NAVIGASI

Wednesday, 29 February 2012

HUMOR TENTANG PENDIDIKAN EPISODE 3

Tidak terasa kita sudah bertemu di episode ke 3, humor tentang pendidikan. Kenapa kok saya nulis humor tentang pendidikan terus ? Karena pendidikan di Indonesia masih sangat perlu dihibur dengan humoran segar. Karena pendidikan yang segar lebih bervitanim dibanding dengan Buah Segar hasil Expor.

Stttt… jangan berisik. Sekarang kita akan bicara soal kepala sekolah. Kalau dia dengar bisa dipecat saya.
Kepala sekolah adalah guru yang diberi tambahan tugas mengatur administrasi kantor, motivator, supervisor, sekaligus tukang membersihakan kantor, jika tidak ada penjaga sekolahnya. Tapi sekarang malah ada indikasi kepala sekolah adalah guru yang mempunyai kendaraan bermotor lebih bagus dari gurunya.

Kepala sekolah mempunyai tugas menilai kinerja para guru disekolahnya. Kepala sekolah dalam menilai gurunya harus objektif, terbuka, adil, makmur, aman , sentosa, gemah ripah loch…kok ngaco.

Kepala sekolah sama dengan kepala ikan. Sesekali muncul ke permukaan, terus menghilang tanpa kabar, apalagi kalau sedang banyak santapan yang melezatkan. 

Kepala sekolah, sama dengan kepala kendaraan, kalau sudah panas sering ngadat dan mogok di tengah jalan. Kepala sekolah sama dengan kepala kereta api, sering teriak-teriak keras sebelum sampai ke tujuan yang diharapkan, tidak perduli teriakknya membuat telinga orang lain sakit.

Kepala sekolah yang baik adalah kepala sekolah yang tidak cuman pandai menjumlah, mengurang, dan mengali. Tapi juga harus pandai membagi. Membagi tugas kepada rekan kerjanya di sekolah, dan membagi honor yang adil sesuai dengan kinerja bawahannya.

Kepala sekolah haruslah orang yang memiliki kelebihan. Kelebihan dalam pengetahuan, teknik kepemimpinan, dan keimanan kepada Tuhan yang Maha Esa. Jangan Cuma mempunyai kelebihan penghasilan disbanding bawahnya bawahannya.

Menyangkut BOS, kepala sekolah adalah orang yang harus mampu mengatur proses pengeluarannya, sesuai dengan petunjuk teknis pengelolaan BOS, bukan menurut teknik petunjuk istri dan keluarganya di rumah. 

Kepala sekolah harus membersihkan lingkungan sekolahnya dari Korupsi, Kolusi dan nepotisme. Jangan memasukkan anak, saudara, kerabat atau kenalannya menjadi guru tanpa memperhatikan kompetensi orang tersebut. Jangan pilih bulu pada bawahannya, karena kalau kepala sekolah pilih bulu, kasihan bawahanya yang tidak punya bulu.

Kepala sekolah harus mempunyai akhlak mulia. Akhal yang harus menjadi tauladan bagi rekan kerja dan bawahannya, bukan akhlak bali, akhlak condet, eh… itu mah salak yah…? Maaf pembaca jangan salak dong. Saya jadi takut nih. Ih itu mah galak, yah.

Kepala sekolah bukan pegembala ternak, yang dapat seenaknya menggiring bawahnannya sesuka hatinya, tanpa arah yang jelas dan tujuan yang jelas pula. Sebab kalau salah memilih arah tujuan bisa nyasar kemana-mana? Makanya supaya tahu arah dan tujuan yang benar, tanyakan pada sopir atau kondektur, asal jangan Tanya pada pilot saat dalam penerbangan.

Kepala sekolah harus meliki Visi, Misi dan moto. Mau poto babat kek, moto ayam ke. Semangkok lima ribu. Hehe…he…..he… ngawur banget sih. Namanya juga humor, tidak apa-apa yah.

Kepala sekolah memiliki kewajiban mengajar di kelas sebagai guru mata pelajaran, minimal 6 jam perminggunya. Artinya setiap satu Minggu wajib mengajar enam jam. Tapi banyak guru yang tidak mengajar, denganalas an ia sudah mengajar anaknya di rumah. Atau sibuk mengurus keuangan BOS yang rumit dan banyak aturannya.

Saturday, 25 February 2012

HUMOR TEMA PENDIDIKAN EPOSE 2

Biacara soal Pendidikan, maka akan berbicara masalah sekolah. Bersekolah bagi kebanyakan masyakarat Indonesia kurang dianggap menjanjikan. Kenapa…? Karena kita terlalu banyak mendengar janji-janji palsu. Dan semua rakyat Indonesia sudah bosan menagagih janji yang tidak pernah dilunasi. Kita tidak butuh janji, tapi butuh bukti, butuh beras, butuh kepastian dan butuh ketegasan pemerintah untuk tidak selalu menaikkan harga BBM.

Sekolah bukan lah sek… o… la.. lah. Sekolah bukanlah tempat belajar mencoba hal-hal yang dilarang tapi tempat belajar hal-hal yang dianjurkan. Tapi apakah siswa tahu mana yang dilarang dan mana yang dianjurkan? Jangan kan siswa, orang-orang pilihan di tingkat DPR saja seperti banyak tidak tahunya di banding dengan tahunya. Lihat saja di meja sidang. Jawabanya Cuma sekitar..”tidak tahu.” Atau “lupa.” Apalagi siwa, pasti lebih bayak tidak tahu dan lebih banyak lupa.

Sekolah adalah tempat belajar. Dan sayangnya belajar kok bisa diartikan siswa sebagai bela diri lalu menghajar. Hasilnya ya jadi tauran. Belajar adalah upaya pelajar untuk menuntut ilmu. Tapi pelajar justru mempunyai kesalahan arti menjadi perdayai lawan dengan dihajar. Itukan jadi kurang ajar namanya. Coba saja, masa pelajar SD sudah berani menusuk temannya dengan senjata tajam..?

Saat diteliti oleh akhli jawabanya pasti mencari kambing hitam pada acara-acara TV yang penuh kekerasan. Kok kambing hitam di salahkan…? Emang kambing hitam ikut sekolah? Dan kasus AM siswa SD yang menusuk temannya itu, katanya karena di rumahnya sering mendapatkan perlakukan kekerasan dari keluarganya. Dan akibat dari terlalu banyak bemain game online. Ini ada indikasi bahwa gurunya di sekolah sudah kalah pengaruh dengan game online. Atau jangan-jangan gurunya juga keranjingan game online, sehingga siswa-siswanya termotivasi untuk bermain game online juga. Kan ada pribahasa yang mengatakan “Buah apel tidak akan jatuh jauh dari pohonnya.”

Tapi memang pribahasa itu sudah tidak tepat kali yah. Buktinya buah apel sekarang sudah banyak jatuh di pasar buah, jatuh dari keranjang buah, jatuh dari kulkas, padahal di situ tidak ada pohon apelnya. Makanya tidak aneh kalau pribadi siswa akan sangat jauh dari karate gurunya. Sebab guru dan siswa jarang makan apel. Kok jadi ngaco.

Sekolah menduduki tempat yang paling menakutkan tingkat kedua setelah kematian. Kenapa…? Karena sekolah dan kematian sama-sama membutuhkan biaya yang cukup besar. Dan sama-sama selalu membuat repot dengan segala permasalahnya.

Sekolah meruapakan rangkaian perasaan takut sejak awal sampai akhir. Saat awal masuk sekolah, siswa takut mendapat sekolah yang bukan pilihannya. Saat kenaikan kelas, siswa takut tidak naik. Saat Ujian siswa takut tidak lulus. Saat lulus siswa juga takut tidak dapat menebus ijazahnya.
Sekolah identik dengan peraihan ijazah. Oleh karena itu, maka bagi mereka yang tidak mempunyai Ijazah SD, ia dapat mengikuti Kejar Paket A. Yang tidak punyai ijazah SMP, ia bisa ikut Kejar Paket B. Yang tidak punya Ijazah SMA, bisa mengikuti Kejar Paket C. Yang mempunyai ijazah tanpa sekolah, seharusnya dikejar polisi dong yah…?

Namanya juka Kejar Paket. Makanya tidak aneh jika sekolahnya hanya satu tahun terus dapat ijazah. Kejar paket kan hampir sama dengan kejat tayang bagi acara TV. Dikerjakan dengan cepat, yang penting laku walau harganya murah, masalah kualitas bukan jaminan.

Sebentar lagi malah akan dicanangkan wajib sekolah 12 tahu. Loch… yang sebembilan tahun saja belum berhasil kok sudah yang ke 12 sih..? Jaangan-jangan ikut-ikutan film nasional nih, dari Kuntil anak, ke kuntil anak 2, sampai kuntil anak vs kuntil ibu.

Sekolah di Indonesia bisa seperti cerita sinetron, berisikan khayalan dan mimpi-mimpi indah, direkayasa alur kisahnya, dipanjang-panjangkan ceritanya, dan akhir episodenya tetap membingungkan penontonnya. Artinya, walau susah payah sekolah, setelah lulus, tetap bingung harus kemana…?

Ini penomena betapa menakutkannya sekolah bagai anak. Ada sebuah dialog seorang anak wanita lulusan SMP ditanya papanya :
“ Nak… kamu pilih melanjutkan sekolah atau papah nikahkan…?”
“ Tidak dua-duanya…” Jawab anaknya pasti dan meyakinkan.
“ Kenapa…?”
“ Karena sekolah dan nikah sama-sama bisa membuat aku stress, pah.”

Penomena itu menandakan bahwa banyak anak merasa tidak mempunyai harapan saat ia besekolah. Seolah-olah sekolah bukanlah pilihan yang terbaik untuk dirinya. Dia tidak mau menjadi orang pintar, karena orang pintar hanya diukur dengan minum obat masuk angin.
Biacara soal Pendidikan, maka akan berbicara masalah sekolah. Bersekolah bagi kebanyakan masyakarat Indonesia kurang dianggap menjanjikan. Kenapa…? Karena kita terlalu banyak mendengar janji-janji palsu. Dan semua rakyat Indonesia sudah bosan menagagih janji yang tidak pernah dilunasi. Kita tidak butuh janji, tapi butuh bukti, butuh beras, butuh kepastian dan butuh ketegasan pemerintah untuk tidak selalu menaikkan harga BBM.

Sekolah bukan lah sek… o… la.. lah. Sekolah bukanlah tempat belajar mencoba hal-hal yang dilarang tapi tempat belajar hal-hal yang dianjurkan. Tapi apakah siswa tahu mana yang dilarang dan mana yang dianjurkan? Jangan kan siswa, orang-orang pilihan di tingkat DPR saja seperti banyak tidak tahunya di banding dengan tahunya. Lihat saja di meja sidang. Jawabanya Cuma sekitar..”tidak tahu.” Atau “lupa.” Apalagi siwa, pasti lebih bayak tidak tahu dan lebih banyak lupa.

