaingan bisnis dalam liga, justru mengotori persepakbolaan. Intrik-intrik kepentingan pribadi, golongan, partai dan kekuasaan dibalik liga dan penyelenggaraan kompetisi, menodai harapan masyarakat untuk menyaksikan para pemain terbaik bangsa merajai kompetisi yang mampu mengangkat nama baik Bangsa Indonesia.
  3. Keberanian pemerintah untuk menjadi medioator yang netral, objektif, professional sekaligus mendukung penuh melalui kebijakan-kebijakan sentral ke arah terang benderang kemajuan persepakbolaan. Kelemahan selama ini pemerintah hanya menjadi pendengar setia teriakan masyarakat mengenai idea-idea cemerlang tentang rumusan upaya meningkatkan kualitas persepakbolaan kita. Tapi tidak pernah memdiasi keinginan-keinginan itu menjadi sebuah rembuk nasional demi menemukan formula solusi terbaik demi meningkatkan prestasi persepakbolaan Indonesia.
  4. Menyadari akan kelemahan sekaligus mau memperbaikannya. Selama ini pemerintah, PSSI dan kita semua semua menyadari akan banyaknya kelemahan mengenai persepakbolaan kita, namun hal itu hanya menjadi ajang diskusi terbuka yang menguap tertiup angin kemudian hialang ditelan waktu. Sementara kelemahan tetap saja belum terselesaikan. Ibaran rumah yang atapnya bocor. Kita tahu betul atap rumah kita bocor, tapi setiap hari hanya dikritik dan perbincangkan penyebab dan solusi mengatasi bocor itu tanpa tindakan nyata memperbaiki kebocorannya, maka hasilnya,lama kelamaan justru rumah itu akan semakin rusak, bahkan bisa ambruk rata dengan tanah.
Renungan singkat ini mungkin juga akan sekedar menjadi renungan, namun setidaknya, sebagai
anak bangsa yang mendambakan melihat dunia persepakbolaan Indonesia menjadi lebih baik, tulisan ini dapat mewakili hati nurani saya salaku pecinta Garuda.

Majulah terus Garuda, kepakkan sayapmu dengan gagah perkasa, meski awan dan badai kerap halangi persada. Cinta kami atas keperkasaanmu adalah kesucian harap akan keberhasilanmu mengukir nama dan prestasi. Kasih kami adalah rangkuman do’a semoga kau mampu terbang semakin tinggi dan tinggi lagi, hingga dapat mengejar ketertinggalmu selama ini. Rindu kami kau dapat membawa merah putih seharum bulang melati di setiap tempat hinggapmu, seraya dikumandangkannya lagu kebangsaan Indonesia Raya, sebagai bukti keberhasilanmu. Dan kegagalanmu selama ini duhai Garudaku bukanlah titik akhir persebakbolaan Indonesia.

Thursday, 8 March 2012

Sstttt…!! Ini Jangan Dicontoh yah…!!

KKG adalah sebuah acara pertemuan Guru-Guru di Gusus, yang merupakan kependekan dari Kelompok Kerja Guru. Biasanya dilaksanakan paling sedikit dua kali dalam satu Minggu, (bukan dua kali sehari satu sendok makan), dan dilaksanaknya pada hari Sabtu pagi sekitar pukul sepuluh sampai merasa capek. Seperti juga dalam acara-acara pertemuan lain, para guru pun ada saja yang suka membuat diskusi sendiri saat KKG berlangsung. Yang akhinya KKG, berubah menjadi Kongko Kongko Guru . Seperti dilakukan oleh tiga orang guru yang tidak pantas untuk dicontoh, (karena mencontoh itu dilarang saat ujian).

Tiga orang guru yang gagal saat audisi jadi pelawak API TPI itu asik ngobrol di pojokkan ruang pertemuan KKG hari Sabtu ini, mereka sedang asik berbincang-bincang, padahal di depan ketua Gugus sedang membahas hal-hal penting tentang kemajuan professional guru, sampai mulutnya berbusa-busa saking seriusnya.
Pak Dading : “Anak pertamaku sekarang kuliah di UIN” Katanya bangga.
Pak Jay : “Anak pertamaku juga sekarang kuliah di UNJ” Tak kalah bangganya.
Pak Nanu : “Anak pertamaku juga sekarang kuli di rumah UDIN tetangga saya.”
Tiga orang guru yang ngobrol dipojokkan itu pun cecikikkan menahan tawanya sambil menutupi mulut mereka masing-masing dengan telapak tangannya, bukan dengan telapak kakinya. Apalagi dengan telapak kaki temannya.

Obrolan pun berlanujut semakin seru. Tidak perduli nara sumber atau para pemateri KKG sedang membahas berbagai masalah penting mengenai kedisiplinan dan dedikasi kinerja guru dalam melaksan tugas profesinya. Tapi ketiga orang guru itu menggapnya hanya seperti tukang obat kaki lima yang sedang mempromosikan dagangannya.
  1. Pak Jay           : “Aneh yah, harga BBM itu seringnya naik, gak pernah turun.”
  2. Pak Dadang    : “Tapi ada kok yang selalu turun dulu, baru naik..”
  3. Pak Nanu       : “Ahk…masak…! Apaan tuh…?”
  4. Pak Dadang    : “tukang gali sumur.”
Lagi-lagi tiga orang guru yang mulai terlena dengan obrolannya itu cekikikkan menahan tawa, bahkan ada yang kelepasan sampai batuk segala. Malah ada yang tidak kuasa menahan tawa, menimbulkan hujan lokal menyiram muka temannya.

“Ssstttt…!! Jangan Berisik.” Kata salah seorang yang duduk dekat mereka merasa terganggu sambil meletakkan telinjuknya di bibirnya yang hitam karena pecandu rokok keretek. Tapi bukan karena terganggu konsentrasinya dalam menyimak penjelasan pembawa materi, melainkan terganggu karena tidak bisa tidur dengan tenang.

“Eh tahu, tidak.” Bisik Pak Nanu pada dua teman ngobrolnya. “Menurut orang-orang guru itu sama seperti hewan kurban.” Lanjutnya.
  1. Pak Jay          : “Ah masak sih…!!”
  2. Pak Dadang   : “Sama apanya…?”
  3. Pak Nanu      : “Sama-sama dipotong. Kalu hewan kurban dipotong lehernya, Guru dipotong         gajihnya.”
Tiga orang guru itu pun kembali menahan tawanya. Mereka tidak perduli nara sumber KKG yang di depan sudah dongkol melihat tingkah ketiga orang guru itu. Kalau saja murid, mungkin sudah dilempar pakai penghapus atau sepatunya.

Sebentar tiga orang itu pun diam, bukan karena ingin memperhatikan nara sumber menjelaskan materi, tapi menuggu kesempatan nara sumber lengah. Buktinya baru saja suasana sepi berjalan kurang lebih 5 menit, tiga orang guru itu pun melanjutkan candaannya.
  1. Pak Nanu       :”Pilih mana, dapat istri cantik..? Atau gajih besar…?
  2. Pak Dadang   :”Istri cantik, dong.” Jawabnya pasti, maklum guru mata keranjang.
  3. Pak Jay          : “kalau aku gajih yang besar…?” Begitu jawaban guru mata duitan.
  4. Pak Nanu       : “Kalau aku memilih istri cantik yang gajihnya besar…”
Kali ini Pak Jay kelepasan tertawa ngakak, bersamaan dengan itu pas kaca mata nara sumber yang tebalnya hampir lima senti itu jatuh ke lantai. Kontan guru-guru yang lain memalingkan wajahnya ke arah Pak Jay, sambil berusaha menahan tawanya juga.

Ini gambaran situasi yang akrab kita temuakan dalam acara-acara rapat, majis ta’lim, kuliah, seminar atau acara-acara lain yang dihadiri banyak orang. Yang penting datang setor muka, menikmati konsumsi, terus ngobrol sana-sini. Makanya jangan disalahkan jika saat guru mengajar di kelas, siswanya malah asik bercanda dengan temannya. Siapa tahu ini merupakan hukum karma, bagi para guru yang suka ngobrol saat-saat pertemuan berlangsung.

Wednesday, 7 March 2012

Balada Guru PNS dan SK Pertamanya

Alkisah di daerah-daerah sekitar Bogor. Mungkin juga di daerah-daerah lain di wilayah NKRI yang konon ceritanya terkenal sebagai sebuah negeri yang subur makmur, toto tentrem, gemah ripah loh jinawi ini, ternyata masih banyak terdapat cerita balada memilukan yang cenderung malah mendekati kisah memalukan.

Kisah Balada memilukan tersebut bisa dialami oleh siapa saja, tidak terkecuali dialami juga oleh para Guru PNS di daerah-daerah yang jika menilik janji-janji pemerintah akan ditingkatkan kesejahteraannya.

Mungkin juga benar pemerintah sudah mengupakayan kesejahteraan itu melalui kenaikan gajih setiap tahun, atau dengan pemberian tunjungan profesi guru melalui sertifikasi yang juga penuh lika-liku penuh luka di kalbu para guru. Tapi kesejahteraan itu tidak juga kunjung menghentikan balada para guru di daerah ini.

Saya pernah iseng mengadakan survey kecil-kecilan terhadap 100 orang guru PNS di sekitar wilayah tempat saya bertugas, dan 100% dari 100 orang guru itu, SK CPN dan SK pengangkatan PNS-nya sudah pergi mondok di pesantren Al-BRI, Al-BPD, dan pesantren-pesatren lainnya. Saya sempat pula bertanya alasannya SK-SK itu sampai dibiarkan pergi dari rumah, jawabannya berpariasi, ada yang sekedar berseronok, ada juga yang serius menjawabnya.

“Di sana kan lebih aman, tidak akan dimakan rayap dan terhindar dari musih banjir, kebakaran atau musibah lain yang bisa mengancam keselamatannya.” Itu salah satu jawaban seronoknya.

“Kalau tidak seperti itu, mana mungkin kita bisa punya rumah, kendaraan bermotor, atau barang-barang lain yang kita butuhkan di rumah tangga.” Dan ini jawaban serius dari sebagian mereka.

“Kita kan juga harus meningkatkan profesionalitas kita, pak. Melanjutkan kuliah pasti butuh baiaya, tanah tidak punya yah SK kita itulah sumber penghasilan yang paling menjajikan. Belum lagi untuk anak sekolah dan kuliah. Iya kan..?” Ini jawaban lebih serius lagi sampai mereka melempar kembali pertanyaannya pada saya, karena mereka juga yakin SK Pertama saya sudah tidak ada di rumah.

Kisah balada memilukan ini memang sangat ironis dan kontradiksi dengan gembar-gembor bahwa guru PNS sekarang sudah sejahtera. Namun kenyataannya, kesejahteraan itu hanya gembar dan gembor saja. Masih banyak guru PNS di daerah yang gajihnya, karena harus membayar ke pesantren Al-BRI, Al-BPD dan lainnya itu tidak dapat memenuhi kebutuhannya sehari-hari selama satu bulan. Kemudian solusi termudah ada mencari pinjaman lain di Koperasi Guru demi menutupi lubang-lubang yang menganga yang sering muncul tiba-tiba dan insidentil. Padahal jalan yang sepintas dapat menolong itu kenyataanya malah menambah permasalahan bagi keluarganya. Karena gajih pas-pasan yang sudah dipangkas untuk pesantren malah dicukur habis lagi oleh potongan lain.

Bagi tempat-tempat yang dijadikan lahan mondoknya para SK-SK Pertama para PNS itu tentunya sangat menguntungkan. Setoran perbulan yang dipotong langsung tanpa kompromi itu membuat para pemilik pesantrennya semakin gemuk dan sejahtera. Tentunya akan sangat jauh kesejahteraanya disbanding para Guru PNS yang katanya sudah sejahtera itu. Perjanjian kontraknya pun sangat panjang, kisaran 3 sampai 10 tahun, dengan jumlah setoran bisa mencapai lebih dari 50% dari gajih yang tertera di slip gajih bulanannya.

Dalam kondisi yang memilukan seperti itu, para guru dituntut memiliki kinerja yang maksimal. Rasanya mimpi besar, bagiaman bisa konsentrasi pada kerjaannya, jika sejumlah masalah pemenuhan kebutuhan hidup di keluarganya masih belum tercukupi. Bagiaman mungkin dapat mendidikan anak orang lain dengan maksimal, jika untuk pendidikan anaknya sendiri masih menyisakan persoalan.

Balada memilukan ini terus berjalnjut seperti sebuah jebakan yang menahan para Guru PNS di daerah tidak bisa menemukan jalan ke luar. Kungkungan permasalahan tidak dapat terpenuhinya kebutuhan-kebutuhan hidup itu kemudian membuatnya selalu berfikir untuk membiarkan berlama-lama SK Pertamanya itu tidak kembali ke rumah. Yang ada di rumah hanyalah duplikat hasil kecanggihan mesin poto copy, dan itupun warnanya sudah tidak jelas karena hasil copy yang berulang-ulang.

Kemudian siapa yang bisa mengakhiri balada ini…? Jawabnya pasti diserahkan pada diri sendiri. Atau tunggu jawaan dari rumput yang bergoyang. Dan kita hanya dapat berdo’a, semoga SK-SK pertama para Guru PNS yang pergi ke pesantren itu cepat pulang ke rumahnya masing-masing. Sebab kalau SK-SK itu sudah pulang, tandanya kesejahteraan mulai datang.

Sunday, 4 March 2012

HUMOR TENTANG PENDIDIKAN EPISODE 4

Selamat bertemu lagi dengan tulisan konyol, sedikit nyentil tapi tidak centil hasil goresan saya. Tema humor tentang pendidikan kali ini akan membicarakan tentang sertifikasi guru. Apa itu sertifikasi guru…? Berikut akan saya bahas satu perdua sama dengan setengah.

Yang menjadi dasar dari pelaksanaan sertifkasi guru diantaranya; Undang-Undang RI Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, Undang-undang RI Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen, dan bukan Undangan palsu dari Mansyur S. Itu mah lagu dangdut yah.

Dasar lain dalam pelaksaan sertifikasi guru adalah juga Peraturan Pemerintah RI Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan yang menyatakan guru adalah pendidik profesional. Untuk itu, guru dipersyaratkan memiliki kualifikasi akademik minimal Sarjana atau Diploma IV (S1/D-IV) yang relevan dan menguasai kompetensi sebagai agen pembelajaran. Bukan agen minyak jelantah, apalagi agen judi togel.

Pemenuhan persyaratan kualifikasi akademik minimal S1/D-IV dibuktikan dengan ijazah dan pemenuhan persyaratan relevansi mengacu pada jejang pendidikan yang dimiliki dan mata pelajaran yang dibina. Misalnya, guru SD dipersyaratkan lulusan S1/D-IV Jurusan/Program Studi PGSD/Psikologi/Pendidikan lainnya, sedangkan guru Matematika di SMP/MTs/SMPLB, SMA/MA/SMALB, dan SMK/MAK dipersyaratkan lulusan S1/D-IV Jurusan/Program Pendidikan Matematika atau Program Studi Matematika yang memiliki Akta IV. Sedangkan untuk jurusan lain, misalkan jurusan Blok M – Ciputat, Blok M – Kebayoran Lama, silahkan tanyakan langsung ke petugas terminal Blok M.

Pemenuhan persyaratan penguasaan kompetensi sebagai agen pembelajaran yang meliputi kompetensi pedagogik, kompetensi kepribadian, kompetensi sosial, dan kompetensi profesional dibuktikan dengan sertifikat pendidik yang diperoleh melalui sertifikasi. Bukan sertifikat yang diperoleh dari panitia lomba tujubelasagustusan, bukan dari sertifikat tanah, dan bukan sertifikat seminar pendidikan.

Menurut Undang-Undang, Sertifikasi guru adalah proses pemberian sertifikat pendidik kepada guru yang telah memenuhi persyaratan. Sertifikasi guru bertujuan untuk (1) menentukan kelayakan guru dalam melaksanakan tugas sebagai pendidik profesional, (2) meningkatkan proses dan hasil pembelajaran, (3) meningkatkan kesejahteraan guru, (4) meningkatkan martabat guru; dalam rangka mewujudkan pendidikan nasional yang bermutu.

Menurut istri saya, Sertifikasi adalah sertifikiat yang bukan boleh pengasi ibu Kurnaesi yang tidak punya kekasi karena ditinggal pergi

Menurut tetangga saya, Sertifikasi adalah. Suatu peluang baginya untuk bisa meminjam uang pada saya. Walaupun pencairan uangnya sering telat dan gonta-ganti nomor rekening serta podah-pindah Bank penyalurnya.

Menurut pacar saya, kamu ganteng deh, sayang sudah punya istri.

Menurut teman saya, do’akan saya yah mudah-mudahan masuk kuota tahun depan.

Menurut saya, kok malah jadi ajang curhat pendapat sih…!!

Kita kembali lagi kemasalah Sertifikasi guru. Bahwa serifikasi Guru diikuti dengan peningkatan kesejahteraan guru. Bentuk peningkatan kesejahteraan tersebut berupa pemberian tunjangan profesi bagi guru yang memiliki sertifikat pendidik. Tunjangan tersebut berlaku, baik bagi guru yang berstatus pegawai negeri sipil (PNS) maupun bagi guru yang berstatus bukan pegawai negeri sipil (swasta). Bagi yang belum mempunyai status, silahkan baca saja di status facebook saya.

Selain di Indonesia sertifikasi guru juga dilakukan di Negara-negara lain seperti Amerika Serikat, Australia, Inggris, Indramayu. Ciputat, bojong gede, Depok dan sekitarnya Di Denmark kegiatan sertifikasi guru baru dirintis dengan sungguh-sungguh sejak tahun 2003., maklum pada tahun-tahun sebelumnya Denmark belum bisa mencetak bentuk sertifikatnya. Mesin Cetaknya sedang diservice di Glodok.

Berdasarkan hasil monitoring dan evaluasi penyelenggaraan sertifikasi guru tahun 2007 dan 2008, khususnya untuk penyelenggaraan sertifikasi guru melalui penilaian portofolio masih ditemukan sejumlah kendala yang dapat menghambat proses pelaksanaan sertifikasi. Kendala ini umumnya terkait dengan sistem kelembagaan Rayon LPTK terkait, misalnya hubungan kemitraan antara PT induk dengan mitra yang kurang harmonis, kurangnya sarana dan prasarana yang dimiliki PT untuk penyelenggaraan sertifikasi, dan keragaman pemahaman atau interpretasi asesor terhadap rubrik penilaian portofolio serta pola pelaksanaan sertifikasi. Untuk itu, dipandang perlu adanya bantuan dari departemen yang menauinginya. Bantuan ini dapat gulirkan dalam bentuk hibah nonkompetitif yang berbasis pada kebutuhan LPTK”. Jelas Bukan LP Cipinang, atau LP Salemba, ya pak…?

Berdasarkan hasil evalusi pelaksanaan sertifikasi guru dari tahun ke tahun, ada empat hal yang merupakan perbaikan pada pelaksanaan sertifikasi guru tahun 2012, yaitu (1) penetapan peserta melalui sistem daring (online system), (2) uji kompetensi, (3) perankingan dimulai dari usia, masa kerja, dan golongan,(5) penjadwalan. Saya menyebutnya dengan istilah 4 sehat, lima 5 memusingkan.

Salah satu bagian penting dalam pelaksanaan sertifikasi guru adalah proses rekrutmen dan penetapan calon peserta yang tidak melaui audisi bakat dan minat, atau poling SMS. Kata Kepala Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pendidikan dan Penjaminan Mutu Pendidikan Kemdikbud, Syawal Gultom di Gedung D Kemdikbud Senayan Jakarta “Pada tahun ini, proses penetapan peserta berbeda dibandingkan dengan tahun sebelumnya, yaitu dipublikasikannya daftar nama calon peserta sertifikasi guru sebelum ditetapkan sebagai peserta dengan tujuan untuk menjamin objektivitas dan keadilan,”

Dalam Pikiran Rakyat On Line yang saya kutif, Syawal menjelaskan bahwa, “sistem dan mekanisme rekrutmen peserta sertifikasi guru harus memenuhi prinsip keadilan dan akuntabel. Oleh karena itu, Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pendidikan dan Penjaminan Mutu Pendidikan Kemdikbud membangun Aplikasi Penetapan Peserta Sertifikasi Guru (AP2SG) yang hasilnya dapat diakses oleh guru calon peserta sertifikasi melalui internet”, bukan melalui kantor RW, kantor desa atau toko bangunan di kota anda. Sayangnya masih banyak para guru calon peserta sertifikasi yang gagap teknologi, tidak mengenal internet dan dunia Maya Romantir, atau dunia Lunamaya yang penuh sensasi.

Thursday, 1 March 2012

Berakhirlah Sebuah Sinetron Komedi, di Meja Pengadilan Kasus Korupsi Gayus Halomoan Partahanan Tambunan

Alkisah sebuah cerita Sinetron Komedi kelas tinggi yang diperankan oleh Gayus Halomoan Partahanan Tambunan atau yang dikenal dengan nama populer Gayus Tambunan. Ia lahir dengan selamat sentosa di pintu gerbang kemerdekaan kehidupan yang bebas di Jakarta, 9 Mei 1979 merupakan mantan pegawai negeri sipil di Direktorat Jenderal Pajak Kementerian Keuangan Indonesia. Namanya menjadi meroket ketika Komjen Susno Duadji menyebutkan bahwa Gayus mempunyai uang Rp 25 miliar di rekeningnya plus uang asing senilai 60 miliar dan perhiasan senilai 14 miliar di brankas bank atas nama istrinya yang dicurigai sebagai harta haram. (Dan itu ternyata uang semua, tidak dicampur sobekan koran atau daun kering.)

Selain sebagai PNS ternyata Gayus juga sempat menjadi atlit lari jauh karena dengan sangat meyakinkan ia telah berlari bebas sampai ke Singapura beserta anak istrinya. Bahkan sampai-sampai dia tidak tahu jalan pulang sehingga terpaksa dijemput oleh Satgas Mafia Hukum di Singapura. (Keder kali yah…?) Datang tidak dijemput, pulang malah dijemput.

Peran Gayus dalam Sinetron Komedi ini jelas-jelas telah mencoreng-moreng-merong-cemong-gosong reformasi Kementerian Keuangan Republik Indonesia yang sudah digulirkan Sri Mulyani dan menghancurkan citra aparat perpajakan Indonesia.Dan pastinya menyakiti hati seluruh rakyat Indonesia (maaf kecuali hati keluarga dan kerabatnnya tentu. Apalagi yang ikut menikmati uang hasil Korupsinya).