Sekolah adalah tempat belajar. Dan sayangnya belajar kok bisa diartikan siswa sebagai bela diri lalu menghajar. Hasilnya ya jadi tauran. Belajar adalah upaya pelajar untuk menuntut ilmu. Tapi pelajar justru mempunyai kesalahan arti menjadi perdayai lawan dengan dihajar. Itukan jadi kurang ajar namanya. Coba saja, masa pelajar SD sudah berani menusuk temannya dengan senjata tajam..?

Saat diteliti oleh akhli jawabanya pasti mencari kambing hitam pada acara-acara TV yang penuh kekerasan. Kok kambing hitam di salahkan…? Emang kambing hitam ikut sekolah? Dan kasus AM siswa SD yang menusuk temannya itu, katanya karena di rumahnya sering mendapatkan perlakukan kekerasan dari keluarganya. Dan akibat dari terlalu banyak bemain game online. Ini ada indikasi bahwa gurunya di sekolah sudah kalah pengaruh dengan game online. Atau jangan-jangan gurunya juga keranjingan game online, sehingga siswa-siswanya termotivasi untuk bermain game online juga. Kan ada pribahasa yang mengatakan “Buah apel tidak akan jatuh jauh dari pohonnya.”

Tapi memang pribahasa itu sudah tidak tepat kali yah. Buktinya buah apel sekarang sudah banyak jatuh di pasar buah, jatuh dari keranjang buah, jatuh dari kulkas, padahal di situ tidak ada pohon apelnya. Makanya tidak aneh kalau pribadi siswa akan sangat jauh dari karate gurunya. Sebab guru dan siswa jarang makan apel. Kok jadi ngaco.

Sekolah menduduki tempat yang paling menakutkan tingkat kedua setelah kematian. Kenapa…? Karena sekolah dan kematian sama-sama membutuhkan biaya yang cukup besar. Dan sama-sama selalu membuat repot dengan segala permasalahnya.

Sekolah meruapakan rangkaian perasaan takut sejak awal sampai akhir. Saat awal masuk sekolah, siswa takut mendapat sekolah yang bukan pilihannya. Saat kenaikan kelas, siswa takut tidak naik. Saat Ujian siswa takut tidak lulus. Saat lulus siswa juga takut tidak dapat menebus ijazahnya.

Sekolah identik dengan peraihan ijazah. Oleh karena itu, maka bagi mereka yang tidak mempunyai Ijazah SD, ia dapat mengikuti Kejar Paket A. Yang tidak punyai ijazah SMP, ia bisa ikut Kejar Paket B. Yang tidak punya Ijazah SMA, bisa mengikuti Kejar Paket C. Yang mempunyai ijazah tanpa sekolah, seharusnya dikejar polisi dong yah…?

Namanya juka Kejar Paket. Makanya tidak aneh jika sekolahnya hanya satu tahun terus dapat ijazah. Kejar paket kan hampir sama dengan kejat tayang bagi acara TV. Dikerjakan dengan cepat, yang penting laku walau harganya murah, masalah kualitas bukan jaminan.

Sebentar lagi malah akan dicanangkan wajib sekolah 12 tahu. Loch… yang sebembilan tahun saja belum berhasil kok sudah yang ke 12 sih..? Jaangan-jangan ikut-ikutan film nasional nih, dari Kuntil anak, ke kuntil anak 2, sampai kuntil anak vs kuntil ibu.

Sekolah di Indonesia bisa seperti cerita sinetron, berisikan khayalan dan mimpi-mimpi indah, direkayasa alur kisahnya, dipanjang-panjangkan ceritanya, dan akhir episodenya tetap membingungkan penontonnya. Artinya, walau susah payah sekolah, setelah lulus, tetap bingung harus kemana…?

Ini penomena betapa menakutkannya sekolah bagai anak. Ada sebuah dialog seorang anak wanita lulusan SMP ditanya papanya :

“ Nak… kamu pilih melanjutkan sekolah atau papah nikahkan…?”

“ Tidak dua-duanya…” Jawab anaknya pasti dan meyakinkan.

“ Kenapa…?”

“ Karena sekolah dan nikah sama-sama bisa membuat aku stress, pah.”

Penomena itu menandakan bahwa banyak anak merasa tidak mempunyai harapan saat ia besekolah. Seolah-olah sekolah bukanlah pilihan yang terbaik untuk dirinya. Dia tidak mau menjadi orang pintar, karena orang pintar hanya diukur dengan minum obat masuk angin.

Wednesday, 22 February 2012

(CERITA HUMOR) LASKAR LIMA “D” DALAM MENEMBUS BATAS

BAGIAN I

Alkisah, pasti beda dengan alpukat. Apalagi dengan Almanak. Kalau tidak percaya, Tanya saja toko sebalah, pasti juga tidak punya jawabannya, karena yang tahu jawabannya cuman “rumput yang begoyang” itu pun baru menurut lagu Bang Iwan Fals. Cerita yang terjadi di negeri Antah Berantah, tetangganya negeri Antah Dimana, yang berdekatan dengan negeri Antah lah aku tidak tahu ini adalah kisah nyata. Itu pun kalau pembaca percaya, sebab penulis sekali pun sama sekali tidak percaya. Sumpah berani kaya seumur hidup, penulis sama sekali tidak percaya kalau cerita ini kisah nyata.

Adalah Dodo, Didi, Dadang, Dudung, dan Diding merupakan lima sekawan yang berjulu Laskar lima D. Mereka bagai seikat kangkung yang tak terpisahkan, ibarat konde rambut yang terpadukan dan seperti segumpal awan yang tak teruraikan. Bersekolah di SD Lidah Bergoyang. Sebuah sekolah berdinding papan kayu dan beratap rumbia yang Alhamdulillah sudah hampir enam tahun sejak didirikan belum pernah diperbaiki. Bangunannya hanya ada satu lokal. Tiga kelas belajar, satu ruang guru, tidak ada ruang kantor kepala sekolah, dan tidak terdapat WC siswa maupun guru. Muridnya saja hanya ada 30 orang, terdiri dari enam kelas. Rata-rata per kelasnya 30 orang dibagi 6 hasilnya hitung sendiri yah.

Sekolah ini memang hampir saja ditutup oleh pemerintah desa setempat. Selaian karena muridnya hanya sedikit, juga letaknya yang sangat menghawatirkan. Lokasinya di pinggir sebelah kiri sungai lebar berbatu-batu besar, tapi berair bening. Aliran airnya agak deras. Derai laju airnya yang menyentuh batu-batu besar seperti menimbulkan bunyi irama lagu kantri yang mendayu-dayu. Bahkan terkadang bisa juga mengeluarkan lagu hip-hop, dangdut, nasyid, atau rok, tergantung aliran mana yang sedang naik daun. Malah belakangan ini cenderung mengalunkan lagu-lagu para Boy Band ternama dari Negara tetangga.

Di sisi kanan sekolah terdapat hamparan tanah lapang yang berilalang dan rumput-rumput panjang yang menghalngi pandang, tempat kambing dan kerbau berncengkrama saling mendikusikan nasibnya masing-masing. Tempat sapi-sapi gemuk yang saling berbagi tip-tip terbaik demi membahagiakan tuanya. Dan tempat anak-anak yang terkadang terpaksa harus terkena ranjau kotoran sapi dan kerbau saat berangkat ke sekolah.

Tidak ada terdapat jalan raya di dekat sekolah. Hanya jalan setapak tanah merah yang menghubungkan sekolah ini ke pemukiman kampung kumuh tempat tinggal sebagian besar murid di sekolah ini. Sebuah perkampungan terisolir yang tidak pernah tersentuh pembangunan pasilitas umum dari pemerintah negeri Antah Berntah yang masih sangat mentah, bergetah dan sering membuat muntah-muntah. “Mungkin penduduk di tempat ini bukan pendukung pemimpin berkuasa saat Pilkada lalu”. Sehingga tidak terperhatikan. Bahkan adat budayanya pun masih asri sesuai dengan peradaban leluhurnya, tidak terubahkan oleh kemajuan teknologi, dan moderenisasi, yang terlalu banyak aksi, walaupun agak sedikit bau terasi.

Sebahagian siswa lain berasal dari perkampungan agak modern yang terletak di seberang sungai, sekitar tiga kilo empat ons jaraknya. Mereka harus menyeberangi sunga berbau-batu besar itu setiap hari. Baik saat datang ke sekolah maupun pulang dari sekolah. Tanpa jembatan, tanpa rakit atau perahu. Mereka menyeberangi sungai hanya dengan melompat dari batu ke batu, makanya tidak aneh kalau terdapat perbedaan mencolok bagi siswa-siswa yang berasal dari pemukiman di sebarang sungai itu. Betis mereka lumayan besar-besar menyerupai umbi talas Bogor yang banyak dipampang di sepanjang jalan sekitar Bogor. Semua itu karena mereka terbiasa berolahraga setiap hari melompati batu-batu di sungai itu.

Gurunya ada tiga orang, Pak Daman, Bu Dimin, dan Pak Durohim yang merangkap kepala sekolah. Mereka putra pribumi dari kampung kumuh yang masih asri itu, karena nasib baiknya mereka bisa sekolah dari SD sampai SMP di kota dan sangat kebetulan hanya mereka bertiga yang sekolah sampai SMP, kemudian karena keterbatasan biaya kembali ke kampung, lalu mendirikan sekolah SD ini.Mereka hanya lah Guru sukarelawan berdedikasi tinggi yang memiliki keinginan memperbaiki kampungnya melalui jalur pendidikan. Guru yang bercita-cita membuka wawasan saudara-saudaranya agar bisa terbang tinggi melintasi dunia dengan ilmu dan pengetahuan yang mereka miliki. Tapi itu ternyata tidak mudah, sudah hampir enam tahun mendirikan sekolah ini, ketiga orang guru yang satu sama lain saling bersaudara ini belum melihat hasil nyata dari usaha kerasnya itu.

Huf…!! Jadi kebanyakan bercerita tentang latar belakang nih yah. Pembaca nanti marah-marah, “mana dialognya ?” gitu katanya. Tapi sebentar dulu. Saya mohon ijin untuk kembali menceritakan tentang Dodo, Didi, Dadang, Dudung, dan Diding, yang belakangan ini mulai resah gelisah tapi Alhamdulillah tidak basah. Meraka dirundung perasaan bingung, akan kemana melanjutkan sekolah setalah selesai tamat di SD ini.

“Kita ke Kota saja, Ding.!” Usul Dadang pada Diding disela obrolan mereka di bawah pohon kecapi, tepi sungai sambil menikmati hembusan angin yang sejuk, nakal mengusap-usap kulit pipi kelima anak kampung yang dekil dan kasar berdaki itu.

“Ya…. Di sekitar kampung kita kan tidak ada sekolah tingkat LSTP. Baiknya kita melanjutkan sekolah ke Kota saja.” Didi, mendukung Usul Dadang. “Seperti guru-guru kita dulu.” Lanjutnya.

“Limabelas kilo meter kawan jaraknya…? Bagaimana caranya setiap hari kita bisa ke sana…?” Ujar Diding dengan gaya seperti Om Rendra si Burung Merak membacakan puisi.

“Harus jam berapa kita berangkat dari rumah…?” Dodo menerawang jauh.

“Sebelum ayam berkokok lah.” Sela Dudung.