Gayus besar dan lahir secara sengaja terrencana dan sukses oleh ibunya (maaf bukan bapaknya) di Warakas, Jakarta Utara. Dia anak kedua dari 5 bersaudara , putra dari Amir Syarifuddin Tambunan. Setelah dewasa Gayus menikah dengan Milana (maaf tidak pake AC) Anggraeni dan mempunyai lima orang anak. Milana sendiri diduga ikut menerima aliran sungai eh maaf aliran dana dari rekening Gayus Tambunan sebesar Rp 3,6 miliar berbentuk uang semua. Aliran dana tersebut diketahui karena adanya bukti transfer dana ke rekening Milana dalam lima kali transfer, antara 4 Desember 2009 hingga 11 Januari 2010. Maaf Waktu itu saya sedang sakit habis ikut acara tahun baruan di pantai.

Setelah lulus dari Sekolah Tinggi Akuntansi Negara (STAN) pada tahun 2000, Gayus ditempatkan di Balikpapan, bukan dibalik jeruji,dan bukan di balik batu seperti udang dalam pribahasa. Beberapa tahun kemudian Gayus yang diangkat menjadi PNS golongan IIIA di Bagian Penelaah Keberatan pada Seksi Banding dan Gugatan Wilayah Jakarta II Ditjen Pajak. terus berkarier di Direktorat Jenderal Pajak sampai akhirnya diberhentikan karena tersandung (gedubrak…gabruk ..mblebbb sampai jatuh celentang) dalam kasus mafia Pajak pada tahun 2010.

Dalam masa tahanan selama proses persidangan Gayus Tambunan diketahui berada di Bali dan menonton pertandingan tenis Commonwealth World Championship pada tanggal 5 November 2010, dan dia tidak mengajak saya. Gayus pun mengaku berada di Bali pada tanggal tersebut di persidangan pada tanggal 15 November 2010. (Kejujuran yang menyakitkan tentunya, dan kejujuran yang mempermalukan aparat hukum di Indonesia…ter..la..lu)


Kisah pun terus berlanjut, tapi saya tidak mungkin menceritakannya semua secara panjang lebar, karena kalau terlalu panjang kasihan pada wanita, dan kalau terlalu lebar kasihan pada pria. Dan akhirnya cerita perjalanan kisah Gayus pun berakhir happy anding. Karena pada hari ini tanggal 01 Maret 2012, Gayus Tambunan telah dinyatakan bersalah atas kasus korupsi dan suap mafia pajak oleh Majelis Hakim Pengadilan Jakarta Selatan dengan hukuman hanya 6 tahun penjara dan denda hanya Rp. 1 miliar Rupiah. (Wow…sangat pantastis)

Kalau dibandingkan dengan sepak-tendang-nya Gayus yang begitu dahsyat itu, rasa-rasanya hukuman Gayus hanya dianggap sebagai penghibur saja. Menghibur rakyat Indonesia dengan humoran konyol yang sangat menyakitkan.

Seharusnya, kalau benar-benar ingin menegakan hukum dengan benar, dan mau membersihkan negeri tercinta ini dari tindakan korupsi, berikan hukuman seberat-beratnya bagi para pelaku korupsi. Misalnya : hukum dia dengan dicubiti oleh seluruh rakyat se-Indonesia di lapangan Senayan seumur hidup. Atau dengan cara berenang menyebrangi Samudra Hindia tanpa pelampung dengan siaran langsung ditayangkan di semua TV di Indonesia dan Dunia. Yakin tidak aka nada lagi orang yang berani korupsi di negeri tercinta ini. Dan kita tunggu hiburan konyol apalagi yang akan kita lihat terhadap kasus Nazarudin..? Tunggu dibioskop-bioskop kesayangan tetangga anda…!!

Setuju,…! Yah… terima kasih.

Wednesday, 29 February 2012

HUMOR TENTANG PENDIDIKAN EPISODE 3

Tidak terasa kita sudah bertemu di episode ke 3, humor tentang pendidikan. Kenapa kok saya nulis humor tentang pendidikan terus ? Karena pendidikan di Indonesia masih sangat perlu dihibur dengan humoran segar. Karena pendidikan yang segar lebih bervitanim dibanding dengan Buah Segar hasil Expor.

Stttt… jangan berisik. Sekarang kita akan bicara soal kepala sekolah. Kalau dia dengar bisa dipecat saya.
Kepala sekolah adalah guru yang diberi tambahan tugas mengatur administrasi kantor, motivator, supervisor, sekaligus tukang membersihakan kantor, jika tidak ada penjaga sekolahnya. Tapi sekarang malah ada indikasi kepala sekolah adalah guru yang mempunyai kendaraan bermotor lebih bagus dari gurunya.

Kepala sekolah mempunyai tugas menilai kinerja para guru disekolahnya. Kepala sekolah dalam menilai gurunya harus objektif, terbuka, adil, makmur, aman , sentosa, gemah ripah loch…kok ngaco.

Kepala sekolah sama dengan kepala ikan. Sesekali muncul ke permukaan, terus menghilang tanpa kabar, apalagi kalau sedang banyak santapan yang melezatkan. 

Kepala sekolah, sama dengan kepala kendaraan, kalau sudah panas sering ngadat dan mogok di tengah jalan. Kepala sekolah sama dengan kepala kereta api, sering teriak-teriak keras sebelum sampai ke tujuan yang diharapkan, tidak perduli teriakknya membuat telinga orang lain sakit.

Kepala sekolah yang baik adalah kepala sekolah yang tidak cuman pandai menjumlah, mengurang, dan mengali. Tapi juga harus pandai membagi. Membagi tugas kepada rekan kerjanya di sekolah, dan membagi honor yang adil sesuai dengan kinerja bawahannya.

Kepala sekolah haruslah orang yang memiliki kelebihan. Kelebihan dalam pengetahuan, teknik kepemimpinan, dan keimanan kepada Tuhan yang Maha Esa. Jangan Cuma mempunyai kelebihan penghasilan disbanding bawahnya bawahannya.

Menyangkut BOS, kepala sekolah adalah orang yang harus mampu mengatur proses pengeluarannya, sesuai dengan petunjuk teknis pengelolaan BOS, bukan menurut teknik petunjuk istri dan keluarganya di rumah. 

Kepala sekolah harus membersihkan lingkungan sekolahnya dari Korupsi, Kolusi dan nepotisme. Jangan memasukkan anak, saudara, kerabat atau kenalannya menjadi guru tanpa memperhatikan kompetensi orang tersebut. Jangan pilih bulu pada bawahannya, karena kalau kepala sekolah pilih bulu, kasihan bawahanya yang tidak punya bulu.

Kepala sekolah harus mempunyai akhlak mulia. Akhal yang harus menjadi tauladan bagi rekan kerja dan bawahannya, bukan akhlak bali, akhlak condet, eh… itu mah salak yah…? Maaf pembaca jangan salak dong. Saya jadi takut nih. Ih itu mah galak, yah.

Kepala sekolah bukan pegembala ternak, yang dapat seenaknya menggiring bawahnannya sesuka hatinya, tanpa arah yang jelas dan tujuan yang jelas pula. Sebab kalau salah memilih arah tujuan bisa nyasar kemana-mana? Makanya supaya tahu arah dan tujuan yang benar, tanyakan pada sopir atau kondektur, asal jangan Tanya pada pilot saat dalam penerbangan.

Kepala sekolah harus meliki Visi, Misi dan moto. Mau poto babat kek, moto ayam ke. Semangkok lima ribu. Hehe…he…..he… ngawur banget sih. Namanya juga humor, tidak apa-apa yah.

Kepala sekolah memiliki kewajiban mengajar di kelas sebagai guru mata pelajaran, minimal 6 jam perminggunya. Artinya setiap satu Minggu wajib mengajar enam jam. Tapi banyak guru yang tidak mengajar, denganalas an ia sudah mengajar anaknya di rumah. Atau sibuk mengurus keuangan BOS yang rumit dan banyak aturannya.

Saturday, 25 February 2012

HUMOR TEMA PENDIDIKAN EPOSE 2

Biacara soal Pendidikan, maka akan berbicara masalah sekolah. Bersekolah bagi kebanyakan masyakarat Indonesia kurang dianggap menjanjikan. Kenapa…? Karena kita terlalu banyak mendengar janji-janji palsu. Dan semua rakyat Indonesia sudah bosan menagagih janji yang tidak pernah dilunasi. Kita tidak butuh janji, tapi butuh bukti, butuh beras, butuh kepastian dan butuh ketegasan pemerintah untuk tidak selalu menaikkan harga BBM.

Sekolah bukan lah sek… o… la.. lah. Sekolah bukanlah tempat belajar mencoba hal-hal yang dilarang tapi tempat belajar hal-hal yang dianjurkan. Tapi apakah siswa tahu mana yang dilarang dan mana yang dianjurkan? Jangan kan siswa, orang-orang pilihan di tingkat DPR saja seperti banyak tidak tahunya di banding dengan tahunya. Lihat saja di meja sidang. Jawabanya Cuma sekitar..”tidak tahu.” Atau “lupa.” Apalagi siwa, pasti lebih bayak tidak tahu dan lebih banyak lupa.

Sekolah adalah tempat belajar. Dan sayangnya belajar kok bisa diartikan siswa sebagai bela diri lalu menghajar. Hasilnya ya jadi tauran. Belajar adalah upaya pelajar untuk menuntut ilmu. Tapi pelajar justru mempunyai kesalahan arti menjadi perdayai lawan dengan dihajar. Itukan jadi kurang ajar namanya. Coba saja, masa pelajar SD sudah berani menusuk temannya dengan senjata tajam..?

Saat diteliti oleh akhli jawabanya pasti mencari kambing hitam pada acara-acara TV yang penuh kekerasan. Kok kambing hitam di salahkan…? Emang kambing hitam ikut sekolah? Dan kasus AM siswa SD yang menusuk temannya itu, katanya karena di rumahnya sering mendapatkan perlakukan kekerasan dari keluarganya. Dan akibat dari terlalu banyak bemain game online. Ini ada indikasi bahwa gurunya di sekolah sudah kalah pengaruh dengan game online. Atau jangan-jangan gurunya juga keranjingan game online, sehingga siswa-siswanya termotivasi untuk bermain game online juga. Kan ada pribahasa yang mengatakan “Buah apel tidak akan jatuh jauh dari pohonnya.”

Tapi memang pribahasa itu sudah tidak tepat kali yah. Buktinya buah apel sekarang sudah banyak jatuh di pasar buah, jatuh dari keranjang buah, jatuh dari kulkas, padahal di situ tidak ada pohon apelnya. Makanya tidak aneh kalau pribadi siswa akan sangat jauh dari karate gurunya. Sebab guru dan siswa jarang makan apel. Kok jadi ngaco.

Sekolah menduduki tempat yang paling menakutkan tingkat kedua setelah kematian. Kenapa…? Karena sekolah dan kematian sama-sama membutuhkan biaya yang cukup besar. Dan sama-sama selalu membuat repot dengan segala permasalahnya.