“Tapi aku sudah tidak punya ayam jago lagi, ayamku dijual.” Keluh Dadang yang memang sering tidak nyambung omongannya.

“Ah… kamu Dang. Soal ayam dijual kok dibawa-bawa ke obrolan soal melanjutkan sekolah sih.” Tepis Diding. “ Maksud si Dudung, kita harus berangkat sekolah ke Kota itu dari sejak pagi sekali, supaya tidak terlambat.” Diding menjelaskan.

“Yaaaa… kalau begitu maksudnya, jangan bawa-bawa suara ayam berkokok, dong.” Bela Dadang. “Aku kan sudah tidak punya ayam lagi.” Lanjutnya, masih tidak nyambung.

“Itu kan hanya perumpamaan, Dang..!” Kata Dodo. “Yang pasti, karena kita murid pertama di sekolah ini, kita harus memberi contoh pada adik-adik kita. Kita harus melanjutkan sekolah, walau bagaimanapun resikonya.” Lanjut Dodo bersemangat.
“Setujua…!!” Dukung Didi. “Dan kita harus jadi orang-orang pertama dari kampung kita setelah tiga orang guru kita yang bisa sekolah ke kota.” Didi melanjutkan kalimat bertendensi sebagai pemicu motivasi itu.

“Tapi bagaiman caranya…?” Dadang memotong.

“Ya, kita berusaha dong mencari cara.” Kata Diding.

“Ya, bagaimana caranya…?” Desak Dadang.

“Caranya… Tanya sama ayam kamu yang sudah dijual itu, Dang.” Sela Didi.

“O..iya…ya… ayahku menjual ayam itu kan sama orang kota. Jadi siapa tahu ayamku bisa kasih saran, bagaimana caranya kita bisa sekolah ke Kota.” Dadang sumbringah seperti menemukan ide yang cemerlang.

“Sekalian saja kamu ikut tinggal dengan ayam kamu itu, Dang di kota.” Canda Dodo.

“Gak bisa, Do. Kandangnya sempit katanya. Sudah begitu temannya banyak lagi. Bahkan ada ayam Bangkok sama ayam bekisarnya.” Keluh Dadang serius.

“Ini apa siah…? Kok malah membicarakan soal ayam?” Tepis Diding. “Kita kan sedang membicarakan rencana melanjutkan sekolah ke Kota. Bukan membahas soal ayam si Dadang yang sudah dijual itu.”

“Iya tuh si Didi. Lagi pula tidak mungkinlah saya bisa ikut tinggal sama ayam saya itu. Selama bersama keluarga kami saja sombongnya minta ampun. Kalau makan serakah. Nanti kalau saya ikut tinggal bersama dia, saya tidak kebagian makan.” Ujar Dadang semakin ngawur.

“Sudah ah, lihat tuh Bu Dimin sudah memanggil kita. Waktu istirahat sudah habis. Nanti kita lanjutkan lagi obrolan kita ini.” Seru Dudung melerai debat yang mulai ngawur setelah melihat Bu Dimin dari arah jendela sekolah melambaikan tangannya ke arah mereka.

Merekapun beranjak dari tempatnya masing-masing, kemudian berlarian menuju ruang kelas enam, dimana Bu Dimin dan murid yang lain sudah berada di dalam.

“Baiklah anak-anak. Sebelum pelajaran selanjutnya ibu mulai. Ada beberapa hal yang harus ibu sampaikan.” Kata Bu Dimin sambil berdiri di depan kelas. “Kalian mau dengar penjelasan dari ibu, kan…?” Tanya Bu Dimin kemudian.

“Mau..buuuuuu” Seru semua siswa serempak.

“Kami dewan guru dan Bapak kepala sekolah tadi baru saja berdiskusi guna membicarakan nasib kalian, kelas VI. Karena kita sekolah mandiri yang belum mempunyai surat ijin resmi dari kantor Dinas, maka kita tidak dapat menyelenggarakan ujian di sekolah ini. Itulah aturan di Negeri Antah Berantah ini.” Jelas Bu Dimin dengan suara sedikit tersendat-sendat. Sepertinya ada beban berat yang menggangu pikiranya.

Seketika wajah semua siswa kelas VI meredup seperti bolamp yang diputus aliran lisrinya karena kehabisan fulsa mendengar kalimat demi kalimat yang disampaikan Bu Dimin itu. Teruma lima orang sahabat yang baru saja membahas cita-cita mulianya untuk melanjutkan sekolah.

“ Terus nasib kami bagaimana, bu…?” Tanya Didi yang mulai dilanda perasaan khawatir tidak bisa melanjutkan sekolah.

“ Karena kita masih ada waktu lima bulan ke depan. Kami akan mengushakan jalan lain, bagaimana caranya kalian tetap bisa ujian.” Ujar Bu Diman, walau tersirat sebuah keraguan dan kekhawatiran dari balik nada bicaranya.

“Ahamdulillah…” Gumam semua murid serempak seperti dikomando.

“Yang jelas, ibu harap kalian sudah mempersiapkan diri untuk menghadapi ujian nanti. Banyak mempelajari materi-materi pelajaran yang sudah kalian dapatkan sejak kelas IV, V dan VI. Perbanyaklah membaca buku yang kalian punya.” Lagi-lagi Bu Dimin agak berat mengucapkan kata-kata itu. Karena ia tahu benar materi pelajaran murid-muridnya sangat terbatas. Mereka tidak mempunyai buku paket yang memadai. Bu Dimin dan guru-guru yang lain hanya memamfaatkan buku-buku usang terbitan tahun jabot pemberian teman-temannya dari kota yang secara isi sudah sangat ketinggalan oleh perkembangan jaman saat ini.

Itu pula yang kemudian menjadi bahan diskusi panjang dengan guru-guru lain. Bagaimana caranya sekolah rintisan suwadaya masyarakat yang sangat terisolir ini bisa menyamai pengetahuan siswa-siswa lain di sekolah yang lebih baik. Bagaiaman mungkin anak-anak yang hanya belajar dengan buku sangat seadanya, dan kemampuan guru yang hanya lulusan SMP itu bisa menyamai murid-murid sekelasnya di sekolah lain.

Dan yang lebih membuat beban fikiran berat teramat sangat adalah nasib dari siswa-siswa kelas VI jika nantinya tidak bisa mengikuti Ujian Nasional karena faktor tidak adanya surat ijin resmi dari kantor Dinas Negeri Antah Berantah ini. Bukankah usahanya yang telah diperjuangkan sejak hampir enam tahun ini akan sia-sia.

Sampai waktu akhir pelajaran tiba, pembicaraan Bu Dimin terus berisikan pendorong semangat siswa-siswanya untuk terus belajar dan belajar. Dia berjanji akan semaksimalal mungkin memperjuangkan kelas VI pertama ini dapat ikut Ujian Nasional walau bagaimana pun caranya. Semoga pembaca pun itu membatu berdo’a dan mencarikan jalan, bagaimana caranya dengan kesulitan materi pelajaran, buku sumber, dan guru yang berkemampuan minim ini bisa mengikuti ujian. Kasihan nasib mereka kan…? Enam tahun belajar tidak diakhiri dengan mendapatkan selembar ijazah. Padahal banyak dari negeri tetangga yang sekolahnya Cuma satu dua bulan, kemudian sudah bisa mempunyai ijazah. Bahkan masih di negeri tetangga Antah Beranta itu pula ada orang yang tidak kuliah, tahu-tahu sudah dapat ijazah sarjana. Sangat memaluka.

(Sudah dulu yah cerita BAGIAN I-nya. Cerita ini mudah-mudahan bisa berlanjut ke BAGIAN II. Makanya tolong kasih komentar, usulan dan sarannya. Supaya saya (penulis) bisa kebali melanjutkan cerita ini)

Wednesday, 8 February 2012

PERJALANAN YANG MELELAHKAN

Selasa, 07 Februari 2012
Cuaca lumayan cerah. Ada dua ageda penting hari ini. Mengikuti rapat pembentukan panitia lomba PORSENI tingkat POOL Utara di SDN Tamansari 02 dan ke ntor UPTK antar berkas persyaratan sertifikasi. Dua kegiata itu membuat aku binggung. Duan-duanya penting. Di Pool utara biasanya setiap ada lomba seperti ini aku pasti jadi panitia inti. Bahkan setumpuk tugas harus aku hadapi semisal pembuatan proposal kegiatan, penyusunan soal, dan lain-lain. Tapi karena sertifikasi juga lebih penting aku cenderung tidak terlalu ikut aktif dalam kepanitiaan tahun ini, walau di tingkat kecamatan aku sudah ditetapkan menjadi kopel Gambar ke tingkat Kabupaten Bogor.

Pukul delapan jadwal rapat yang direncanakan, pukul Sembilan baru dimulai. Kedisiplinan guru-guru di Pool Utara bahkan di Kecamatan Rumpin, sungguh sangat di bawah standar. Jam karet jadi almamater kesehatian, baik dalam melaksanakan tugas di sekolah, maupun dalam acara-acara rapat atau pertemuan seperti hari ini.

Pukul sepuluh limabelas menit, aku dan beberapa guru yang akan mengumpulkan berkas sertifikasi sudah pamitan untuk meninggalkan rapat. Dalam rapat itu aku jadi kopel lomba siswa berprestasi, dan aku fikir tidak apa lah, tidak terlalu menganggu kesibukanku saat ini.
Aku, Dedi, Maslahah, Supriyati dan Badrudin meluncur di bawah terik matahari di jalan berdebu dan penuh tonjolan-tonjolan batu gunung yang tajam. Melaju menuju kantr UPTK diantara truk-tru besar pengangkut batu gunung, pasir dan material gunung lainnya.

Gila…. Truk-truk besar itu seperti jadi raja di jalanan. Mereka seenaknya berada di sebelah kanan atau sebelah kiri menghindari jalanan yang rusak. Bukan hanya satu mobil, bisa dari lima buah mobil beriringan menghalangi jalan kendaraan kecil, seperti motor yang aku kendarai. Belum lagi dari lajunya yang sesukanya itu menimbulkan debu yang bisa mengganggu mata jika tidak pakai helm berkaca. Terlalu ugal-ugalan truk di jalan menuju Rumpin ini.

Sampai kantor aku dan teman-teman segera mempereskan semua berkas di map plastic merah yang sudah disiapkan bu Supri. Pukul satu baru kelar. Ikut solat di musholah UPTK, baru pulang bersama Pak Badru. Kami mampir di rumah makan sederhana di Cibeureum dekat Balai Desa Sukasari. Lumayan, walau tempatnya sangat sederhana, tapi makannya lumayan cocok dengan lidahku.

Sampai rumah pukul 14.00. Hari ini cukup membuat sekujur badan pegal-pegal.
Malamnya aku belajar membuat akun twitter. Karena entah kenapa blog-ku mala mini sama sekali tidak bisa dibuka.

Tuesday, 7 February 2012

HARI YANG MELELAHKAN

Senin, 6 Februari 2012
Malu juga datang keduluan Kepala Sekolah. Beliau sudah sibuk di halaman sekolah mengatur anak-anak untuk opsih (Operasi Bersih) di halaman sekolah yang lebarnya sekitar 500 meter persegi. Sebuah halaman yang luas namun tidak karuan penataannya. Kalau kemarau berdebu (pasir halus) karena laburannya sudah terkelupas, biasanya anak-anak suka menendang-nendang debu itu dengan sengaja agar debunya berterbangan, bahkan anak yang nakal malah mengambilnya dengan cengkraman jemari mungilnya dan melemparkannya ke udara, sehingga membentuk badai debu.

Dan yang paling sulit difahami daya fikir anak-anak di sekolahku, walau pun sudah susah payah melaksanakan operasi bersih, sesaat kemudian, ketika mereka jajan, maka sampahnya akan dilempar kembali ke halaman yang dibersihkannya itu. Aku sering menyebut mereka sebagai si Kabayan. Tokoh cerita sunda yang lugu, konyol, kocak dan sering berbuat aneh seperti itu. Tapi mereka tetap saja melakukannya setiap hari, sehingga halaman yang luas, lengang, berdebu dan selalu saja dikotori sampah-sampah di sana-sini, dengan sengaja.

Setelah jabattangan dengan kepala sekolah, aku langsung masuk ke ruangan kantor. Banyak berkas yang harus segera aku stempel legalisir, sebab besok pagi sudah harus diserahkan ke Kantor UPT Kurikulum XVIII Kecamatan Rumpin. Berkas ini adalah lampiran A1 sertifikasi yang nantinya akan mengantarkan aku ke tahap tes kompetensi awal setifikasi. Ya Allah… ini peluang untuk diakui sebagai tenaga professional bidang pendidikan. Kalau lulus tes, maka kemudian aku harus mengikuti tahapan berikutnya, yaitu PLPG, semacam diklat kependidikan untuk mendapatkan gelar professional melalui sertifikasi guru.

Kesempatan emas ini harus aku perjuangkan walau banyak sekali liku-likunya. Merepotkan, dan membuat beberapa kali harus menyiapkan berkas dokumen lampiran menyangkut tugasku sebagai Pegawai Negeri. Tapi ini adalah sebagian dari upaya meningkatkan penghasilanku. Sebab kalau sudah mendafatkan tanda sertigfikat lulus sertifikasi guru, maka aku akan mendapatkan tunjangan dari pemerintah sebesar gajih pokok, setiap bulannya. Semoga lancar. Amin.

Pagi ini akan dilaksakan upacara bendera hari senin. Selesai opsih anak-anak dari kelas 1 sampai dengan kelas 6 berbaris di halaman. Para petugas upacara kali ini kelas 6. Rupanya mereka sudah siap melaksanakan tugas yang telah dilatihkan pada hari jumat dan sabtu kemarin.

Untuk mengawasi anak-anak yang biasanya nakal, atau ada yang sakit, aku berdiri di belakang siswa peserta upacara. Kalau melihat aku berdiri di belakang mereka, maka tidak aka nada anak yang ngobrol atau jongkok saat pelaksanaan upacara bendera. Anak-anak takut melihat aku. Aneh, padahal aku tidak pernah galak sama mereka. Bahkan sebaliknya, di sekolah aku dikenal paling suka humor, bercanda dan akrab dengan mereka. Tapi saat-saat tertentu, mereka merasa takut melakukan kenakalan-kenakalan di depanku.

Usai upacara, aku mendapatkan sms dari pak Herry, guru SDN Kertajaya 02. Isi smsnya, hari ini pukul 10 ada rapat khusus operatir sekolah. Kebetulan aku operator di sekolah ini. Berarti undangan itu memang sengaja ditujukan untuk aku. Operator sekolah adalah sitilah untuk julukkan guru-guru yang menangani administrasi sekolah menggunakan laptop, seperti pembuatan surat-surat tugas, SK, RAPBS, dan administrasi kedinasan lainnya. Ini hanya sebagai tugas tambahan yang dilaksanakan hanya sebagai rasa tanggung jawab, tanpa SK khusus dan tanpa gajih khusus. Walau kerjanya lumayan menyibukan, tapi bagiku banyak keuntungan dari tugas tambahan ini. Minimal aku bisa menggunakan Laptop kapanpun aku mau. Termasuk mengisi blog ini.

Pukul 09.30 aku meluncur ke Rumpin untuk mengikuti rapat khusus operator sekolah se-Kecamatan Rumpin. Sebenarnya aku enggan jika dapat tugas ke rumpin. Jalannya ancur, sebagaian berdebu, sebagian lagi becek dan banyak batu-batu tajam menonjol dibalik lumpur kental yang mengancam band pecah. Atau kalu kurang hati-hati mengakibatkan benturan keras dengan batu, bahkan mungkin terperosok ke dalam lubang yang dalam sehingga tak jarang banyak motor yang tergelincir dan jatuh.

Tempat rapatnya di Aula PGRI Kecamatan Rumpin. Sebuah gedung yang sudah tidak layak lagi disebut aula. Kumuh, kotor dan tak terurus, Tapi karena tidak memiliki tempat lain, maka PGRI Kecamatan Rumpin memanfaatkan gedung ini sebagai aula dan pusat segala kegiatan rapat PGRI. Bahkan Koperasi PNS Guru-guru Rumpin juga menggunkan gedung ini untuk pusat kegiatan pertemuan-pertemuannya.

Rapat dipimpin staf UPTK bagian kepegawaian, Rahmat namanya, seorang tenaga honorer di kantor UPTK. Banyak informasi mengenai beberapa pengajuan dan usulan bagi tenaga sukwan serta pendataan guru PNS yang harus dikerjakan operator sekolah. Semua dijelaskan dengan penjelasan yang terkadang Rahmat sendiri tidak menguasai bahan materi penjelasan. Tapi dengan saling bertukar pendapat peserta rapat cukup faham dengan materi rapat hari ini.

Pukul, 12.00 rapat selesai. Aku pun langsung pulang. Perjalanan yang melelahkan, akhirnya berlalu. Dan aku bisa istirahat di rumah. Untuk mengobati penat, aku membeli satu kilo dukuh dan melon, biasanya setelah perjalananan yang melelahkan akan terobati dengan segarnya menyantap buah-buahan.

Monday, 6 February 2012

HARI MINGGU YANG MENYIBUKKAN

Minggu, 05 Februari 2012
Beberapa hari tidak menulis di blog membuat aku merasa ada yang hilang dalam perjalanan hari-hariku. Aku harus terus konsisten menghidupkan blog yang baru kubuat ini. Meluangkan waktu untuk menulis segala sesuatu yang ingin dan harus aku tulis. Karena untuk mengembangkan kemampuan menulis hanya dapat dilakukan dengan berlatih menulis. Begitu menurut beberapa orang penulis yang sudah sukses dengan karya-karyanya.

Hari ini aku harus kesekolah, meski libur. Ada pekerjaan yang masih tertunda dan perlu aku selesaikan. Kemarin (Sabtu 04, Februari 2012) aku juga ke sekolah lagi setelah pulang untuk mengantar istri ke pasar belanja bulanan. Kalau kemarin, aku menyelesaikan program semester pesanan SDN Kertajaya 06. Tapi sungguh mengecewakan, setelah berlelah-lelah mengerjakan, dan termpaksa menggunakan kertas milik sekolahku dulu, eh sampai sore bahkan malam, janjinya akan diambil, ternyata tidak diambil juga.

Tadi pagi Kepala Sekolah SDN Kertajaya 06 telepon aku, katanya hari Minggu sore ini akan diambil program semesternya. Semoga saja benar. Tapi aku memang agak ragu dengan janji bapak kepala sekolah ini. Janjinya sering diingkari, terutama kalau sudah menyangkut soal uang. Padahal untuk mengerjakan program semester aku butuh modal. Belum lagi waktu dan tenaga. Bayangkan, dari jam 11.00 sampai jam 17.00, pekerjaan baru selesai. Kalau akhirnya program ini tidak dibayar, sungguh sangat merugikan.

Pekerjaan hari ini adalah menyelesaikan Daftar Personal dan Murid yang tinggal sedikit lagi. Pukul delapan pagi aku ke sekolah. Rencananya sampai jam sebelas saja mengerjakannya. Batasnya kalau istriku jadi berobat, karena ia sudah tiga hari ini sakit flu, demam dan batuk-batuk, maka aku akan pulang lebih cepat.

Pukul 10.30. Aan dan Pak Rabani mampir ikut prins administrasi untuk pengajuan sertifikasi dan fungsional di MTs Nurul Huda. Pekerjaanku sudah hamper rampung saat mereka datang. Nge-prin gentian dengan Aan, ia pakai notebook pak Rabani dan aku pakai laptop sekolah yang siang malam menemani aku di rumah maupun di sekolah.

Pukul 11.30. Aan dan Pak Rabani berangkat ke MTs Nurul huda untuk tandatangan administrasi yang baru selesai di prins. Dan aku pun siap-siap pulang, karena pekerjaanku sudah selesai.

Karena rencananya Aan dan Pak Rabani akan kembali lagi ke sekolah, maka kunci pintu kantor sekolah aku titip di warung Ceu Een, adik iparnya Pak Adin. Sebelum ada penjaga sekolah, kunci memang selalu dititip di situ. Soalnya anaknya Novi, anak Pak Adin juga mengajar di sekolah Kertajaya 04, dan lokasi rumahnya paling dekat dengan sekolah.

Sampai rumah, anak-anakku sedang menyantap bakso. Fakih sudah sehatan hari ini. Dia memang suka sekali bakso. Untuk mengembalikan nafsu makannya, kemarin sudah aku belikan daging dan ati sapi. Fakih juga suka sekali rending. Kalau dia sudah kembali nafsu makan berarti kesehatannya akan pulih lagi.

Eh ya… bakso hari ini ternyata dibeilakan oleh memantuku (Wijaya), suami dari Aan. Tapi aku tidak selera untuk memakannya, entah kenapa segala urusan dengan menantuku itu hatiku kurang sreg. Aku tidak menyukai kepribadiannya. Termasuk soal bakso. Makanya lebih baik aku makan saja dengan rendang daging dan ati yang dimasak istriku. Nikmat sekali makanku, sayangnya aku harus segera shalat dhuhur dan siap berangkat ke pasar untuk photo copy berkas persiapan A1 sertifikasi guru. Eh… ternyata Ii dan Nuni yang sejak kemarin merencanakan merancang tropong bintang yang ada di sekolah, akan dikerjakan hari ini. Teropong bintang itu sudah hamper satu tahun tersia-siakan. Tidak ada satu orangpun guru guru termasuk aku, yang mampu merancangnya. Dan Ii akan mencobanya.

Pukul 13.30 aku membonceng Ii dan Nuni ke sekolah.Sampai di sekolah Aan masih ada, dia mau ke Parung katanya menandatangani berkas ke pengawas. Di sekolah aku Cuma menyimpan laptop, langsung berangkat lagi. Cuaca sudah mendung. Tapi berkas ini harus segera di photo copy sebab besok harus dilegalisir kepala sekolah.

Sampai pasar Parungpanjang, aku mampir dulu ke Alfa Mart, beli susu Dancow coklat bubuk, parfum dan obat batuk untuk istriku. Setelah selesai baru ke tempat photo copy. Usai photo copy, saat baru saja akan ke luar took, hujan deras turun. Coba mampir dulu di tukang kue. Rencananya mau beli kue untuk Ii dan Nuni, tapi ah… harganya mahal sekali. Harga yang jauh dari jangkauan saku.