Sekolah meruapakan rangkaian perasaan takut sejak awal sampai akhir. Saat awal masuk sekolah, siswa takut mendapat sekolah yang bukan pilihannya. Saat kenaikan kelas, siswa takut tidak naik. Saat Ujian siswa takut tidak lulus. Saat lulus siswa juga takut tidak dapat menebus ijazahnya.
Sekolah identik dengan peraihan ijazah. Oleh karena itu, maka bagi mereka yang tidak mempunyai Ijazah SD, ia dapat mengikuti Kejar Paket A. Yang tidak punyai ijazah SMP, ia bisa ikut Kejar Paket B. Yang tidak punya Ijazah SMA, bisa mengikuti Kejar Paket C. Yang mempunyai ijazah tanpa sekolah, seharusnya dikejar polisi dong yah…?

Namanya juka Kejar Paket. Makanya tidak aneh jika sekolahnya hanya satu tahun terus dapat ijazah. Kejar paket kan hampir sama dengan kejat tayang bagi acara TV. Dikerjakan dengan cepat, yang penting laku walau harganya murah, masalah kualitas bukan jaminan.

Sebentar lagi malah akan dicanangkan wajib sekolah 12 tahu. Loch… yang sebembilan tahun saja belum berhasil kok sudah yang ke 12 sih..? Jaangan-jangan ikut-ikutan film nasional nih, dari Kuntil anak, ke kuntil anak 2, sampai kuntil anak vs kuntil ibu.

Sekolah di Indonesia bisa seperti cerita sinetron, berisikan khayalan dan mimpi-mimpi indah, direkayasa alur kisahnya, dipanjang-panjangkan ceritanya, dan akhir episodenya tetap membingungkan penontonnya. Artinya, walau susah payah sekolah, setelah lulus, tetap bingung harus kemana…?

Ini penomena betapa menakutkannya sekolah bagai anak. Ada sebuah dialog seorang anak wanita lulusan SMP ditanya papanya :
“ Nak… kamu pilih melanjutkan sekolah atau papah nikahkan…?”
“ Tidak dua-duanya…” Jawab anaknya pasti dan meyakinkan.
“ Kenapa…?”
“ Karena sekolah dan nikah sama-sama bisa membuat aku stress, pah.”

Penomena itu menandakan bahwa banyak anak merasa tidak mempunyai harapan saat ia besekolah. Seolah-olah sekolah bukanlah pilihan yang terbaik untuk dirinya. Dia tidak mau menjadi orang pintar, karena orang pintar hanya diukur dengan minum obat masuk angin.
Biacara soal Pendidikan, maka akan berbicara masalah sekolah. Bersekolah bagi kebanyakan masyakarat Indonesia kurang dianggap menjanjikan. Kenapa…? Karena kita terlalu banyak mendengar janji-janji palsu. Dan semua rakyat Indonesia sudah bosan menagagih janji yang tidak pernah dilunasi. Kita tidak butuh janji, tapi butuh bukti, butuh beras, butuh kepastian dan butuh ketegasan pemerintah untuk tidak selalu menaikkan harga BBM.

Sekolah bukan lah sek… o… la.. lah. Sekolah bukanlah tempat belajar mencoba hal-hal yang dilarang tapi tempat belajar hal-hal yang dianjurkan. Tapi apakah siswa tahu mana yang dilarang dan mana yang dianjurkan? Jangan kan siswa, orang-orang pilihan di tingkat DPR saja seperti banyak tidak tahunya di banding dengan tahunya. Lihat saja di meja sidang. Jawabanya Cuma sekitar..”tidak tahu.” Atau “lupa.” Apalagi siwa, pasti lebih bayak tidak tahu dan lebih banyak lupa.

Sekolah adalah tempat belajar. Dan sayangnya belajar kok bisa diartikan siswa sebagai bela diri lalu menghajar. Hasilnya ya jadi tauran. Belajar adalah upaya pelajar untuk menuntut ilmu. Tapi pelajar justru mempunyai kesalahan arti menjadi perdayai lawan dengan dihajar. Itukan jadi kurang ajar namanya. Coba saja, masa pelajar SD sudah berani menusuk temannya dengan senjata tajam..?

Saat diteliti oleh akhli jawabanya pasti mencari kambing hitam pada acara-acara TV yang penuh kekerasan. Kok kambing hitam di salahkan…? Emang kambing hitam ikut sekolah? Dan kasus AM siswa SD yang menusuk temannya itu, katanya karena di rumahnya sering mendapatkan perlakukan kekerasan dari keluarganya. Dan akibat dari terlalu banyak bemain game online. Ini ada indikasi bahwa gurunya di sekolah sudah kalah pengaruh dengan game online. Atau jangan-jangan gurunya juga keranjingan game online, sehingga siswa-siswanya termotivasi untuk bermain game online juga. Kan ada pribahasa yang mengatakan “Buah apel tidak akan jatuh jauh dari pohonnya.”

Tapi memang pribahasa itu sudah tidak tepat kali yah. Buktinya buah apel sekarang sudah banyak jatuh di pasar buah, jatuh dari keranjang buah, jatuh dari kulkas, padahal di situ tidak ada pohon apelnya. Makanya tidak aneh kalau pribadi siswa akan sangat jauh dari karate gurunya. Sebab guru dan siswa jarang makan apel. Kok jadi ngaco.

Sekolah menduduki tempat yang paling menakutkan tingkat kedua setelah kematian. Kenapa…? Karena sekolah dan kematian sama-sama membutuhkan biaya yang cukup besar. Dan sama-sama selalu membuat repot dengan segala permasalahnya.

Sekolah meruapakan rangkaian perasaan takut sejak awal sampai akhir. Saat awal masuk sekolah, siswa takut mendapat sekolah yang bukan pilihannya. Saat kenaikan kelas, siswa takut tidak naik. Saat Ujian siswa takut tidak lulus. Saat lulus siswa juga takut tidak dapat menebus ijazahnya.

Sekolah identik dengan peraihan ijazah. Oleh karena itu, maka bagi mereka yang tidak mempunyai Ijazah SD, ia dapat mengikuti Kejar Paket A. Yang tidak punyai ijazah SMP, ia bisa ikut Kejar Paket B. Yang tidak punya Ijazah SMA, bisa mengikuti Kejar Paket C. Yang mempunyai ijazah tanpa sekolah, seharusnya dikejar polisi dong yah…?

Namanya juka Kejar Paket. Makanya tidak aneh jika sekolahnya hanya satu tahun terus dapat ijazah. Kejar paket kan hampir sama dengan kejat tayang bagi acara TV. Dikerjakan dengan cepat, yang penting laku walau harganya murah, masalah kualitas bukan jaminan.

Sebentar lagi malah akan dicanangkan wajib sekolah 12 tahu. Loch… yang sebembilan tahun saja belum berhasil kok sudah yang ke 12 sih..? Jaangan-jangan ikut-ikutan film nasional nih, dari Kuntil anak, ke kuntil anak 2, sampai kuntil anak vs kuntil ibu.

Sekolah di Indonesia bisa seperti cerita sinetron, berisikan khayalan dan mimpi-mimpi indah, direkayasa alur kisahnya, dipanjang-panjangkan ceritanya, dan akhir episodenya tetap membingungkan penontonnya. Artinya, walau susah payah sekolah, setelah lulus, tetap bingung harus kemana…?

Ini penomena betapa menakutkannya sekolah bagai anak. Ada sebuah dialog seorang anak wanita lulusan SMP ditanya papanya :

“ Nak… kamu pilih melanjutkan sekolah atau papah nikahkan…?”

“ Tidak dua-duanya…” Jawab anaknya pasti dan meyakinkan.

“ Kenapa…?”

“ Karena sekolah dan nikah sama-sama bisa membuat aku stress, pah.”

Penomena itu menandakan bahwa banyak anak merasa tidak mempunyai harapan saat ia besekolah. Seolah-olah sekolah bukanlah pilihan yang terbaik untuk dirinya. Dia tidak mau menjadi orang pintar, karena orang pintar hanya diukur dengan minum obat masuk angin.

Wednesday, 22 February 2012

(CERITA HUMOR) LASKAR LIMA “D” DALAM MENEMBUS BATAS

BAGIAN I

Alkisah, pasti beda dengan alpukat. Apalagi dengan Almanak. Kalau tidak percaya, Tanya saja toko sebalah, pasti juga tidak punya jawabannya, karena yang tahu jawabannya cuman “rumput yang begoyang” itu pun baru menurut lagu Bang Iwan Fals. Cerita yang terjadi di negeri Antah Berantah, tetangganya negeri Antah Dimana, yang berdekatan dengan negeri Antah lah aku tidak tahu ini adalah kisah nyata. Itu pun kalau pembaca percaya, sebab penulis sekali pun sama sekali tidak percaya. Sumpah berani kaya seumur hidup, penulis sama sekali tidak percaya kalau cerita ini kisah nyata.

Adalah Dodo, Didi, Dadang, Dudung, dan Diding merupakan lima sekawan yang berjulu Laskar lima D. Mereka bagai seikat kangkung yang tak terpisahkan, ibarat konde rambut yang terpadukan dan seperti segumpal awan yang tak teruraikan. Bersekolah di SD Lidah Bergoyang. Sebuah sekolah berdinding papan kayu dan beratap rumbia yang Alhamdulillah sudah hampir enam tahun sejak didirikan belum pernah diperbaiki. Bangunannya hanya ada satu lokal. Tiga kelas belajar, satu ruang guru, tidak ada ruang kantor kepala sekolah, dan tidak terdapat WC siswa maupun guru. Muridnya saja hanya ada 30 orang, terdiri dari enam kelas. Rata-rata per kelasnya 30 orang dibagi 6 hasilnya hitung sendiri yah.

Sekolah ini memang hampir saja ditutup oleh pemerintah desa setempat. Selaian karena muridnya hanya sedikit, juga letaknya yang sangat menghawatirkan. Lokasinya di pinggir sebelah kiri sungai lebar berbatu-batu besar, tapi berair bening. Aliran airnya agak deras. Derai laju airnya yang menyentuh batu-batu besar seperti menimbulkan bunyi irama lagu kantri yang mendayu-dayu. Bahkan terkadang bisa juga mengeluarkan lagu hip-hop, dangdut, nasyid, atau rok, tergantung aliran mana yang sedang naik daun. Malah belakangan ini cenderung mengalunkan lagu-lagu para Boy Band ternama dari Negara tetangga.

Di sisi kanan sekolah terdapat hamparan tanah lapang yang berilalang dan rumput-rumput panjang yang menghalngi pandang, tempat kambing dan kerbau berncengkrama saling mendikusikan nasibnya masing-masing. Tempat sapi-sapi gemuk yang saling berbagi tip-tip terbaik demi membahagiakan tuanya. Dan tempat anak-anak yang terkadang terpaksa harus terkena ranjau kotoran sapi dan kerbau saat berangkat ke sekolah.

Tidak ada terdapat jalan raya di dekat sekolah. Hanya jalan setapak tanah merah yang menghubungkan sekolah ini ke pemukiman kampung kumuh tempat tinggal sebagian besar murid di sekolah ini. Sebuah perkampungan terisolir yang tidak pernah tersentuh pembangunan pasilitas umum dari pemerintah negeri Antah Berntah yang masih sangat mentah, bergetah dan sering membuat muntah-muntah. “Mungkin penduduk di tempat ini bukan pendukung pemimpin berkuasa saat Pilkada lalu”. Sehingga tidak terperhatikan. Bahkan adat budayanya pun masih asri sesuai dengan peradaban leluhurnya, tidak terubahkan oleh kemajuan teknologi, dan moderenisasi, yang terlalu banyak aksi, walaupun agak sedikit bau terasi.