Setelah reda aku berangat pulang, tapi sebenatar mampir ke tukang burung, aku harus beli kredong kandang burung Kenari yang kemarin sudah diincar tikus nakal. Kandang bagian atasnya dibobol hingga bolong besar. Pagi tadi kutambal dengan jeruji-jeruji bamboo dari kandang yang sengaja kurusak. Duh untung burungnya tidak lepas. Padahal lubang itu pasti sudah menganga dua atau bahkan tiga hari yang lalu. Aku tidak mengontrolnya, baru pagi tadi tampak kelihatan lubang-lubang itu. Mungkin kalau pakai kredong, tikus tidak bisa masuk lagi.

Di Adang kredong tidak ada, akhirnya aku dapatkan denga harga Rp 18.000. di tukang burung dekat tukang cukur di sekitar tugu, dekat tadi aku photo copy berkas. Padahal kalau tahu ada di situ, aku tidak perlu jauh-jauh ke Adang segala. Kan lumayan tiga sampai empat ratus meter bolak-balik menembus becek dan gerimis.

Di tengah perjalanan aku membeli goreng tahu dan molen. Kasihan Ii dan Nuni kalau sama sekali tidak diberi cemilan. Tapi Nuni masih batuk hari ini, moga saja gorengan yang aku beli tidak membuat batuknya semakin menjadi parah.

Sampai sekolah rancangan teropong sudah selesai, tinggal mengatur lensa dan kembali membaca manual yang berbahasa Inggris itu. Sambil menunggu pengeturan lensa aku kembali prins program semester untuk Aan. Kelas 6 kan ada 2 rombel A dan B. Aku kelas A dan anakku Aan kelas B. Sementara program semesternya baru punyaku saja yang selesai.

Kami pulang sekitar pukul empat sore. Jalanan becek karena hujan ternyata merata sampai ke kampung tempat tinggalku. Hujannya pun deras. Aku menyempatkan nonton ISL babak dua Mitra Kukar lawan Persema. Skor 2-2 sampai peluit panjang dibunyikan. Dan aku pun istirahat untuk mempersiapkan shalat magrib. Sungguh hari hari Minggu yang sangat menyibukkan.

Tuesday, 31 January 2012

ANAKKU MASIH SAKIT HARI INI

Selasa pagi ini hujan gerimis seakan menahan langkahku tuk berangkat melaksanakan tugas mulia di sekolah. Fakih masih sakit, badannya panas. Batuknya masih terdengar berat dan kering. Ia tidak sekolah lagi hari ini. Jadi aku berangkat bareng Ii ke sekolah dan bisa lebih pagi.

Di sekolah seperti biasa, datang paling awal. Masih banyak yang harus kuprins pagi ini. Segera kubuka laptop dan mengeprin beberapa program semester untuk guru-guru.

Masuk kelas mengajar matematika, bahasan sekarang sudah sampai pada penjumlahan pecahan, Alhamdulillah walau agak sedikit lambat, siswa banyak juga yang memahami cara penjumlahan pecahan. Namun karena hari ini ada rencana rapat dinas antar guru, kepala sekolah dan penjaga personal SDN Kertajaya 04, maka hanya satu pelajaran siswa sudah dipulangkan.

Rapat dimulai pukul 10.00. Pengarahan dari kepala sekolah mengenai kedisiplinan dan kedinasan. Pukul 11.45 rapat berakhir. Kita makan bersama, enak juga menu hari ini. Nasih pulen, ayam bakar, sambal dan lalapan. Nikmat sekali rasanya.

Selesai rapat semua pulang. Aku harus segera pulang karena rencananya akan mengantarkan Fakih ke bidan anak untuk memeriksa kesehatannya dan sekalian berobat. Kondisinya sudah lemah sekali. Nafsu makannya pun sudah hilang.

Usai shalat dhuhur aku dan uminya Fakih mengatar Fakih ke Bidan Cahyati di Kabasiran. Setelah pulang dan istirahat pukul 15.00 berangkat cuci motor ke Kabasiran, sambil penasaran cari burung ciblek. Aku kangen pengen punya burung ciblek lagi. Makanya sore ini mampir ke Mang Adang tukang burung di Parungpanjang. Alhamdulillah walau ekornya belum tumbuh rapih, ada satu ekor lagi. Harganya Rp 60.000. Sama sekali tidak bisa ditawar. Akupun membelinya.

Malamnya temani Fakih yang sejak telah minum obat sore tadi Nampak tidur lelap. Wajahnya pucat fasi. Badannya kelihatan semakin kurus, karena ia sama sekali tidak nafsu makan. Hingga malam tidak banyak yang kulakukan. Bahkan istirahat pun aku lakukan lebih awal.

Monday, 30 January 2012

KE PASAR BURUNG CURUG

Hari Minggu, agak nekat memang, pagi ini setelah diguyur hujan sejak pukul empat subuh tadi, aku bersikeras pergi ke Pasar Burung Curug. Aku mau cari burung ciblek (Mininin). Duh ternyata lokasinya yang tadinya di sepanjang jalan gang sempit, sekarang pindah ke dalam lapangan bola. Becek sekali, sandal sampai sussah diangkat dari tanah becek yang lengket.

Alhamdulillah tak berlama-lama, burung ciblek kudapatkan hanya duapuluh ribuan satunya, kubeli dua ekor yang menurut pengamatanku bagus dan sehat-sehat. Kuharap burung ini akan memuaskan aku. Tak butuh terlalu lama, dua ekor burung ini akan berbunyi.

Di tukang burung Parungpanjang dan Cicangkal ciblek sekarang mahal sekali. Pasarannya diatas seraturlimapuluh riburupiah. Di pasar curug ini masih sangat murah, asal bisa bertahan hidup pasti berhasil, sesuai yang kuharapkan.

Pukul sebelas tigapuluh aku baru sampai rumah. Naik Angkot memang selalu lambat karena lama ngetem nunggu penumpang. Wajar kalau aku datang sesiang ini ke rumah, padahal dari Parungpanjang aku bawa motor sendiri, yang kututup di penitipan motor sisi pasar Parungpanjang.

Hari ini akau banyak pekerjaan, mau prins Program Semester dari kelas 1 sampai kelas 6. Makanya setelah memaksukkan burung ke kandang, aku segera melaksanakan tugas-tugasku.

Duh sebuah musibah, satu ekor ciblek yang baru kubeli tadi, lepas dari kandangnya. Dasar terlalu ceroboh, aku tidak control dulu, ternyata kandang yang lama tidak kupakai itu sudah rusak. Beberapa bagiannya sudah rapuh. Jadi dapat dengan mudah diebol burung.

Ciblekku tinggal satu. Sore ini malah sudah mulai bunyi. Bakalan bagus nih. Syukurlah beli dua sisa satu pun tidak apa-apa.

Sunday, 29 January 2012

KKG YANG DIGUYUR HUJAN

Sabtu pagi, Burung ketilang peliharaanku sudah ramai membangunkan seisi rumah, mendahului alrm HP yang kustell pukul 04 pagi. Aku bangun dan mempersipkan diri tuk berangkat mengantarkan Arsa Ke Sekolahannya, pukul 05.00 pagi ini. Anak kelas 9 MTs Al-Makmur akan bertamsya ke Ci Ater Bandung hari ini. Dan Arsa anakku ikut dalam rombongan itu.

Sepulang mengantarkan Arsa, siapkan berangkat KKG, di SDN Kertajaya 06. Seperti biasanya aku harus mempersiapkan materi setiap kali kegiatan KKG, dan hari ini kegiatanna adalah persiapan pembagian tugas penyusunan kisi-kisi UTS semester genap.

KKG berjalan lancar. Pukul 11.55 acara ditutup. Hujan deras menahan langkah para guru peserta KKG untuk tidak segera pulang. Aku bersama Pak Indra guru dari SDN Kertajaya 03, harus ke SDN Kertajaya 02. Mau copy program semester 2. Entah kenapa program semester 2 di laptopku lenyap. Kehapus atau dilahap virus..? Entah lah. Dan karena itulah aku musti ke SDN Kerajaya 02 untuk cupy program semster ke Pak Herry.

Tiga motor meluncur di jalan yang kuyup disiram air hujan. Bahkan beberapa bagiannya banyak yang menggenang, terutama jalan-jalan yang berlubang, karena aspalnya gompal.

Di perjalanan hujan deras turun lagi, kami bertiga mampir berteduh di depan ruah warga. Lumayan sekitar duapuluh menitan berteduh akhirnya hujan reda juga. Proses copy program semester pun lancar.

Sampai rumah makan siang. Istirahat dan mengejarkan beberapa pekerjaan rutin.

Pukul 21.00 aku berangkat jemput Arsa ke MTs Almakmur. Sambil nunggu kupesan pempek palembang, alhamdulillah makanan kesukaanku itu kulahap habis. Satu porsi hanya enam ribu saja. Standar untuk jajanan pengganjal perut.

Pukul 23.00 modil rombongan bus dari Ci Ater baru datang. Arsa naik di bus nomor 4. Datang ke dua, setelah nomor 3.Arsa tahu aku nunggu dimana sebab sebelumnya sudah berkomunukasi lewat sms. Arsa bawa oleh-oleh nanas dan makanan khas lainnya. Sayang pesananku tape Bandung lupa ia beli.

Film "HERO" dengan bintang Jet Lie, masih ada. Film yang sejak dua hari ini aku tunggu. Tapi mengecewakan. Filmnya bikin ngantuk. Terlalu klasik. Bikin langkahku semakin pasti untuk segera ke kamar dan menunutup hari ini dengan tidur nyenyak.

Friday, 27 January 2012

Hari ini aku tidak antar Fakih ke TK, motorku pecah ban yang belakang. Arsa yang antar sekalian lewat berangkat ke MTs Almakmur. Anak laki-laki dari istriku yang pertama itu sekarang sudah kelas III di MTs Al-Makmur.

Berangkat kesekolah sambil naik motor yang bannya kempes. Terus mampir di tambal ban punyanya Hera, dekat sekolahanku. Dari bengekel aku jalan kaki sedikit. Kunci motor kutinggal di bengkel supaya kalau sudah selesai nambal bannya, motor di antar ke sekolah oleh Hera.

Tidak lama, motor sudah doiantar ke sekolah. Ternyata harus ganti ban dalam, cuma 10.000 rupiah saja karena ban penggantinya bukan ban baru.

Pukul delapan, berangkat ke lapangan bola Kp. Gugunung. Hari ini ada latihan sepak bola dengan anak kelas VI. Aku ikut main, itu-itu mancing keringat sambil gerak badan.

Aku memasukkan empat gol. Peluang kuciptakan banyak baik untuk aku masukkan, maupun memberi operan cantik pada teman-teman satu timku.
Tidak jelas posisi skor berapa, yang pasti timku menang. Lumayan keringatan juga lah.

Sampai sekolah aku bantu andiministrasi rekan-rekan guru honorer yang mau mengajukan tunjangan fungsional. Bahkan printerku bawa pulang supaya bisa menyelesaikannya di rumah.

Kujemput Fakih ke teka. Pulang sampai rumah sudah pukul 11.45. Aku tidak shalat jumat hari ini. Entah kenapa yah, aku malas shalat jumat di mesjid Tarogong. Rasanya jengah.

Sore sampai malamnya aku menyelesaikan sisa pekerjaan membuat surat-surat untuk guru honorer mengajukan tunjangan fungsional.

Thursday, 26 January 2012

Kamis ini tak banyak kegiatan yang aku lakukan. Hanya rutinitas biasa saja, antar Fakih ke TK, terus ke sekolah. Yang beda hanya satu kegiatan, hari ini ada pemotoan kls VI untuk ijazah. Biasa yang datang Mas Ripan, tukang poto langganan.

Pulang dari sekolah jemput Fakih. Sampai rumah cuma sempet shalat dhuhur, langsung berangkat ke kantor POS GIRO Parungpanjang. Dah telat bayar listrik. Di depan Kantor Pos motorku jatuh, untung pelan jadi tidak ada yang rusak dan aku juga tidak ada yang luka. Permasalahannya cuma kurang keseimbangan saja.

Sampai rumah makan siang. Aku baru sadar, dari pagi aku belum makan nasi. Pagi tadi cuma sarapan pisang goreng dang air putih. Selesai makan istirahat sebentar. Terus tidur siang.

Bangun pukul 15.25. Langsung nonton Bola di ANTV. Gersik lawan Lamongan. Seru juga, skor 1.1.

Sore hingga malam lebih banyak istirahat. Bahkan untuk buka laptot saja malas, makanya catatan harian ini baru bisa aku poskan pagi Jumat ini.

Wednesday, 25 January 2012

Anaku Fakih agak telat bangun pagi ini. Jadi serba telat semuanya, sarapan telat, berangkat antar Fakih ke sekolah juga telat. Untungnya disiplin di sekolah tempat tugasku masih belum maksimal, walau aku agak telat tetap saja kedatanganku ke sekolah masih nomor wahid.
Hari ini aku mengumpulkan siswa kelas V untuk persiapan porseni. Pak Amin yang guru kelas V agak telat datang, jadi aku kebingungan memilih siswa-siswa potensial dari kelas V.
Jelang aku masuk kelas Pak Amin datang, kutugaskan Pak Amin untuk memilih siswa-siswa potensial sesuai dengan bidang-bidang yang dikuasai oleh siswa. Alhamdulillah terkumpul beberapa siswa yang konon katanya masuk 10 bersar saat naik ke kls V.
Selepas member materi pelajaran matematika tentang Merubah pecahan biasa menjadi persen. Hujan turun deras disertai angin kencang. Ruangan kelasku dan kelas VI.B bocor. Gentingnya banyak yang patah. Anak-anak keganggu belajarnya. Semua kusuruh ke luar kelas, takut terjadi sesuau yang tidak diinginkan karena angin semakin kencang.
Pak Amin bersama Adi penjaga sekolah yang baru, memperbaiki genteng yang rusak. Semoga tidak bocor lagi saat hujan nanti.
Bu Naimah membawa Mie instan lengkap dengan suas sambal Indofood, telur dan cesim. Kompor gasnya tidak bisa dipakai, sudah rusak nampaknya. Bu Novi membawa mie instan ke rumahnya. Mie itu dimasak di rumah Bu Novi. Lejat juga saat hujan deras, menyantap Mie instan rebus pakai telur dan saus sambal. Sebenarnya mie bukan makanan paporitku. Bahkan aku sering merasa bermasalah di lambung setiap habis menyantap Mie instan, tapi semoga hari ini aman-aman saja.
Pulang dari sekolah pukul 11.35, langsung meluncur ke TK Alfhat jemput Fakih. Fakih sudah menunggu, aku pun pulang. Kenari burung kesayangnku kuyup, tadi istriku ngaji jadi saat hujan deras turun burung kenari kehujanan. Bahkan ketilangku juga masih kelihatan basah. Sebentar kuganti makanannya. Dan kembali kugantung di tempatnya.
Sore ini seperti biasa hiburannya nonon Bola ISL. Selebihnya aku istirahat. Dan menulis catatan harian ini tentunya.

Tuesday, 24 January 2012

Paling males kalau sudah dapat tugas harus ke kantor UPT. Kurikulum XVIII Kecamatan Rumpin. Jalannya ancur. Sebagian becek karena kena tetesan air truk pembawa pasir, sebagian lagi berdebu bubuk pasir halus. Kalau bukan karena dapat tugas dari kepala sekolah yang tadi telepon masih ada di Bandung, rasanya aku tidak mau pergi. Dan tugas membuat Daftar Personal Guru dan Siswa belum selesai aku garap. Pagi ini hanya membuat NUPTK saja.

Untungnya sekalian jalan aku ada keperluan lain, bertemu Pak Toni bagian kepegawaian untuk memberikan surat keterangan yang kemarin dapat dari kampus STKIP Kususma Negara untuk melengkapi persyaratan usulan naik golongan ke IIIA. Sekalian ada tugas mengantarkan daftar isisan identitas sekolah masalah usulan rehab bangunan dan kekurangan guru.

Pukul 11.30. aku sampai di kantor UPTK, ramai sekali kepala sekolah sedang rapat menyusun rencana persiapan lomba PORSENI. Aku langsung masuk ke ruangan Pak Toni, data kuserahkan, tinggal nunggu Bu Susi katanya. Saat keluar ruangan Pak Herman Kepala Sekolah SDN Cidokom, memanggil. Ia mengatakan bahwa saya mendapat tugas menjadi penanggung jawab lomba menggambar tingkat kecamatan sampai Kopel ke Kabupaten Bogor. Duh kerjaan baru lagi. Tapi syukur Alhamdulillah, berarti para kepala sekolah masih memperhitungkan kemampuanku dalam melatih seni rupa terutama menggambar.

Pukul 12.30, setelah melengkapi kekuarangan data analisis kerusakan gedung, aku pulang. Jalanan makin berdebu, cuaca panas, perut keroncongan. Di Cicangkal makan di Warteg dekat Alfa Cicangkal. Ramai sekali orang sedang makan siang. Aku ketemua Pak Ii Samsyuri guru Leuwiranji 03 yang sedang makan siang.

Selesai makan, terus meluncur pulang ke rumah. Kepala rasanya pening sehabis perjalanan dicuaca panas. Aku menyusuh anakku Arsa untuk mengambil buah rambutan di pohon kebun sebelah bawah barat rumahku. Enak juga makan rambutan aceh parakan saat kepala penat begini. Walau pun kondisi buahnya belum masak benar, tapi cukup manjur mengusir penat di kepala.

Sore ini aku berebutan nonton TV dengan Fakih. Aku mau nonton bola PERSIB lawan PSPS, tapi Fakih mau nonton kartun. Aku cumin nonton babak pertama, sedangkan babak kedua cukup nonton di HP, tapi tiba-tiba batunya ngedrop. Pertandingan sedang seru-serunya, skor 2 – 1 kemenangan Bandung. 10 menit jelang usia, aku merayu Fakih untuk nonton bola sebentar. Alhamdulillah dia mengijinkan. Sampai selesai juga akhirnya nonton.

Pukul 17.00 aku meluncur ke Alfa Cicangkal menjemput Ii yang pulang dari Darmaga Kampus IPB. Sampai di Cicangkal aku melihat Pak Ujang mantan Sekdes Mekarsari. Dia pernah jadi orang yang sangat membenci aku saat pemilihan kepala desa beberapa tahun lalu. Dia saksi Haji Haerudin yang sangat disalahkan oleh keluarga dan pendukung Haji Haerudin karena ketidak tegasannya mengakibatkan kekalahan yang fatal. Duh suatu kejadian yang semoga tidak terulang dalam hidupku. Karena sangat melelahkan, menegangkan, menakutkan, mencekam, dan bahkan membuat aku terpaksa harus pergi meninggalkan rumah selama Sembilan bulan dan pindah mengajar ke SDN Sampay Desa Rabak Rumpin, padahal istriku masik punya anak bayi. Yah.. Fakih masih bayi saat ini.

Adzan Magrih berkumandang dari masjid. Ii baru sampai, katanya ia dioper pindah mobil angkot karena mobil yang ia tumpangi tidak sampai Cicangkal Cuma sampai Perum Griya Suradita. Itu lah nakalnya supir angkot di kampungku, seenaknya saja mengoper penumpang ditengah jalan. Tidak punya tanggung jawab. Padahal waktu awal naik ia terkadang memaksa kita untuk naik ke mobilnya.

Sampai rumah masih ditunggu Fakih dan istriku untuk shalat berjamaah. Selesai bombing Fakih baca Iqra dan memperlancar baca buku paket dari TK, aku buka internet dan berhasil posting buku harian ini, serta catatan harian Minggu, serta Senin. Bahkan, sempat buat humor ringan tema pendidikan hari ini.

HUMOR TEMA PENDIDIKAN 1

Bicara soal pendidikan maka akan bicara soal sekolah. Mengapa sekolah di Indonesia susah untuk maju. Ternyata jawabannya sederhana. Karena lahannya sudah habis kena gusur untuk pelebaran jalan.

Indonesia sejak tahun 2008 sampai sekarang masih mencanangkan program wajib belajar sembilan tahun, entah gara-gara program itu atau bukan, dikampung saya sekarang rata-rata siswa hanya mau sekolah sampai berumur Sembilan tahun. Ia lalu berhenti sekolah dan membantu orang tuanya dagang kakung, bayam, cesim di pasar.

Padahal pengertian dari wajib belajar Sembilan tahun artinya rata-rata warga masyarakat Indonesia minimal pengenyam pendidikan di sekolah selama Sembilan tahun. Seperti si Kodir contohnya, Alhamdulillah ia malah sudah sekolah selama sepuluh tahun di SD karena beberapa kali tidak naik kelas.

Untuk mendukung program wajib belajar Sembilan tahun, kemudian pemerintah memberikan dana BOS, Bantuan Operasional Sekolah. Namanya juga Bantuan, cukup tidak cukup harus diterima. Dan namanya juga BOS, sering telat datangnya mohon dimaklum. Kalau tidak telat bukan BOS namnya, tapi bawahan.

Pendidikan merupakan suatu indicator penting dalam proses kemajuan suatu bangsa. Jika pendidikan di sebuah Negara berhasil maka Negara tersebut akan dengan mudah mencapai keberhasilan di bidang pembangunan. Artinya Jika pendidikan berhasil maka pembangunan juga akan berhasil, jika tidak berhasil bangun minum saja jamu, atau beli obat kuat.

Kemajuan pendidikan sangat tergantung kepada kinerja profesi guru di sekolah. Guru adalah orang yang seharusnya bisa digugu dan tiru. Digugu dalam ucapannya yang baik dan ditiru dalam prilkunya yang baik. Sebab pribahasa mengatakan Guru kecing berdiri, murid kecing berlari. Guru kencing berlari cepat-cepat bawa ke rumah sakit jiwa. Atau mungkin dikejar anjing karena kecingnya semabarang di tembok rumah yang ada anjing penjaganya.