Sebahagian siswa lain berasal dari perkampungan agak modern yang terletak di seberang sungai, sekitar tiga kilo empat ons jaraknya. Mereka harus menyeberangi sunga berbau-batu besar itu setiap hari. Baik saat datang ke sekolah maupun pulang dari sekolah. Tanpa jembatan, tanpa rakit atau perahu. Mereka menyeberangi sungai hanya dengan melompat dari batu ke batu, makanya tidak aneh kalau terdapat perbedaan mencolok bagi siswa-siswa yang berasal dari pemukiman di sebarang sungai itu. Betis mereka lumayan besar-besar menyerupai umbi talas Bogor yang banyak dipampang di sepanjang jalan sekitar Bogor. Semua itu karena mereka terbiasa berolahraga setiap hari melompati batu-batu di sungai itu.

Gurunya ada tiga orang, Pak Daman, Bu Dimin, dan Pak Durohim yang merangkap kepala sekolah. Mereka putra pribumi dari kampung kumuh yang masih asri itu, karena nasib baiknya mereka bisa sekolah dari SD sampai SMP di kota dan sangat kebetulan hanya mereka bertiga yang sekolah sampai SMP, kemudian karena keterbatasan biaya kembali ke kampung, lalu mendirikan sekolah SD ini.Mereka hanya lah Guru sukarelawan berdedikasi tinggi yang memiliki keinginan memperbaiki kampungnya melalui jalur pendidikan. Guru yang bercita-cita membuka wawasan saudara-saudaranya agar bisa terbang tinggi melintasi dunia dengan ilmu dan pengetahuan yang mereka miliki. Tapi itu ternyata tidak mudah, sudah hampir enam tahun mendirikan sekolah ini, ketiga orang guru yang satu sama lain saling bersaudara ini belum melihat hasil nyata dari usaha kerasnya itu.

Huf…!! Jadi kebanyakan bercerita tentang latar belakang nih yah. Pembaca nanti marah-marah, “mana dialognya ?” gitu katanya. Tapi sebentar dulu. Saya mohon ijin untuk kembali menceritakan tentang Dodo, Didi, Dadang, Dudung, dan Diding, yang belakangan ini mulai resah gelisah tapi Alhamdulillah tidak basah. Meraka dirundung perasaan bingung, akan kemana melanjutkan sekolah setalah selesai tamat di SD ini.

“Kita ke Kota saja, Ding.!” Usul Dadang pada Diding disela obrolan mereka di bawah pohon kecapi, tepi sungai sambil menikmati hembusan angin yang sejuk, nakal mengusap-usap kulit pipi kelima anak kampung yang dekil dan kasar berdaki itu.

“Ya…. Di sekitar kampung kita kan tidak ada sekolah tingkat LSTP. Baiknya kita melanjutkan sekolah ke Kota saja.” Didi, mendukung Usul Dadang. “Seperti guru-guru kita dulu.” Lanjutnya.

“Limabelas kilo meter kawan jaraknya…? Bagaimana caranya setiap hari kita bisa ke sana…?” Ujar Diding dengan gaya seperti Om Rendra si Burung Merak membacakan puisi.

“Harus jam berapa kita berangkat dari rumah…?” Dodo menerawang jauh.

“Sebelum ayam berkokok lah.” Sela Dudung.

“Tapi aku sudah tidak punya ayam jago lagi, ayamku dijual.” Keluh Dadang yang memang sering tidak nyambung omongannya.

“Ah… kamu Dang. Soal ayam dijual kok dibawa-bawa ke obrolan soal melanjutkan sekolah sih.” Tepis Diding. “ Maksud si Dudung, kita harus berangkat sekolah ke Kota itu dari sejak pagi sekali, supaya tidak terlambat.” Diding menjelaskan.

“Yaaaa… kalau begitu maksudnya, jangan bawa-bawa suara ayam berkokok, dong.” Bela Dadang. “Aku kan sudah tidak punya ayam lagi.” Lanjutnya, masih tidak nyambung.

“Itu kan hanya perumpamaan, Dang..!” Kata Dodo. “Yang pasti, karena kita murid pertama di sekolah ini, kita harus memberi contoh pada adik-adik kita. Kita harus melanjutkan sekolah, walau bagaimanapun resikonya.” Lanjut Dodo bersemangat.
“Setujua…!!” Dukung Didi. “Dan kita harus jadi orang-orang pertama dari kampung kita setelah tiga orang guru kita yang bisa sekolah ke kota.” Didi melanjutkan kalimat bertendensi sebagai pemicu motivasi itu.

“Tapi bagaiman caranya…?” Dadang memotong.

“Ya, kita berusaha dong mencari cara.” Kata Diding.

“Ya, bagaimana caranya…?” Desak Dadang.

“Caranya… Tanya sama ayam kamu yang sudah dijual itu, Dang.” Sela Didi.

“O..iya…ya… ayahku menjual ayam itu kan sama orang kota. Jadi siapa tahu ayamku bisa kasih saran, bagaimana caranya kita bisa sekolah ke Kota.” Dadang sumbringah seperti menemukan ide yang cemerlang.

“Sekalian saja kamu ikut tinggal dengan ayam kamu itu, Dang di kota.” Canda Dodo.

“Gak bisa, Do. Kandangnya sempit katanya. Sudah begitu temannya banyak lagi. Bahkan ada ayam Bangkok sama ayam bekisarnya.” Keluh Dadang serius.

“Ini apa siah…? Kok malah membicarakan soal ayam?” Tepis Diding. “Kita kan sedang membicarakan rencana melanjutkan sekolah ke Kota. Bukan membahas soal ayam si Dadang yang sudah dijual itu.”

“Iya tuh si Didi. Lagi pula tidak mungkinlah saya bisa ikut tinggal sama ayam saya itu. Selama bersama keluarga kami saja sombongnya minta ampun. Kalau makan serakah. Nanti kalau saya ikut tinggal bersama dia, saya tidak kebagian makan.” Ujar Dadang semakin ngawur.

“Sudah ah, lihat tuh Bu Dimin sudah memanggil kita. Waktu istirahat sudah habis. Nanti kita lanjutkan lagi obrolan kita ini.” Seru Dudung melerai debat yang mulai ngawur setelah melihat Bu Dimin dari arah jendela sekolah melambaikan tangannya ke arah mereka.

Merekapun beranjak dari tempatnya masing-masing, kemudian berlarian menuju ruang kelas enam, dimana Bu Dimin dan murid yang lain sudah berada di dalam.

“Baiklah anak-anak. Sebelum pelajaran selanjutnya ibu mulai. Ada beberapa hal yang harus ibu sampaikan.” Kata Bu Dimin sambil berdiri di depan kelas. “Kalian mau dengar penjelasan dari ibu, kan…?” Tanya Bu Dimin kemudian.

“Mau..buuuuuu” Seru semua siswa serempak.

“Kami dewan guru dan Bapak kepala sekolah tadi baru saja berdiskusi guna membicarakan nasib kalian, kelas VI. Karena kita sekolah mandiri yang belum mempunyai surat ijin resmi dari kantor Dinas, maka kita tidak dapat menyelenggarakan ujian di sekolah ini. Itulah aturan di Negeri Antah Berantah ini.” Jelas Bu Dimin dengan suara sedikit tersendat-sendat. Sepertinya ada beban berat yang menggangu pikiranya.

Seketika wajah semua siswa kelas VI meredup seperti bolamp yang diputus aliran lisrinya karena kehabisan fulsa mendengar kalimat demi kalimat yang disampaikan Bu Dimin itu. Teruma lima orang sahabat yang baru saja membahas cita-cita mulianya untuk melanjutkan sekolah.

“ Terus nasib kami bagaimana, bu…?” Tanya Didi yang mulai dilanda perasaan khawatir tidak bisa melanjutkan sekolah.

“ Karena kita masih ada waktu lima bulan ke depan. Kami akan mengushakan jalan lain, bagaimana caranya kalian tetap bisa ujian.” Ujar Bu Diman, walau tersirat sebuah keraguan dan kekhawatiran dari balik nada bicaranya.

“Ahamdulillah…” Gumam semua murid serempak seperti dikomando.

“Yang jelas, ibu harap kalian sudah mempersiapkan diri untuk menghadapi ujian nanti. Banyak mempelajari materi-materi pelajaran yang sudah kalian dapatkan sejak kelas IV, V dan VI. Perbanyaklah membaca buku yang kalian punya.” Lagi-lagi Bu Dimin agak berat mengucapkan kata-kata itu. Karena ia tahu benar materi pelajaran murid-muridnya sangat terbatas. Mereka tidak mempunyai buku paket yang memadai. Bu Dimin dan guru-guru yang lain hanya memamfaatkan buku-buku usang terbitan tahun jabot pemberian teman-temannya dari kota yang secara isi sudah sangat ketinggalan oleh perkembangan jaman saat ini.

Itu pula yang kemudian menjadi bahan diskusi panjang dengan guru-guru lain. Bagaimana caranya sekolah rintisan suwadaya masyarakat yang sangat terisolir ini bisa menyamai pengetahuan siswa-siswa lain di sekolah yang lebih baik. Bagaiaman mungkin anak-anak yang hanya belajar dengan buku sangat seadanya, dan kemampuan guru yang hanya lulusan SMP itu bisa menyamai murid-murid sekelasnya di sekolah lain.

Dan yang lebih membuat beban fikiran berat teramat sangat adalah nasib dari siswa-siswa kelas VI jika nantinya tidak bisa mengikuti Ujian Nasional karena faktor tidak adanya surat ijin resmi dari kantor Dinas Negeri Antah Berantah ini. Bukankah usahanya yang telah diperjuangkan sejak hampir enam tahun ini akan sia-sia.

Sampai waktu akhir pelajaran tiba, pembicaraan Bu Dimin terus berisikan pendorong semangat siswa-siswanya untuk terus belajar dan belajar. Dia berjanji akan semaksimalal mungkin memperjuangkan kelas VI pertama ini dapat ikut Ujian Nasional walau bagaimana pun caranya. Semoga pembaca pun itu membatu berdo’a dan mencarikan jalan, bagaimana caranya dengan kesulitan materi pelajaran, buku sumber, dan guru yang berkemampuan minim ini bisa mengikuti ujian. Kasihan nasib mereka kan…? Enam tahun belajar tidak diakhiri dengan mendapatkan selembar ijazah. Padahal banyak dari negeri tetangga yang sekolahnya Cuma satu dua bulan, kemudian sudah bisa mempunyai ijazah. Bahkan masih di negeri tetangga Antah Beranta itu pula ada orang yang tidak kuliah, tahu-tahu sudah dapat ijazah sarjana. Sangat memaluka.

(Sudah dulu yah cerita BAGIAN I-nya. Cerita ini mudah-mudahan bisa berlanjut ke BAGIAN II. Makanya tolong kasih komentar, usulan dan sarannya. Supaya saya (penulis) bisa kebali melanjutkan cerita ini)

Wednesday, 8 February 2012

PERJALANAN YANG MELELAHKAN

Selasa, 07 Februari 2012
Cuaca lumayan cerah. Ada dua ageda penting hari ini. Mengikuti rapat pembentukan panitia lomba PORSENI tingkat POOL Utara di SDN Tamansari 02 dan ke ntor UPTK antar berkas persyaratan sertifikasi. Dua kegiata itu membuat aku binggung. Duan-duanya penting. Di Pool utara biasanya setiap ada lomba seperti ini aku pasti jadi panitia inti. Bahkan setumpuk tugas harus aku hadapi semisal pembuatan proposal kegiatan, penyusunan soal, dan lain-lain. Tapi karena sertifikasi juga lebih penting aku cenderung tidak terlalu ikut aktif dalam kepanitiaan tahun ini, walau di tingkat kecamatan aku sudah ditetapkan menjadi kopel Gambar ke tingkat Kabupaten Bogor.

Pukul delapan jadwal rapat yang direncanakan, pukul Sembilan baru dimulai. Kedisiplinan guru-guru di Pool Utara bahkan di Kecamatan Rumpin, sungguh sangat di bawah standar. Jam karet jadi almamater kesehatian, baik dalam melaksanakan tugas di sekolah, maupun dalam acara-acara rapat atau pertemuan seperti hari ini.

Pukul sepuluh limabelas menit, aku dan beberapa guru yang akan mengumpulkan berkas sertifikasi sudah pamitan untuk meninggalkan rapat. Dalam rapat itu aku jadi kopel lomba siswa berprestasi, dan aku fikir tidak apa lah, tidak terlalu menganggu kesibukanku saat ini.
Aku, Dedi, Maslahah, Supriyati dan Badrudin meluncur di bawah terik matahari di jalan berdebu dan penuh tonjolan-tonjolan batu gunung yang tajam. Melaju menuju kantr UPTK diantara truk-tru besar pengangkut batu gunung, pasir dan material gunung lainnya.

Gila…. Truk-truk besar itu seperti jadi raja di jalanan. Mereka seenaknya berada di sebelah kanan atau sebelah kiri menghindari jalanan yang rusak. Bukan hanya satu mobil, bisa dari lima buah mobil beriringan menghalangi jalan kendaraan kecil, seperti motor yang aku kendarai. Belum lagi dari lajunya yang sesukanya itu menimbulkan debu yang bisa mengganggu mata jika tidak pakai helm berkaca. Terlalu ugal-ugalan truk di jalan menuju Rumpin ini.

Sampai kantor aku dan teman-teman segera mempereskan semua berkas di map plastic merah yang sudah disiapkan bu Supri. Pukul satu baru kelar. Ikut solat di musholah UPTK, baru pulang bersama Pak Badru. Kami mampir di rumah makan sederhana di Cibeureum dekat Balai Desa Sukasari. Lumayan, walau tempatnya sangat sederhana, tapi makannya lumayan cocok dengan lidahku.

Sampai rumah pukul 14.00. Hari ini cukup membuat sekujur badan pegal-pegal.
Malamnya aku belajar membuat akun twitter. Karena entah kenapa blog-ku mala mini sama sekali tidak bisa dibuka.

Tuesday, 7 February 2012

HARI YANG MELELAHKAN

Senin, 6 Februari 2012
Malu juga datang keduluan Kepala Sekolah. Beliau sudah sibuk di halaman sekolah mengatur anak-anak untuk opsih (Operasi Bersih) di halaman sekolah yang lebarnya sekitar 500 meter persegi. Sebuah halaman yang luas namun tidak karuan penataannya. Kalau kemarau berdebu (pasir halus) karena laburannya sudah terkelupas, biasanya anak-anak suka menendang-nendang debu itu dengan sengaja agar debunya berterbangan, bahkan anak yang nakal malah mengambilnya dengan cengkraman jemari mungilnya dan melemparkannya ke udara, sehingga membentuk badai debu.

Dan yang paling sulit difahami daya fikir anak-anak di sekolahku, walau pun sudah susah payah melaksanakan operasi bersih, sesaat kemudian, ketika mereka jajan, maka sampahnya akan dilempar kembali ke halaman yang dibersihkannya itu. Aku sering menyebut mereka sebagai si Kabayan. Tokoh cerita sunda yang lugu, konyol, kocak dan sering berbuat aneh seperti itu. Tapi mereka tetap saja melakukannya setiap hari, sehingga halaman yang luas, lengang, berdebu dan selalu saja dikotori sampah-sampah di sana-sini, dengan sengaja.

Setelah jabattangan dengan kepala sekolah, aku langsung masuk ke ruangan kantor. Banyak berkas yang harus segera aku stempel legalisir, sebab besok pagi sudah harus diserahkan ke Kantor UPT Kurikulum XVIII Kecamatan Rumpin. Berkas ini adalah lampiran A1 sertifikasi yang nantinya akan mengantarkan aku ke tahap tes kompetensi awal setifikasi. Ya Allah… ini peluang untuk diakui sebagai tenaga professional bidang pendidikan. Kalau lulus tes, maka kemudian aku harus mengikuti tahapan berikutnya, yaitu PLPG, semacam diklat kependidikan untuk mendapatkan gelar professional melalui sertifikasi guru.

Kesempatan emas ini harus aku perjuangkan walau banyak sekali liku-likunya. Merepotkan, dan membuat beberapa kali harus menyiapkan berkas dokumen lampiran menyangkut tugasku sebagai Pegawai Negeri. Tapi ini adalah sebagian dari upaya meningkatkan penghasilanku. Sebab kalau sudah mendafatkan tanda sertigfikat lulus sertifikasi guru, maka aku akan mendapatkan tunjangan dari pemerintah sebesar gajih pokok, setiap bulannya. Semoga lancar. Amin.

Pagi ini akan dilaksakan upacara bendera hari senin. Selesai opsih anak-anak dari kelas 1 sampai dengan kelas 6 berbaris di halaman. Para petugas upacara kali ini kelas 6. Rupanya mereka sudah siap melaksanakan tugas yang telah dilatihkan pada hari jumat dan sabtu kemarin.

Untuk mengawasi anak-anak yang biasanya nakal, atau ada yang sakit, aku berdiri di belakang siswa peserta upacara. Kalau melihat aku berdiri di belakang mereka, maka tidak aka nada anak yang ngobrol atau jongkok saat pelaksanaan upacara bendera. Anak-anak takut melihat aku. Aneh, padahal aku tidak pernah galak sama mereka. Bahkan sebaliknya, di sekolah aku dikenal paling suka humor, bercanda dan akrab dengan mereka. Tapi saat-saat tertentu, mereka merasa takut melakukan kenakalan-kenakalan di depanku.

Usai upacara, aku mendapatkan sms dari pak Herry, guru SDN Kertajaya 02. Isi smsnya, hari ini pukul 10 ada rapat khusus operatir sekolah. Kebetulan aku operator di sekolah ini. Berarti undangan itu memang sengaja ditujukan untuk aku. Operator sekolah adalah sitilah untuk julukkan guru-guru yang menangani administrasi sekolah menggunakan laptop, seperti pembuatan surat-surat tugas, SK, RAPBS, dan administrasi kedinasan lainnya. Ini hanya sebagai tugas tambahan yang dilaksanakan hanya sebagai rasa tanggung jawab, tanpa SK khusus dan tanpa gajih khusus. Walau kerjanya lumayan menyibukan, tapi bagiku banyak keuntungan dari tugas tambahan ini. Minimal aku bisa menggunakan Laptop kapanpun aku mau. Termasuk mengisi blog ini.

Pukul 09.30 aku meluncur ke Rumpin untuk mengikuti rapat khusus operator sekolah se-Kecamatan Rumpin. Sebenarnya aku enggan jika dapat tugas ke rumpin. Jalannya ancur, sebagaian berdebu, sebagian lagi becek dan banyak batu-batu tajam menonjol dibalik lumpur kental yang mengancam band pecah. Atau kalu kurang hati-hati mengakibatkan benturan keras dengan batu, bahkan mungkin terperosok ke dalam lubang yang dalam sehingga tak jarang banyak motor yang tergelincir dan jatuh.

Tempat rapatnya di Aula PGRI Kecamatan Rumpin. Sebuah gedung yang sudah tidak layak lagi disebut aula. Kumuh, kotor dan tak terurus, Tapi karena tidak memiliki tempat lain, maka PGRI Kecamatan Rumpin memanfaatkan gedung ini sebagai aula dan pusat segala kegiatan rapat PGRI. Bahkan Koperasi PNS Guru-guru Rumpin juga menggunkan gedung ini untuk pusat kegiatan pertemuan-pertemuannya.

Rapat dipimpin staf UPTK bagian kepegawaian, Rahmat namanya, seorang tenaga honorer di kantor UPTK. Banyak informasi mengenai beberapa pengajuan dan usulan bagi tenaga sukwan serta pendataan guru PNS yang harus dikerjakan operator sekolah. Semua dijelaskan dengan penjelasan yang terkadang Rahmat sendiri tidak menguasai bahan materi penjelasan. Tapi dengan saling bertukar pendapat peserta rapat cukup faham dengan materi rapat hari ini.

Pukul, 12.00 rapat selesai. Aku pun langsung pulang. Perjalanan yang melelahkan, akhirnya berlalu. Dan aku bisa istirahat di rumah. Untuk mengobati penat, aku membeli satu kilo dukuh dan melon, biasanya setelah perjalananan yang melelahkan akan terobati dengan segarnya menyantap buah-buahan.

Monday, 6 February 2012

HARI MINGGU YANG MENYIBUKKAN

Minggu, 05 Februari 2012
Beberapa hari tidak menulis di blog membuat aku merasa ada yang hilang dalam perjalanan hari-hariku. Aku harus terus konsisten menghidupkan blog yang baru kubuat ini. Meluangkan waktu untuk menulis segala sesuatu yang ingin dan harus aku tulis. Karena untuk mengembangkan kemampuan menulis hanya dapat dilakukan dengan berlatih menulis. Begitu menurut beberapa orang penulis yang sudah sukses dengan karya-karyanya.

Hari ini aku harus kesekolah, meski libur. Ada pekerjaan yang masih tertunda dan perlu aku selesaikan. Kemarin (Sabtu 04, Februari 2012) aku juga ke sekolah lagi setelah pulang untuk mengantar istri ke pasar belanja bulanan. Kalau kemarin, aku menyelesaikan program semester pesanan SDN Kertajaya 06. Tapi sungguh mengecewakan, setelah berlelah-lelah mengerjakan, dan termpaksa menggunakan kertas milik sekolahku dulu, eh sampai sore bahkan malam, janjinya akan diambil, ternyata tidak diambil juga.

Tadi pagi Kepala Sekolah SDN Kertajaya 06 telepon aku, katanya hari Minggu sore ini akan diambil program semesternya. Semoga saja benar. Tapi aku memang agak ragu dengan janji bapak kepala sekolah ini. Janjinya sering diingkari, terutama kalau sudah menyangkut soal uang. Padahal untuk mengerjakan program semester aku butuh modal. Belum lagi waktu dan tenaga. Bayangkan, dari jam 11.00 sampai jam 17.00, pekerjaan baru selesai. Kalau akhirnya program ini tidak dibayar, sungguh sangat merugikan.

Pekerjaan hari ini adalah menyelesaikan Daftar Personal dan Murid yang tinggal sedikit lagi. Pukul delapan pagi aku ke sekolah. Rencananya sampai jam sebelas saja mengerjakannya. Batasnya kalau istriku jadi berobat, karena ia sudah tiga hari ini sakit flu, demam dan batuk-batuk, maka aku akan pulang lebih cepat.

Pukul 10.30. Aan dan Pak Rabani mampir ikut prins administrasi untuk pengajuan sertifikasi dan fungsional di MTs Nurul Huda. Pekerjaanku sudah hamper rampung saat mereka datang. Nge-prin gentian dengan Aan, ia pakai notebook pak Rabani dan aku pakai laptop sekolah yang siang malam menemani aku di rumah maupun di sekolah.