Profesi guru sangat berbeda dengan profesi lain. Misalnya guru berbeda dengan dokter. Kalau dokter sering pusing membuat resep obat untuk menyembuhkan penyakit, kalau guru sering pusing karena tidak mampu menebus obat ketika sakit. Guru berbeda dengan ABRI, kalau ABRI berlatih perang melwan musuh, kalau guru berlatih perang melawan kemisikanan.

Mari kita do’akan semoga pendidikan di Indonesia akan semakin baik lagi. Gurunya semakin sejahtera, muridnya menjadi berguna bagi bangsa dan Negara. Dan semoga saja Negara mau menggratiskan semua tingkat pendidikan di Indonesia. Asal jangan gratisnyanya Cuma niru iklan pulsa, walau iklannya gratis 24 jam, tapi tetap saja pulsanya akan habis dan isi ulang tidak gratis. Walau sepanduk terpambang lebar bahwa sekolah gratis di dinding depan gerbang sekolah, tetap saja harus bayar uang pagar, LKS, seragam, uang bangku dan lain-lain.

Senin pagi aku meluncur lagi ke sekolah untuk melanjutkan sisa pekerjaan. Ini hari raya Imlek. Pukul sebelas pekerjaan belum selesai, aku pergi ke pasar maksudnya mau cari burung Kacer, tapi tukang burung yang biasa mangkal di pasar tidak ada hari ini. Aku mampir ke Mang Adang, ada kacer belum ngepur, harganya masih 180 ribuan. Aku tawar 150 ribu tidak dikasih. Aku mampir di tukang burung sebelahnya, yang ada cuman ketilang, prenjak sama burung cricit (kaca mata). Ah aku cuma cari kacer, yang lain tidak mau.

Sampai rumah pukul 12.00, aku makan siang bareng anak dan istriku. Waw nafsu sekali makanku siang ini, padahal hanya dengan pepes tahu campur jamur, pepes oncom, sambal dan lalap rebus labu siam. Ya Allah, aku sampai nambah makannya.

Pukul 13.00 antar Ii (anakku yang kuliah di IPB) sampai prumpung Gunung Sindur. Ada yang harus ia tanda tangan TU di kapus untuk persyaratan magang kerja di PUSPITEK Serpong besok Rabu. Pulangnya sedikit kehujanan. Lucu deh… dah rapih pakai jas hujan, ternyata hujannya Cuma sedikit. Bahkan sepanjang kurang lebih 4 kilometer malah panas. Mau dibuka tanggung, akhirnya pakai jas hujan dalam keadaan cuaca panas. Tahu ah apa kata orang..?

Aku tidak langsung ke rumah sekembalinya mengantarkan Ii ke Perumpung. Aku kembali ke sekolah untuk melanjutkan pekerjaan. Pukul 15.00 kulihat di ANTV lewat HP ada pertandingan Sepak Bola ISL Pelita Jaya lawan Persija. Persija sudah unggul 1 nol pada menit ke lima. Aku akhiri pekerjaan yang belum selesai, langsung pulang. Sampai rumah melanjutkan nonton sepak bola. Persija unggul 2 nol sampai akhir pertandingan.

Magrib pun tiba, shalat berjamaah dengan istri dan anakku Fakih. Seperti biasa ajari Fakih baca Iqra dan melancarkan membaca buku pelajaran membaca yang ia dapat dari sekolah TK. Selesai rutinitasku hari ini, ditutup dengan istirahat.

Dah selesai, kutulis dua catatan harianku. Catatan harian hari Minggu dan Senin. Tapi modemku sedang dibawa Ii ke tempat kost. Dia mau uji coba KRS semester 6 katanya.
Minggu pukul 07.30 WIB aku berangkat ke sekolah. Ada pekerjaan menyelesaikan Daftar Keadaan Personal Guru dan Siswa. Aku mengerjakannya sendiri, sedangkan Adi penjaga sekolah yang baru itu, menyelesaikan men-cat dinding kantor dan besi bahan teralis jendela kantor.

Sulit juga ternyata mengerjakannya, beberapa kali harus mengukur ruang kolom yang harus diprins dan ditempel di triplek hingga membentuk table. Sampai pukul 11.30 pekerjaan kuhentikan sementara. Aku pulang dulu untuk makan siang, shalat dan istirahat di rumah.

Pukul 14.00 aku kebali ke sekolah. Sempet tidur tadi sekitar 40 menitan di rumah. Kepala terasa sedikit pening. Tapi pekerjaan harus aku lanjutkan.

Tak terasa sore datang begitu cepat. Pukul 17.15, aku pulang. Pekerjaan belum selesai juga. Rencanya karena besok libur imlek, aku akan lanjutkan.

Makan sore, shalat maghrib dan mengajari anakku Fakih membaca iqra dan melancarkan membaca. Selesai temani Fakih belajar, nonton Bola ISL di ANTV. Duh lapangan Lamongan begitu ancur, becek, berlumpur, kasihan para pemaiannya PSPS dan PERSELA yang harus mandi lumpur dan tidak mengbangkan permainannya. Permainannya jadi tidak menarik.

Saturday, 21 January 2012

Sabtu pagi aku antar istri ke pasar Parungpanjang. Persediaan beras sudah habis di rumah. Alahamdulillah kemarin sebelum berangkat ke Kampus, aku dapat rizki dari bendahara sekolah jadi bisa membeli beras walau bagi pegawai negeri seperti aku sudah masuk dalam masa-masa kritis, tanggal tua yang selalu membuat kantong kering, domper lepet, dan terkadang terpaksa harus larak-lirik cari pinjaman.
Pulang dari pasar langsung ke sekolah, mobil sewaan yang sudah aku pesan kemarin sudah diparkir di halaman sekolah. Hari ini anak kelas III akan bertanding bola dengan kelas III dari SDN Kertajaya 05. Walau bukan murid asuhanku, tapi soal bola mereka selalu ingin aku yang membimbing. Ini kali pertama siswa kelas III tanding bola. Biasanya kelas VI yang kuajak untuk bertanding.
Selsai semua persiapan, mobil berangkat membawa siswa kelas III yang akan bertading bola. Duabelas siswa kelas empat juga ikut untuk jadi sporter. Sampai jalan aku teringat sesuatu yang kurasa pasti aku lupa. Ya aku tidak bawa kaos seragam olah raga untuk pemain bola. Segera kuputar arah kembali ke sekolah. Kulihat kaos masih terbungkus rapih di pelastik merah, langsung saja aku ambil dan dibawa meluncur mengejar mobil rombongan, menggunakan motor.
Sampai lapangan safari Cikandang Desa Mekarsari, siswa SDN Kertajaya 05 sudah ada menunggu. Saat bungkusan kaos dibuka, subhanallah… aku salah bawa. Yang kubawa semuanya hanya celana olah raga, tidak satu pun kaos di bungkusan itu. Akhir sia-sia saja celana itu tidak terpakai, dan para pemain bola hanya bisa menggunakan kaos bawaannya yang sungguh sangat tidak seragam. Seru juga melihat anak-anak kecil tanding bola. Bakat mereka sudah terlihat. Walau menggunakan lapangan orang dewasa, tapi semangat dan fisiknya kuat juga. Hasil akhir babak pertama yang berjalan 25 menit, hasil masih kosong-kosong.
Setelah turun main, tim sekolahku kebobolan satu. Dengan semangat yang tinggi, hanya dalam waktu lima menit mereka berhasil membalas kekalahan. Sampai akhir pertandingan keududukan tetap satu-satu.
Sampai di sekolah, semua guru laki-laki dan kepala sekolah sedang sibuk men-cat dinding kantor. Ibu-ibu gurunya mempersiapkan masak untuk makan siang. Pesta besar nasi liwet hari ini. Aku kebagian tugas membuat ikan mas bakar. Dua kilo ikan mas bakar berhasil aku panggang dengan aroma yang menggoda.
Sambil menunggu matang nasi liwet, aku ke luar ke tempat pedagang durian yang ada tepat di halaman sekolah. Pak Rabani, Adi dan Pak Haris sedang men-cat dinding kelas. Tawar menwar harga akhirnya aku beli satu yang ukuran besar Rp 30.000. Kami pun menyantap durian di ruang kantor yang masih berantakan. Terpancing juga akhirnya bendahara sekolah, karena merasa durian yang kubeli itu bagus dan masih kurang, akhirnya sekolah membeli empat buah lagi, yang besar tiga dan yang kecil satu seharga Rp 100.000.
Pesta durian pun berlanjut. Nasi liwet menyusul matang juga, terus berlanjut ke meja makan beralas daun pisang. Kami semua makan bersama tanpa piring. Nasi liwet, bakar ikan mas, ikan asin, flus sambel dan lalapan, sungguh nikmat disantap tepat saat makan siang.
Pak Arih, kepala sekolah yang baru dua minggu di gantikan pak Sobirin di sekolahku, datang. Sayang santap makan bersamanya barus saja selesai. Pak Arih jadi makan sendiri, karena memang sudah dipisahkan oleh Bu Ela. Selesai makan Pak Arih juga diberi hidangan durian yang tadi masih disisakan satu buah. Waw…. Melihat kondisi buah durian yang menggoda itu akhirnya aku ikut makan lagi.
Aku pamit pulang karena ada janji mengantarkan anakku (Irfan Nurhamidah) ke pesantren di Rumpin. Pesantren ini tempatnya modondok saat masih sekolah di SMAN 01 Rumpin, sebelum kini dia kuliah di UIN Jakarta. Di sela liburan ini, anakku Irfan memang sudah merencanakan menginap satu atau dua malam di pesantren, seblum kembali ke tempat pesatren yang baru di Gang Bacang Kampung Utan, Ciputat.
Sebenarnya ia masih libur, tapi ada khursus Bahasa Arab gratis katanya di pesantrennya yang sekarang selama dua minggu. Lumayan nambah ilmu selama libur. Anakku yang ini memang beda, ia sangat tertarik mempelajari agama islam. Itulah sebabnya kemudian ia kulian di UIN sebagai calon guru Agama Islam.
Pulang dari Rumpin, di perjalanan turun hujan deras. Untung aku bawa jas hujan, setelah mampir di bengkel kosong tidak terpakai untuk memakai jas hujan, aku kembali meneruskan perjalanan menembus derasnya hujan. Di tempat poto copy depan mesjid Cicangkal aku mampir karena ada yang harus aku poto copy dan jilid.
Hujan pun reda, aku pulang tanpa jas hujan lagi.Jalanan tergenang air. Bahkan ada yang sampai seperti empang dalam dan panjang. Syukurlah pukul limaan sudah sampai di rumah lagi.
Idealnya catatan harian ini aku tulis hari Jumat atau sabtu kemarin, tapi kesibukanku membuat aku tak sempat menuliskannya. Hari Jum’at ini aku ada janji dengan Bu Susi pergi ke Kampus STKIP Kusuma Negara Cijantung Jakarta Timur. Mendadak kemarin sore Pak Toni bagian kepegawaian UPT. Kurikulum XVIII Kecamatan Rumpin meminta aku dan Bu Susi harus melengkapi persyaratan untuk naik golongan ke III A yang katanya harus segera dilengkapi, paling lambat hari Selasa 24 Januarai 2012 ini. Soalnya Senin kan hari libur nasional Imlek.