Pukul 11.30. Aan dan Pak Rabani berangkat ke MTs Nurul huda untuk tandatangan administrasi yang baru selesai di prins. Dan aku pun siap-siap pulang, karena pekerjaanku sudah selesai.

Karena rencananya Aan dan Pak Rabani akan kembali lagi ke sekolah, maka kunci pintu kantor sekolah aku titip di warung Ceu Een, adik iparnya Pak Adin. Sebelum ada penjaga sekolah, kunci memang selalu dititip di situ. Soalnya anaknya Novi, anak Pak Adin juga mengajar di sekolah Kertajaya 04, dan lokasi rumahnya paling dekat dengan sekolah.

Sampai rumah, anak-anakku sedang menyantap bakso. Fakih sudah sehatan hari ini. Dia memang suka sekali bakso. Untuk mengembalikan nafsu makannya, kemarin sudah aku belikan daging dan ati sapi. Fakih juga suka sekali rending. Kalau dia sudah kembali nafsu makan berarti kesehatannya akan pulih lagi.

Eh ya… bakso hari ini ternyata dibeilakan oleh memantuku (Wijaya), suami dari Aan. Tapi aku tidak selera untuk memakannya, entah kenapa segala urusan dengan menantuku itu hatiku kurang sreg. Aku tidak menyukai kepribadiannya. Termasuk soal bakso. Makanya lebih baik aku makan saja dengan rendang daging dan ati yang dimasak istriku. Nikmat sekali makanku, sayangnya aku harus segera shalat dhuhur dan siap berangkat ke pasar untuk photo copy berkas persiapan A1 sertifikasi guru. Eh… ternyata Ii dan Nuni yang sejak kemarin merencanakan merancang tropong bintang yang ada di sekolah, akan dikerjakan hari ini. Teropong bintang itu sudah hamper satu tahun tersia-siakan. Tidak ada satu orangpun guru guru termasuk aku, yang mampu merancangnya. Dan Ii akan mencobanya.

Pukul 13.30 aku membonceng Ii dan Nuni ke sekolah.Sampai di sekolah Aan masih ada, dia mau ke Parung katanya menandatangani berkas ke pengawas. Di sekolah aku Cuma menyimpan laptop, langsung berangkat lagi. Cuaca sudah mendung. Tapi berkas ini harus segera di photo copy sebab besok harus dilegalisir kepala sekolah.

Sampai pasar Parungpanjang, aku mampir dulu ke Alfa Mart, beli susu Dancow coklat bubuk, parfum dan obat batuk untuk istriku. Setelah selesai baru ke tempat photo copy. Usai photo copy, saat baru saja akan ke luar took, hujan deras turun. Coba mampir dulu di tukang kue. Rencananya mau beli kue untuk Ii dan Nuni, tapi ah… harganya mahal sekali. Harga yang jauh dari jangkauan saku.

Setelah reda aku berangat pulang, tapi sebenatar mampir ke tukang burung, aku harus beli kredong kandang burung Kenari yang kemarin sudah diincar tikus nakal. Kandang bagian atasnya dibobol hingga bolong besar. Pagi tadi kutambal dengan jeruji-jeruji bamboo dari kandang yang sengaja kurusak. Duh untung burungnya tidak lepas. Padahal lubang itu pasti sudah menganga dua atau bahkan tiga hari yang lalu. Aku tidak mengontrolnya, baru pagi tadi tampak kelihatan lubang-lubang itu. Mungkin kalau pakai kredong, tikus tidak bisa masuk lagi.

Di Adang kredong tidak ada, akhirnya aku dapatkan denga harga Rp 18.000. di tukang burung dekat tukang cukur di sekitar tugu, dekat tadi aku photo copy berkas. Padahal kalau tahu ada di situ, aku tidak perlu jauh-jauh ke Adang segala. Kan lumayan tiga sampai empat ratus meter bolak-balik menembus becek dan gerimis.

Di tengah perjalanan aku membeli goreng tahu dan molen. Kasihan Ii dan Nuni kalau sama sekali tidak diberi cemilan. Tapi Nuni masih batuk hari ini, moga saja gorengan yang aku beli tidak membuat batuknya semakin menjadi parah.

Sampai sekolah rancangan teropong sudah selesai, tinggal mengatur lensa dan kembali membaca manual yang berbahasa Inggris itu. Sambil menunggu pengeturan lensa aku kembali prins program semester untuk Aan. Kelas 6 kan ada 2 rombel A dan B. Aku kelas A dan anakku Aan kelas B. Sementara program semesternya baru punyaku saja yang selesai.

Kami pulang sekitar pukul empat sore. Jalanan becek karena hujan ternyata merata sampai ke kampung tempat tinggalku. Hujannya pun deras. Aku menyempatkan nonton ISL babak dua Mitra Kukar lawan Persema. Skor 2-2 sampai peluit panjang dibunyikan. Dan aku pun istirahat untuk mempersiapkan shalat magrib. Sungguh hari hari Minggu yang sangat menyibukkan.

Tuesday, 31 January 2012

ANAKKU MASIH SAKIT HARI INI

Selasa pagi ini hujan gerimis seakan menahan langkahku tuk berangkat melaksanakan tugas mulia di sekolah. Fakih masih sakit, badannya panas. Batuknya masih terdengar berat dan kering. Ia tidak sekolah lagi hari ini. Jadi aku berangkat bareng Ii ke sekolah dan bisa lebih pagi.

Di sekolah seperti biasa, datang paling awal. Masih banyak yang harus kuprins pagi ini. Segera kubuka laptop dan mengeprin beberapa program semester untuk guru-guru.

Masuk kelas mengajar matematika, bahasan sekarang sudah sampai pada penjumlahan pecahan, Alhamdulillah walau agak sedikit lambat, siswa banyak juga yang memahami cara penjumlahan pecahan. Namun karena hari ini ada rencana rapat dinas antar guru, kepala sekolah dan penjaga personal SDN Kertajaya 04, maka hanya satu pelajaran siswa sudah dipulangkan.

Rapat dimulai pukul 10.00. Pengarahan dari kepala sekolah mengenai kedisiplinan dan kedinasan. Pukul 11.45 rapat berakhir. Kita makan bersama, enak juga menu hari ini. Nasih pulen, ayam bakar, sambal dan lalapan. Nikmat sekali rasanya.

Selesai rapat semua pulang. Aku harus segera pulang karena rencananya akan mengantarkan Fakih ke bidan anak untuk memeriksa kesehatannya dan sekalian berobat. Kondisinya sudah lemah sekali. Nafsu makannya pun sudah hilang.

Usai shalat dhuhur aku dan uminya Fakih mengatar Fakih ke Bidan Cahyati di Kabasiran. Setelah pulang dan istirahat pukul 15.00 berangkat cuci motor ke Kabasiran, sambil penasaran cari burung ciblek. Aku kangen pengen punya burung ciblek lagi. Makanya sore ini mampir ke Mang Adang tukang burung di Parungpanjang. Alhamdulillah walau ekornya belum tumbuh rapih, ada satu ekor lagi. Harganya Rp 60.000. Sama sekali tidak bisa ditawar. Akupun membelinya.

Malamnya temani Fakih yang sejak telah minum obat sore tadi Nampak tidur lelap. Wajahnya pucat fasi. Badannya kelihatan semakin kurus, karena ia sama sekali tidak nafsu makan. Hingga malam tidak banyak yang kulakukan. Bahkan istirahat pun aku lakukan lebih awal.

Monday, 30 January 2012

KE PASAR BURUNG CURUG

Hari Minggu, agak nekat memang, pagi ini setelah diguyur hujan sejak pukul empat subuh tadi, aku bersikeras pergi ke Pasar Burung Curug. Aku mau cari burung ciblek (Mininin). Duh ternyata lokasinya yang tadinya di sepanjang jalan gang sempit, sekarang pindah ke dalam lapangan bola. Becek sekali, sandal sampai sussah diangkat dari tanah becek yang lengket.

Alhamdulillah tak berlama-lama, burung ciblek kudapatkan hanya duapuluh ribuan satunya, kubeli dua ekor yang menurut pengamatanku bagus dan sehat-sehat. Kuharap burung ini akan memuaskan aku. Tak butuh terlalu lama, dua ekor burung ini akan berbunyi.

Di tukang burung Parungpanjang dan Cicangkal ciblek sekarang mahal sekali. Pasarannya diatas seraturlimapuluh riburupiah. Di pasar curug ini masih sangat murah, asal bisa bertahan hidup pasti berhasil, sesuai yang kuharapkan.

Pukul sebelas tigapuluh aku baru sampai rumah. Naik Angkot memang selalu lambat karena lama ngetem nunggu penumpang. Wajar kalau aku datang sesiang ini ke rumah, padahal dari Parungpanjang aku bawa motor sendiri, yang kututup di penitipan motor sisi pasar Parungpanjang.

Hari ini akau banyak pekerjaan, mau prins Program Semester dari kelas 1 sampai kelas 6. Makanya setelah memaksukkan burung ke kandang, aku segera melaksanakan tugas-tugasku.

Duh sebuah musibah, satu ekor ciblek yang baru kubeli tadi, lepas dari kandangnya. Dasar terlalu ceroboh, aku tidak control dulu, ternyata kandang yang lama tidak kupakai itu sudah rusak. Beberapa bagiannya sudah rapuh. Jadi dapat dengan mudah diebol burung.

Ciblekku tinggal satu. Sore ini malah sudah mulai bunyi. Bakalan bagus nih. Syukurlah beli dua sisa satu pun tidak apa-apa.

Sunday, 29 January 2012

KKG YANG DIGUYUR HUJAN

Sabtu pagi, Burung ketilang peliharaanku sudah ramai membangunkan seisi rumah, mendahului alrm HP yang kustell pukul 04 pagi. Aku bangun dan mempersipkan diri tuk berangkat mengantarkan Arsa Ke Sekolahannya, pukul 05.00 pagi ini. Anak kelas 9 MTs Al-Makmur akan bertamsya ke Ci Ater Bandung hari ini. Dan Arsa anakku ikut dalam rombongan itu.

Sepulang mengantarkan Arsa, siapkan berangkat KKG, di SDN Kertajaya 06. Seperti biasanya aku harus mempersiapkan materi setiap kali kegiatan KKG, dan hari ini kegiatanna adalah persiapan pembagian tugas penyusunan kisi-kisi UTS semester genap.

KKG berjalan lancar. Pukul 11.55 acara ditutup. Hujan deras menahan langkah para guru peserta KKG untuk tidak segera pulang. Aku bersama Pak Indra guru dari SDN Kertajaya 03, harus ke SDN Kertajaya 02. Mau copy program semester 2. Entah kenapa program semester 2 di laptopku lenyap. Kehapus atau dilahap virus..? Entah lah. Dan karena itulah aku musti ke SDN Kerajaya 02 untuk cupy program semster ke Pak Herry.

Tiga motor meluncur di jalan yang kuyup disiram air hujan. Bahkan beberapa bagiannya banyak yang menggenang, terutama jalan-jalan yang berlubang, karena aspalnya gompal.

Di perjalanan hujan deras turun lagi, kami bertiga mampir berteduh di depan ruah warga. Lumayan sekitar duapuluh menitan berteduh akhirnya hujan reda juga. Proses copy program semester pun lancar.

Sampai rumah makan siang. Istirahat dan mengejarkan beberapa pekerjaan rutin.

Pukul 21.00 aku berangkat jemput Arsa ke MTs Almakmur. Sambil nunggu kupesan pempek palembang, alhamdulillah makanan kesukaanku itu kulahap habis. Satu porsi hanya enam ribu saja. Standar untuk jajanan pengganjal perut.

Pukul 23.00 modil rombongan bus dari Ci Ater baru datang. Arsa naik di bus nomor 4. Datang ke dua, setelah nomor 3.Arsa tahu aku nunggu dimana sebab sebelumnya sudah berkomunukasi lewat sms. Arsa bawa oleh-oleh nanas dan makanan khas lainnya. Sayang pesananku tape Bandung lupa ia beli.

Film "HERO" dengan bintang Jet Lie, masih ada. Film yang sejak dua hari ini aku tunggu. Tapi mengecewakan. Filmnya bikin ngantuk. Terlalu klasik. Bikin langkahku semakin pasti untuk segera ke kamar dan menunutup hari ini dengan tidur nyenyak.

Friday, 27 January 2012

Hari ini aku tidak antar Fakih ke TK, motorku pecah ban yang belakang. Arsa yang antar sekalian lewat berangkat ke MTs Almakmur. Anak laki-laki dari istriku yang pertama itu sekarang sudah kelas III di MTs Al-Makmur.

Berangkat kesekolah sambil naik motor yang bannya kempes. Terus mampir di tambal ban punyanya Hera, dekat sekolahanku. Dari bengekel aku jalan kaki sedikit. Kunci motor kutinggal di bengkel supaya kalau sudah selesai nambal bannya, motor di antar ke sekolah oleh Hera.

Tidak lama, motor sudah doiantar ke sekolah. Ternyata harus ganti ban dalam, cuma 10.000 rupiah saja karena ban penggantinya bukan ban baru.

Pukul delapan, berangkat ke lapangan bola Kp. Gugunung. Hari ini ada latihan sepak bola dengan anak kelas VI. Aku ikut main, itu-itu mancing keringat sambil gerak badan.

Aku memasukkan empat gol. Peluang kuciptakan banyak baik untuk aku masukkan, maupun memberi operan cantik pada teman-teman satu timku.
Tidak jelas posisi skor berapa, yang pasti timku menang. Lumayan keringatan juga lah.

Sampai sekolah aku bantu andiministrasi rekan-rekan guru honorer yang mau mengajukan tunjangan fungsional. Bahkan printerku bawa pulang supaya bisa menyelesaikannya di rumah.

Kujemput Fakih ke teka. Pulang sampai rumah sudah pukul 11.45. Aku tidak shalat jumat hari ini. Entah kenapa yah, aku malas shalat jumat di mesjid Tarogong. Rasanya jengah.

Sore sampai malamnya aku menyelesaikan sisa pekerjaan membuat surat-surat untuk guru honorer mengajukan tunjangan fungsional.

Thursday, 26 January 2012

Kamis ini tak banyak kegiatan yang aku lakukan. Hanya rutinitas biasa saja, antar Fakih ke TK, terus ke sekolah. Yang beda hanya satu kegiatan, hari ini ada pemotoan kls VI untuk ijazah. Biasa yang datang Mas Ripan, tukang poto langganan.

Pulang dari sekolah jemput Fakih. Sampai rumah cuma sempet shalat dhuhur, langsung berangkat ke kantor POS GIRO Parungpanjang. Dah telat bayar listrik. Di depan Kantor Pos motorku jatuh, untung pelan jadi tidak ada yang rusak dan aku juga tidak ada yang luka. Permasalahannya cuma kurang keseimbangan saja.

Sampai rumah makan siang. Aku baru sadar, dari pagi aku belum makan nasi. Pagi tadi cuma sarapan pisang goreng dang air putih. Selesai makan istirahat sebentar. Terus tidur siang.

Bangun pukul 15.25. Langsung nonton Bola di ANTV. Gersik lawan Lamongan. Seru juga, skor 1.1.

Sore hingga malam lebih banyak istirahat. Bahkan untuk buka laptot saja malas, makanya catatan harian ini baru bisa aku poskan pagi Jumat ini.

Wednesday, 25 January 2012

Anaku Fakih agak telat bangun pagi ini. Jadi serba telat semuanya, sarapan telat, berangkat antar Fakih ke sekolah juga telat. Untungnya disiplin di sekolah tempat tugasku masih belum maksimal, walau aku agak telat tetap saja kedatanganku ke sekolah masih nomor wahid.
Hari ini aku mengumpulkan siswa kelas V untuk persiapan porseni. Pak Amin yang guru kelas V agak telat datang, jadi aku kebingungan memilih siswa-siswa potensial dari kelas V.
Jelang aku masuk kelas Pak Amin datang, kutugaskan Pak Amin untuk memilih siswa-siswa potensial sesuai dengan bidang-bidang yang dikuasai oleh siswa. Alhamdulillah terkumpul beberapa siswa yang konon katanya masuk 10 bersar saat naik ke kls V.
Selepas member materi pelajaran matematika tentang Merubah pecahan biasa menjadi persen. Hujan turun deras disertai angin kencang. Ruangan kelasku dan kelas VI.B bocor. Gentingnya banyak yang patah. Anak-anak keganggu belajarnya. Semua kusuruh ke luar kelas, takut terjadi sesuau yang tidak diinginkan karena angin semakin kencang.
Pak Amin bersama Adi penjaga sekolah yang baru, memperbaiki genteng yang rusak. Semoga tidak bocor lagi saat hujan nanti.
Bu Naimah membawa Mie instan lengkap dengan suas sambal Indofood, telur dan cesim. Kompor gasnya tidak bisa dipakai, sudah rusak nampaknya. Bu Novi membawa mie instan ke rumahnya. Mie itu dimasak di rumah Bu Novi. Lejat juga saat hujan deras, menyantap Mie instan rebus pakai telur dan saus sambal. Sebenarnya mie bukan makanan paporitku. Bahkan aku sering merasa bermasalah di lambung setiap habis menyantap Mie instan, tapi semoga hari ini aman-aman saja.
Pulang dari sekolah pukul 11.35, langsung meluncur ke TK Alfhat jemput Fakih. Fakih sudah menunggu, aku pun pulang. Kenari burung kesayangnku kuyup, tadi istriku ngaji jadi saat hujan deras turun burung kenari kehujanan. Bahkan ketilangku juga masih kelihatan basah. Sebentar kuganti makanannya. Dan kembali kugantung di tempatnya.
Sore ini seperti biasa hiburannya nonon Bola ISL. Selebihnya aku istirahat. Dan menulis catatan harian ini tentunya.

Tuesday, 24 January 2012

Paling males kalau sudah dapat tugas harus ke kantor UPT. Kurikulum XVIII Kecamatan Rumpin. Jalannya ancur. Sebagian becek karena kena tetesan air truk pembawa pasir, sebagian lagi berdebu bubuk pasir halus. Kalau bukan karena dapat tugas dari kepala sekolah yang tadi telepon masih ada di Bandung, rasanya aku tidak mau pergi. Dan tugas membuat Daftar Personal Guru dan Siswa belum selesai aku garap. Pagi ini hanya membuat NUPTK saja.

Untungnya sekalian jalan aku ada keperluan lain, bertemu Pak Toni bagian kepegawaian untuk memberikan surat keterangan yang kemarin dapat dari kampus STKIP Kususma Negara untuk melengkapi persyaratan usulan naik golongan ke IIIA. Sekalian ada tugas mengantarkan daftar isisan identitas sekolah masalah usulan rehab bangunan dan kekurangan guru.

Pukul 11.30. aku sampai di kantor UPTK, ramai sekali kepala sekolah sedang rapat menyusun rencana persiapan lomba PORSENI. Aku langsung masuk ke ruangan Pak Toni, data kuserahkan, tinggal nunggu Bu Susi katanya. Saat keluar ruangan Pak Herman Kepala Sekolah SDN Cidokom, memanggil. Ia mengatakan bahwa saya mendapat tugas menjadi penanggung jawab lomba menggambar tingkat kecamatan sampai Kopel ke Kabupaten Bogor. Duh kerjaan baru lagi. Tapi syukur Alhamdulillah, berarti para kepala sekolah masih memperhitungkan kemampuanku dalam melatih seni rupa terutama menggambar.

Pukul 12.30, setelah melengkapi kekuarangan data analisis kerusakan gedung, aku pulang. Jalanan makin berdebu, cuaca panas, perut keroncongan. Di Cicangkal makan di Warteg dekat Alfa Cicangkal. Ramai sekali orang sedang makan siang. Aku ketemua Pak Ii Samsyuri guru Leuwiranji 03 yang sedang makan siang.

Selesai makan, terus meluncur pulang ke rumah. Kepala rasanya pening sehabis perjalanan dicuaca panas. Aku menyusuh anakku Arsa untuk mengambil buah rambutan di pohon kebun sebelah bawah barat rumahku. Enak juga makan rambutan aceh parakan saat kepala penat begini. Walau pun kondisi buahnya belum masak benar, tapi cukup manjur mengusir penat di kepala.

Sore ini aku berebutan nonton TV dengan Fakih. Aku mau nonton bola PERSIB lawan PSPS, tapi Fakih mau nonton kartun. Aku cumin nonton babak pertama, sedangkan babak kedua cukup nonton di HP, tapi tiba-tiba batunya ngedrop. Pertandingan sedang seru-serunya, skor 2 – 1 kemenangan Bandung. 10 menit jelang usia, aku merayu Fakih untuk nonton bola sebentar. Alhamdulillah dia mengijinkan. Sampai selesai juga akhirnya nonton.

Pukul 17.00 aku meluncur ke Alfa Cicangkal menjemput Ii yang pulang dari Darmaga Kampus IPB. Sampai di Cicangkal aku melihat Pak Ujang mantan Sekdes Mekarsari. Dia pernah jadi orang yang sangat membenci aku saat pemilihan kepala desa beberapa tahun lalu. Dia saksi Haji Haerudin yang sangat disalahkan oleh keluarga dan pendukung Haji Haerudin karena ketidak tegasannya mengakibatkan kekalahan yang fatal. Duh suatu kejadian yang semoga tidak terulang dalam hidupku. Karena sangat melelahkan, menegangkan, menakutkan, mencekam, dan bahkan membuat aku terpaksa harus pergi meninggalkan rumah selama Sembilan bulan dan pindah mengajar ke SDN Sampay Desa Rabak Rumpin, padahal istriku masik punya anak bayi. Yah.. Fakih masih bayi saat ini.

Adzan Magrih berkumandang dari masjid. Ii baru sampai, katanya ia dioper pindah mobil angkot karena mobil yang ia tumpangi tidak sampai Cicangkal Cuma sampai Perum Griya Suradita. Itu lah nakalnya supir angkot di kampungku, seenaknya saja mengoper penumpang ditengah jalan. Tidak punya tanggung jawab. Padahal waktu awal naik ia terkadang memaksa kita untuk naik ke mobilnya.

Sampai rumah masih ditunggu Fakih dan istriku untuk shalat berjamaah. Selesai bombing Fakih baca Iqra dan memperlancar baca buku paket dari TK, aku buka internet dan berhasil posting buku harian ini, serta catatan harian Minggu, serta Senin. Bahkan, sempat buat humor ringan tema pendidikan hari ini.