Pagi-pagi aku ke sekolah dulu untuk melaksanakan tugas mengajar, hari ini guru agama (Pak Nanda Iswara) tidak bisa masuk katanya. Ia memberi kabar lewat SMS, saudaranya meninggal dunia subuh tadi. Dua orang rekan guru di sekolahku melawat ke sana, aku tidak biasa meninggalkan sekolah, banyak pekerjaan persiapan akreditasi yang harus aku selesaikan dulu, sebelum jam Sembilan nanti aku izin pergi ke Kampus.

Pukul delapan tigapuluh menit kepala sekolah dating, seperti biasa, banyak yang dibicarakan dan dilaporkan hasil informasi kedinasannya. Terakhir beliau memanggil aku ke ruangannya, merencanakan diadakan pembicaraan khusus antara kepala sekolah dengan semua guru negeri hari ini. Duh sementara aku sendiri sudah janji jam Sembilan sudah harus berangkat ke statsiun kereta api Serpong. Aku janji bertemu bu Susi di sana.

Pukul Sembilan kepala sekolah dan tiga orang guru negeri termasuk aku, mengadakan rapat kecil di ruang musholah sekolah yang hasil alih fungsi dari perumahan penjaga sekolah menjadi tempat ibadah siswa. Banyak informasi yang disampaikan kepala sekolah, diantaranya ada rencana persiapan lomba siswa yang harus dilaksanakan seleksi di Gugus. Terus permohonan maaf karena pada triwulan satu ini, tepatnya di bulan pertama kepala sekolah baru, belum bias menaikan honor untuk guru sukwan, dan informasi tentang uang BOS yang sudah cair kemarin.

Dalam rapat kecil itu juga aku memohon izin secara lisan kepada kepala sekolah untuk pergi ke Kampus. Alhamdulillah kepala sekolah mengijinkan. Pukul Sembilan emparpuluh lima menit aku baru bisa meninggalkan tugas di sekolah, izin pergi ke statsiun kereta api Serpong untuk kemudian naik kereta ke Pondok Ranji, sebelum melanjutkan naik angkot ke ciputat dan lanjut ke Pasar Rebo. Dari pasar Rebo baru naik angkot ke Kampus.

Bersama Bu Susi aku berangkat berdua. Bu Susi adalah teman kuliah aku satu angkatan. Lulus tahun 2008, dan kini sudah sama-sama diangkat jadi pegawai negeri. Bedanya aku lulus tes seleksi PNS 2005, sedangkan bu Susi diangkat Otomatis oleh pemerintah tahun 2008, karena ia termasuk salah seorang guru bantu. Tahun 2008 itu memang banyak sekali guru bantu (GBS) yang diangkat langsung oleh pemerintah menjadi pegawai negeri. Dan Bu Susi adalah salah satunya.

Lama tidak ke Kampus tercinta STKIP Kusuma Negara, ternyata perubahannya sangat pesat sekali. Ruang TU dan administrasi yang tadinya di lantai dua, sekarang sudah pindah semuanya di lantai dasar. Ruang ini waktu terakhir aku kuliah, bahkan menjelang wisuda, masih berantakan dan bahkan dipakai untuk para pedagang kuliner menjual dagangannya. Sekarang sudah jadi ruang-ruang kerja yang mengurusi keuangan, legalisir dan administrasi surat-menyurat.

Aku tidak shalat jum’at hari ini, karena sampai di kampus orang-orang baru saja selesai shalat. Itupula yang kemudian aku harus menunggu ruangan TU dibuka, karena masih masuk waktu istirahat. Menunggu di depan ruang Kasir cukup lama, akhirnya kami ke loket adiministrasi untuk meminta surat keterangan kuliah seperti yang diminta Pak Toni kemarin. Alhamdulillah loket sudah buka. Sambil menunggu kami bagi tugas. Bu Susi tetap di loket pembuatan surat keterangan, sedangkan aku kemabali ke loket tempat menyerahkan copy ijazah untuk legalisir.

Surat keterangan hari ini dapat selesai, sementara legalisir ijazah baru bisa diambil setelah tiga hari dari hari ini. Berarti sekitar hari Minggu lusa.

Setelah makan siang dengan nasi soto ayam, aku dan bu Susi shalat dhuhur di Mesjid kampus. Waktu sudah pukul dua sore. Tidak banyak perubahan di sekitar mesjid Jenderal Sudirman ini dari sejak aku kuliah dulu. Banyak siswa yayasan Jenderal Sudirman yang sedang berlatih Yudo, dan basket di pelataran mesjid. Dan aku shalat di dalam.

Setelah selesai kami meninggalkan pelataran kampus. Di jalan depan gerbang halte kampus ada seorang ibu-ibu mahasiswa STKIP Kusuma Negara Jurusan Bahasa Inggris yang sedang persiapan sidang skripsi. Tadi dia juga ketemu kami sih di di depan ruang TU. Karena belum faham rute pulang ke Kebayoran akhirnya ia ikut bareng dengan kami, dan akan turun di terminal Lebak Bulus. Banyak hal yang ia tanyakan mengenai skripsi dan sidang. Aku dan Bu Susi melayani dengan jawaban-jawaban sesuai dengan pertanyaanya. Duh jadi ingat situasi jelang sidang skripsi dulu. Tegangnya jadi terasa lagi.

Pukul lima tiga puluh sore aku baru sampai ke rumah. Aku dan Bu Susi berpisah di tempat penitipan motor di sekitar Statsiun Serpong. Jalur yang kami tempuh untuk pulang berbeda arah, Bu Susi nampaknya mau lewat Muncul. Sedangkan aku lewat Cisauk. Alhamdulillah semua lancar, hanya sedikit lama menunggu kereta di Pondok Ranji. Hampir satu jam kami di situ.

Sunday, 15 January 2012

PUISI TENTANG AKU

AKU BUKAN ILALANG
(RudiS.Pd)

AKU BUKAN ILALANG

Merumpun aku diantara kalian
Coba tunjukan identitas yang aku punya
Tumbuh bersama kalian di padang kehidupan
Meski mungkin tak sehebat kalian
Daunku tak memberi guna bagi siapa-siapa
Tapi aku bukan ilalang
Yang menjadi gulma di kebun-kebun palawija
Menghalangi rumput meraih mentari
Membuat petani kesal atas rimbun daunku yang tinggi
Tapi tetap aku bukan ilalang

Aku ingin menjadi jamu segala penyakit pertiwiku
Bersama umbi-umbian yang bisa memberi karbohidrat
Yang dapat tumbuh dikebun petani sebagai harapan
Meski tak banyak yang aku punya
Tapi tetap aku bukan ilalang
Bukan rumput liar yang dimusnahkan dengan percikan api
Dihalau dengan bajak dan cangkul petani
Meski aku sadar, aku tak sehebat kalian
Tak mamu memberikan asa di saat balada menjadi duka.

WANITA DI MATA LAKI-LAKI (HUMOR RINGAN ALA RUDI)

RUDI,S.Pd

Maaf kalau saat ini aku bicara soal wanita. Soalnya, bagi laki-laki normal mahluk paling menarik untuk diperbincangkan adalah wanita. Keculai bagi laki-laki yang tidak normal, misalnya lelaki jadi-jadian, atau laki-laki setengah perempuan.

Wanita artinya Wajahnya Nikmat dipandang maTa. Karena kenikmatannya, maka kecantikan wanita sering dijadikan sumber pencuci mata kaum laki-laki. Hal itu mengidentifikasikan bahwa mata laki-laki termasuk benda yang cukup kotor, sehingga harus dicuci.

Wanita adalah mahluk berkepribadian halus, tapi bukan termasuk mahluk halus, sebab kehalusan wanita hanya untuk dielus-elus. Itu pun bagi seorang laki-laki yang dicintainya dengan tulus. Sebab kalau sembarangan elus, bisa ditinju sampai mampus.

Wanita adalah mahluk lembut, tapi bukan termasuk golongan leuleumbut. Ia senang dirayu dengan rayuan gombal. Ia lebih suka disebuat berwajah cantik bagai bunga melati. Ketimbang dinilai jujur oleh pasangannya. Padahal tidak ada satu pun wajah wanita yang bentuknya seperti bunga melati yang mekar berkelompak. Atau monyong saat kuncup.

Wanita lebih suka dengan lelaki pembohong dibanding dengan lelaki jujur. Wanita lebih suka dinilai sebaliknya dibanding dengan kenyataannya. “kau cantik” padahal jelek. “Kau manis” padahal asem atau pait. “Kau ayu” padahal mirip yuyu (kepiting). “Kau anggun” padahal tomboy mirip koboy. “Kau harum” adahal baunya minta ampun.

Wanita senang dipuji “duh ternyata kamu pintar yah” walau pun kenyataannya ketika diajak biacara banyak tidak nyambungnya. “Penampilanmu sungguh anggun pagi ini…” padahal kenyataannya ia berpenampilan seperti badut. Ia senang dipuja oleh pasangannya. Dan paling benci kalau pasangannya berkata jujur. Dia akan marah jika dikoreksi karena memakai lipstick terlalu tebal. Ia akan uring-uringan jika dikoreksi karena bau parfumnya terlalu tajam, sehingga membuat semua orang yang dekat dengannya bersin-bersin.

Wanita memang mahluk aneh. Jika dandan akan berlama-lama didepan kaca, dan mengacak-acak pakaian di lemari untuk memilih model dan warna gaun yang dianggapnya cocok untuk dipakainya. Walau pun hasilnya tetap saja baju yang itu itu saja yang sering dipakainya, karena memang hanya itu baju yang ia punya.

Laki-laki yang pintar sangat suka dengan wanita yang bodoh, sebab gampang dibodoh-bodohi. Laki-laki yang bodoh adalah laki-laki yang tidak menyukai wanita. Dan bagi wanita yang bodoh maka ia kan sering ditipu oleh lelaki. Dan laki-laki yang suka menipu wanita biasanya laki-laki yang tidak suka dengan wanita.

Wanita paling suka dipuji hasil masakkannya. Walaupun kenyataannya ia tidak bisa memasak. Tapi demi pujian itu, wanita akan berusaha mencari resep memasak untuk diperagakannya saat pasangannya akan berkunjung ke rumah. Dengan pertanyaan klasik setiap wanita akan memaksa pasangannya memberi pujian, “bagaimana rasanya mas…? Ini boleh memasak aku sendiri loch.” Anehnya tatapan mata dan senyumannya seperti memaksa pasangannya untuk berkata “enak sekali.” Walau pun sebenarnya sejak mulai tersentuh lidah di sendok pertama, mulut sudah meronta untuk memuntahkannya. “nanti aku bungkus untuk ibumu yah…?” Waw membuat pasangannya kemudian harus berpikir untuk mampir ditempat pembuangan sampah mana untuk menitipkan masakan wanita itu sebelum disantap kucing yang belum juga tentu berselera mekannya.

Wanita mahluk manja, alias maunya selalu jajan. Tapi wanita memang diciptakan Tuhan husus untuk mendapingi laki-laki. Walau terkadang ia juga harus mendapingi anaknya yang bukan laki-laki pergi ke sekolah.